Sabtu, 10 Desember 2011

PERILAKU KONSUMEN


BAB I
PENDAHULUAN

A.     LATAR BELAKANG
Konsumsi adalah titik pangkal dan tujuan akhir seluruh kegiatan ekonomi masyarakat. Kalau produksi diartikan “inenciptakan utility” dalam bentuk harang dan jasa yang dapat memenuhi kebutuhan manusia, maka konsumsi berarti memakai/menggunakan utility itu untuk memenuhi kebutuhan. Mungkin saja terjadi orang dapat memenuhi (sebagian) kebutuhannya dengan jalan Iangsung dan rnudah. Bila kita tinggal mengambil ubi atau sayuran dan kebun sendiri, proses produksi dan konsurnsinya sederhana. Tetapi dalam masyarakat modern. dengan pembagian kerja dan penggunaan Hang. proses tersebut menjadi jauh lebih berbelit-belit. Orang harus mencari pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan, kemudian dan penghasilannya itu baru dapat membeli barang dan jasa yang dihutuhkan. Meskipun jelas betapa penting konsumsi itu, namun dalam teori ekonomi masalah konsumsi lama sekali diabaikan. Asal ada barang yang dihasilkan, tentu akan ada orang yang mau membelinya, kira-kira demikianlah cara berpikir orang. Maka perhatian para ahli ekonorni lebih diarahkan pada segi produksi dan segala persoalannya. Tetapi pada jaman modern semakin jelas bahwa tidak selalu ada perrnintaan akan barang yang dihasilkan. Produksi massa juga memerlukan konsumsi massa. Oleh karena itu para produsen mulai mencari jalai bagairnana dapat mempengaruhi konsumen untuk meinheli harangnya. Maka timbullah usaha marketing, sales promotion dan perikianan
Perilaku konsumen adalah proses dan aktivitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan, serta pengevaluasian produk dan jasa demi memenuhi kebutuhan dan keinginan. Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian.Untuk barang berharga jual rendah (low-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan mudah, sedangkan untuk barang berharga jual tinggi (high-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan dengan pertimbangan yang matang.


















BAB II
PEMBAHASAN

A.            PENGERTIAN PERILAKU KONSUMEN
Perilaku konsumen adalah proses dan aktivitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan, serta pengevaluasian produk dan jasa demi memenuhi kebutuhan dan keinginan. Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian.Untuk barang berharga jual rendah (low-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan mudah, sedangkan untuk barang berharga jual tinggi (high-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan dengan pertimbangan yang matang.
Pemahaman akan perilaku konsumen dapat diaplikasikan dalam beberapa hal, yang pertama adalah untuk merancang sebuah strategi pemasaran yang baik, misalnya menentukan kapan saat yang tepat perusahaan memberikan diskon untuk menarik pembeli.Kedua, perilaku konsumen dapat membantu pembuat keputusan membuat kebijakan publik. Misalnya dengan mengetahui bahwa konsumen akan banyak menggunakan transportasi saat lebaran, pembuat keputusan dapat merencanakan harga tiket transportasi di hari raya tersebut. Aplikasi ketiga adalah dalam hal pemasaran sosial (social marketing), yaitu penyebaran ide di antara konsumen. Dengan memahami sikap konsumen dalam menghadapi sesuatu, seseorang dapat menyebarkan ide dengan lebih cepat dan efektif
B.            PERSOALAN EKONOMI KONSUMEN
Pokok persoalan ekonomi yang dihadapi oleb setiap orang dan setiap keluarga dapat dirumuskan: orang ingin hidup layak sebagai manusia dan sebagai warga masyarakat. Untuk itu dibutuhkan bermacam-macam barang dan jasa: makanan, pakaian, rumah, obat, sepatu, radio, pengangkutan mi semuatidak ‘gratis jatuh dan langit, melainkan harus dibeli, karena harus diproduksi dahulu. Untuk dapat membeli semuanya itu diperlukan uang, sebab kita harus membayar harganya.
Jadi seorang konsumen atau suatu keluarga di satu pihak berhadapan dcngan KEBUTUHAN KEBUTUHAN HIDUP yang harus dipenuhi, dan yang menentukan apa dan berapa yang ingin dibeli. Di lain pihak dihadapkan dengan HARGA YANG HARUS DIBAYAR serta TERBATASNYA PENGHASILAN yang membatasi apa dan berapa yang dapat dibeli. Maka persoalannya ialah: bagaimana dengan penghasilan yang tertentu dan terbatas orang dapat memenuhi semua kebutuhan-kebutuhan hidupnya dengan sebaik mungkin. MenghadapI persolan ini, seorang konsumen harus bertindak bijaksana dalam mempergunakan dan membelanjakan uangnya. Bertindak ekonomis diartikan “mempertimbangkan hasil dan pengorbanan “. HASIL yaitu terpenuhnya kebutuhan-kebutuhan yang dirasakan, yaitu karena kegunaan harang/jasa yang dikonsumsikan
Terpenuhinya kebutuhan itu menimbulkaji suatu rasa kepuasan, Maka hasil yang kita peroleh dan konsumsi barang/jasa biasanya disebut kepuasan (satisfaction) Kemampuan barang/jasa untuk memenuhj kebutuhan manusii disebut (utility).
PENGORBANAN yaitu harga yang harus dibayar atau ‘usaha’ (kerja, waktu, dll.) yang perlu dicurahkan untuk memperoleh harang/jasa yang dibutuhkan.
Demikianlah pola kebutuhan, bersama dengan besarnya penghasjlan dan tingkat harga menentukan bagaimana para konsumen membelanjakan uangnya. Jika ada perubahan dalain pola kebutuhan keluarga (apa dan berapa yang dibutuhkan, misalnya karena ada tambahan anggota keluarga) atau perubahan dalam tingkat harga barang, atau dalam besarnya penghasilan, maka akan ada pula perubahan dalam pengeluaran para konsumen, agar kebutuhan konsumen terpenuhj sebaik mungkin atau secara Optimal Persoalan ekonomi rumahtangga Kita mau menyelidiki apa pertimbangan-pertimbangan konsumen dalam membelanjakan uang penghasilannya, dan berapa yang akan dibelinya pada berbagai tingkat harga. Hal mi penting sekali, tidak hanya demi kesejahteraan keluarga kita sendiri saja, tetapi juga untuk masyarakat sebagai keseluruhan. Sebab pembelanjaan para konsumen ikut menentukan apa dan berapa yang dihasilkan oleh dunia produksi. Dan mi selanjutnya berpengaruh terhadap kesempatan kerja dan tingkat pendapatan nasional. Sebab produksi dan konsumsi saling berhubungan.

C.          TEORI PERILAKU KONSUMEN
Pada dasarnya ada dua model atau pendekatan dalam teori yang mau menjelaskan peri-Jaku konsumen, yaitu yang dikenal dengan nama Marginal Utility dan mdiferensi. Dua-duanya pada dasarnya mencoba menjelaskan hukum permintaan, dengan cara menelusuri apa yang ada di balik kurve permintaan itu (yang tidak dan belum dijelaskan dengan income-effect dan substitution effect).
            Teori UTILITY berpangkal dan ‘hasil’ yang diperoleh konsumen bila ia membelanjakan uangnya untuk membeli barang dan jasa, yaitu terpenuhnya kebutuhan karena utility atau manfaat barang yang dikonsumsikan. Menurut teoni ini seorang konsumen yang bertindak secama rasional akan membagi-bagikan pengeluarannya atas bermacam-ragam barang sedemikian rupa sehingga tambahan kepuasan yang diperoleh per rupiah yang dibelanjakan itu sebesar mungkin.
            Teori INDIFERENSI merupakan penyempurnaan dari teori utility tetapi mendekati pokok persoalan yang sama dengan cara yang sedikit berbeda. Menurut teori ini seorang konsumen akan membagi-bagi pengeluarannya atas berbagai macam barang sedemikian rupa sehingga ia mencapai taraf pemenuhan kebutuhan yang terbaik ( maksimal atau optimal) yang mungkin dicapainya sesuai dengan penghasilan yang tersedia dan harga-harga yang berlaku. Situasi yang paling cocok ( equilibrium) tercapai kalau penilaian subyektif konsumen terhadap barang itu sesuai dengan harga obyektif yang belaku dalam masyarakat.
D.          MENGANALISIS PERILAKU KONSUMEN
Dalam menganalisis perilaku konsumen, para ahli ekonomi biasanya mengandaikan hal-hal berikut ini:
1. bahwa para konsumen sudah mengetahui sendiri apa yang dibutuhkan dan apa yang mau dibelinya;
2. bahwa konsumen dapat mengatur (membanding-bandingkan dan mengurutkan) kebutuhan-kebutuhannya menurut penting atau mendesaknya.
3. bahwa para konsumen benusaha mencapai taraf pemenuhan kebutuhan yang “sebaik mungkin” (optimal) atau setinggi-tingginya (maksimal).
4. bahwa barang yang satu, sampai batas tertentu, dapat menggantikan barang yang lain ( substitusi).
Dengan lain kala. diandaikan bahwa seorang konsumen bertindak secara rasional meskipun kita sadari dalam kenyataannya para konsumen belum tentu selalu bertindak rasional. Bertindak rasional di sini diartikan bahwa pendapatan yang terbatas akan mendorong orang untuk ber-ekonomi dan rnemilih memutuskan untuk membeli barang yang satu (bukan barang yang lain) atau membeli lehih banyak dan barang yang satu (bukan barang lain) berdasarkan pertimbangan mana yang akan dapat memenuhi kebutuhan/keinginannya dengan paling baik.
E.     KONSUMEN DAN MANFAAT BARANG UTILITY
Seorang konsumen yang bertindak ekonomis pasti mempertimbangkan pengorbanan, yaitu HARGA yang harus dihayar, dan hasil, yailu MANFAAT atau kepuasan yang diperoleh dari pengeluaran uang itu. Dalam hal ini akan ditinjau segi yang kedua, yaitu kepuasan yang ditimbulkan oleh manfaat (utility) barang/jasa yang dikonsumsikan. Sebab ternyata ada hubungan tertentu antara jumlah barang yang dikonsumsikan dan manfaat kepuasan yang diperoleh daripadanya. Hal ini berpengaruh terhadap perilaku konsumen, khususnya berapa yang akan dibelinya dari harang/jasa tertentu. Untuk mempermudah pengertian, kita pelajari dulu hagaimana perilaku konsumen terhadap satu macan barang saja. Dalam hal ini pertimbangan besarnya penghasilan tidak hegitu menentukan, sehingga perhatian sepenuhnya dapat dicurahkan pada persoalan perbandingan harga barang dan manfaatnya hagi konsumen. Kemudian dilengkapi dengan memperhatikan perilaku konsumen lerhadap berbagai macam barang. di mana besarnya pendapatan serta pembagian pendapatan atas berbagai macam barang itu akan mendapat sorotan.

F.        HUKUM TAMBAHAN KEPUASAN YANG TIDAK PROPORSIONAL
Pertanyaan pertama yang harus dijawab ialah: apa yang terjadi dengan kepuasan, jika kita membeli lebih banyak dari suatu barang tertentu? Dilihat sepintas kilas, jawaban atas pertanyaan tsb. jelas: Kalau jumlah barang yang dikonsumsikan bertarnbah hanyak, kepuasan yang diperoleh dari konsumsi barang tsb. tentunya akan bertambah juga, karena kebutuhan kita semakin terpenuhi.Tetapi pengalaman mungkin menunjukkan lain!
Hubungan antara jumlah dan kegunaan suatu barang
Kalau seseorang hanya mempunyai satu baju yang baik, maka manfaat baju yang satu itu (dan penilaiannya terhadap baju itu) amat besar. Kalau baju yang satu itu sobek, ia akan sungguh merasa susah. Apakah Ia segera akan membeli baju lain? Tentu. Karena sungguh dibutuhkan. Meskipun harus membayar harga cukup mahal.
Tetapi kalau masih ada persediaan 10 baju yang baik di almari, manfaat dan satu potong baju itu tidak dirasakan begitu besar. Kalau ada satu yang sobek, mungkin ditanggapi dengan “nggak apa-apa, kan masih banyak lainnya”. Apakah ia segera akan membeli satu lagi? Untuk apa? Lebih baik uang dipakai untuk membeli yang lain-lain.
Demikian halnya dengan banyak barang lain pula: pakaian, sepatu, makanan, radio, mobil, bahkanjuga dengan uang untuk orang yang kaya uang Rp 10.000.- boleh dikaia lak herarti. tetapi untuk orang miskin.
Dari contoh-contoh ini ternyata ada suatu hubungan tertentu antara jumlah barang yang dikonsumsikan perjangka waktu tertentu dengan manfaat/utility barang itu bagi kita. Jika jumlah barang yang dikonsumsikan (perjangka waktu tertentu) bertambah banyak, kepuasan kita juga akan bertambah. tetapi belum tentu secara roporsional.
Utility atau daya-guna suatu barang, yang sebenarnya berarti kernampuan barang tersebut untuk memenuhi suatu kebutuhan manusia. Produksi nienciptakan kemampuan tersebut. Tetapi baru dirasakan apabila barang itu dikonsumsikan. (Jlehkarena itu pengertian utility dalarn analisis perilaku konsumen berarti. Manfaat yang dirasakan dan konsumsi suatu barang/jasa, kepuasan yang diperoleh daripadanya. dan dengan demikianjuga penghargaan konsumen terhadapnya. Jadi utility itu nierupakan sesuatu yang subyektif, tergantung orangnya atau melekat pada din konsumen, yaitu sejauh mann kebutuhannya terpenuhi dengan konsumsi barang/jasa tertentu
Kepuasan total dan kepuasan marginal
Untuk lebih dapat memahami hal itu, kita selidiki apa yang terjadi dengan kepuasan (= “utility” yang dirasakan konsumen) apabila jumlah barang tertentu yang dikonsumsikan (dalam jangka waktu tertentu) setiap kali ditambah dengan satu satuan.akan mengurangi nilai kepuasan dari barng itu. Sebagai contoh kita ambil: jumlah gelas teh yang diminum oleh seorang guru per satuan hari kerja.
Setelah bicara di muka kelas selarna sekian jam pelajaran, pak guru merasa haus. Syukur di kamar guru disediakan minuman teh. Satu gelas teh dirasakan amat besar manfaat utility-nya. Kalau disediakan lebih dan satu gelas, pak guru juga mau. Tetapi minum enam atau tujuh gelas teh tidak perlu. Gelas teh ke-5 saja sudah tidak ada gunanya bagi pak guru. karena sudah tidak memenuhi suatu kebutuhan.
Hubungan antara jumlah barang yang dikonsumsikan (dalam contoh ini: jumlah gelas teh yang diminum per han kerja) dan kepuasan yang diperoleh dan konsumsi untuk yang dengan istilah teknis kita sebut utility, supaya lebih kelihatan hagaimana ‘jalannya’ kepuasan jika konsumsi ditamhah. Untuk itu pada sumbu horisontal (sumbu X) kita ukur banyaknya barang yang dikonsumsikan (per jangka waktu tertentu), sedang pada sumbu tegak (sumbu Y) diukur tinggi rendahnya kepuasan atau utility. Dengan minum satu gelas teh per han kerja, pak guru mendapat kepuasan tertentu. Sebenarnya kepuasan itu hal yang subyektif sekali yang sukar dikuantitatifkan: namun kita gambarkan seakan-akan dapat diukur secara tepat, misalnya 6 satuan utility. Dengan minum satu gelas lagi ( gelas ke-2), maka kepuasan (total) bertarnbah minum dua gelas lebih puas daripada minum satu gelas saja, meskipun mungkin sukar dikatakan berapa lebih puasnya. Katakan saja gelas ke-2 menyumbangkan kepuasan/ utility sebesar 4 satuan. Dengan demikian kepuasan total menjadi 10 satuan (6+ 4), yaitu karena gelas ke-2 menambahkan 4 satuan utility.
Hukum Gossen ke-I atau LDMU
Gejala tambahan kepuasan yang tidak proporsional ini pertama kali dikemukakan oleh seorang ahli ekonomi Jerman yang bernarna Hermann Heinrich Gossen (1810 — 1859), kemudian dikembangkan oleh W.S.Jevons, K. Menger, L. Wairas dan A. Mar shall. Sekarang dikenal dengan narna Hukum Gossen ke-I atau Law of Diminishing Marginal Utility (LMDU).
Hukum tersebut dapat dirumuskan sbb. Jika jumlah suatu harang yang dikonsumsikan dalain jangka waktu tertentu ditambah, maka kepuasan total (Total Utility) yang diperoleh memang bertambah, tetapi mulai saat tertentu —Marginal Utility (tambahan kepuasan yang diperoleh jika konsumsi ditambah dengan satu satuan) semakin berkurang.Dengan kata lain tambahan kepuasan (yang diperoleh dan tambahan jumlah barang yang dikonsumsikan itu) tidak proporsional (= tidak sebanding) dengan tambahan jumlah barang yang dikonsumsikan. Dikatakan “mulai saat tertentu” karena mungkin terjadi tambahan kepuasan yang diperoleh dan unit ke-2 lebih besar daripada yang diperoleh dan unit ke- I. Tetapi pada suatu saat hukum mi akan mulai berlaku pula. Gejala tambahan kepuasan yang tidak proporsional ini sebenarnya merupakan gejala psikologis. Namun menipunyai akibat yang penting di bidang ekonomi, karena berpengaruh terhadap tingkah-laku konsumen dan bentuk kurve perrnintaan, dan dengan demikian pula terhadap harga barang.
G.            MARGINAL UTILITY DAN HARGA BARANG
Jika konsumsi ditambah dengan satu satuan, Marginal Utility (tambahan kepuas an yang diperoleh dari tambahan satu satuan barang itu) akan semakin berkurang — demikianlah inti dan pembahasan di atas. Tetapi menambah konsumsi dengan satu satuan itu umumnya tidak ‘gratis’. Barang yang dikonsumsi itu harus dibeli dan dibayar. Maka dalam mempertimbangkan apakah konsumsi akan ditambah lagi dengan satu satuan (dalam arti membeli Iebih banyak dan barang yang sama), seorang konsumen yang rasional mesti mempertimbangkan:
Hasil = tambahan kepuasan yang dipenoleh = Marginal Utility
PENGORRANAN = tambahan biaya = harga yang harus dibayar
Paradox of value
Pengertian Marginal Utility merupakan kunci untuk memecahkan pertanyaan atau teka-teki yang sangat terkenal dalam sejarah ilmu ekonomi, yang telah diajukan oleh Adam Smith tetapi tidak dapat dijawabnya: Apa sebabnya air— yang merupakan barang yang sangat berguna bahkan mutlak perlu untuk hidup — tidak berharga, sedangkan batu intan — yang manfaatnya sangat terbatas dan tidak perlu untuk hidup —justru tinggi sekali harganya?? Kelihatannya mi sesuatu yang bertentangan (maka disebut “paradox”). Kan untuk memperoleh barang yang berguna kita mesti harus membayar harga yang tinggi. Jawaban atas teka-teki tersebut harus dicari dalam perbedaan antara Total Utility dan Marginal Utility. Utility Total dan air holeh dikata tak tcrhingga. Tetapi umumnya air tersedia dalam jumlah yang begitu rnelimpah sehingga Marginal Utilitynya praktis sama dengan 0. Padahal, penilaian orang terhadap air itu ditentukan oleh satuan terakhir (marginal): kalau air melimpah, kehilangan beberapa unit dinilai tidak apa-apa. Tetapi situasi mi berubahjika air menjadi barang Iangka, seperti di daerah-daerah yang kekurangan air. Di sana air minum per liter mungkin lehih mahal daripada bensin per liter. Karenajumlah yang tersedia hanya sedikit, setiap liter air menjadi barang ber harga, yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang paling penting seperti untuk minum dan niemasak. Batu intan sebaliknya sangat langka, dan untuk memperolehnya, apalagi untuk me nambahnya diperlukan biaya yang tidak sedikit. Maka MU-nya tinggi, dan orang ber sedia membayar harga yang mahal untuk memperolehnya. Ingat juga perbedaan antara barang ekonomi dan barang bebas. Barang ekonomi adalah ‘terbatas’, tersedia dalam jumlah yang kurang daripada yang dibutuhkan untuk semua orang, dan perlu di-usaha-kan. Oleh karena itu diperjualbelikan dengan harga tertentu. Tetapi barang bebas tersedia dalam jumlah melimpah sehingga tidak ada harganya dan tidak diperjualbelikan. Total Utilitynya mungkin sangat hesar, tetapi Marginal Utililty sama dengan 0. Hukum Gossen ke-Il atau keseimbangan konsumen
Prinsip dasar dirumuskan dalam Hukum Gossen ke-Il, yang pada pokoknya mengatakan:
” Seorang konsumen yang bertindak rasional akan membagi-bagi pengeluaran uangnva untuk membeli berbagai macam barang sedemikian rupa sehingga kebutuhan-kehutuhannva terpenuhi secara seimbang, artinya sedemikian rupa sehingga rupiah terakhir yang dibelanjakan untuk membeli sesuatu memberikan marginal utility yang sama, entah dikeluarkan untuk membeli barang yang satu atau untuk membeli barang yang lain”. Jalan pikiran dapat diringkas sbb.:
Keputusan untuk membeli suatu barang tertentu (banang A) didasarkan atas perbandingan antara Marginal Utility (manfaat, kepuasan) yang diperoleh dan konsumsi barang tsb., dan harga yang harus dihayar untuk memperolehnya. Perbandingan tsb. dapat ditulis: atau dengan kata lain: MU per Rp yang dikeluarkan.

Faktor-faktor yang ikut mempengaruhi perilaku konsumen
1. Faktor individual: Setiap orang mempunyai sifat, bakat, minat, motivasi dan selera sendiri. Pola konsumsi mungkin juga dipengaruhi oleh faktor emosional. Sebagian hal ini memerlukan bantuan ilmu psikologi untuk menjelaskannya. Tetapi ada juga faktor obyektif, seperti umur, kelompok umur (anak, remaja, dewasa, berkeluarga) dan lingkungan yang mempengaruhi tidak hanya apa yang dikonsumsikan tetapi juga kapan, berapa, model-modelnya, dan sebagainya.
2. Faktor ekonomi: Selain harga barang, pendapatan konsumen dan adanya sub stitusi, dan ada beberapa hal lain yang ikut berpengaruh terhadap permintaan sese orang/keluarga:
·        lingkungan fisik (panas, dingin, basah, keririg, dsh.)
·        kekayaan yang sudah dimiliki
·        pandangan/harapan mengenai penghasilan di masa yang akan datang dan besarnya jumlah keluarga (keluarga inti, program KB)
·        tersedia atau tidak kredit murah untuk konsumsi (koperasi,bank)
3. Faktor sosial orang hidup dalam masyarakat, harus menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Telah disebutkan bahwa gaya hidup orang kaya menjadi contoh yang suka ditiru oleh golongan masyarakat lainnya (demonstration effect) pada hal pola konsumsi golongan kaya sebagian hanya untuk pamer (conspicuous consumption) karena barang dibeli justru karena mahal. Dalam masyarakat kita unsur ‘tidak mau kalah dengan tetangga’ masih amat kuat ! Juga pengaruh iklan ternyata kuat sekali.
4. Faktor kebudayaan, Pertimbangan berdasarkan agania dan adat kebiasaan dapat membuat keputusan untuk konsumsi jauh berbeda dengan apa yang diandakan dalarn teori. Misalnya keperluan korban, pakaian, peringatan han ke-7, ke-35, ke 100, dan ke- 1000 bagi orang yang telah meninggal, kebiasaan berhutang, tersedianya uang karena kehetulan mendapat giliran arisan, dsb.
Standard hidup (standard of living)
Standar hidup sering dipakai sebagai ukuran untuk membandingkan tingkat kese jahteraan antara berbagai bangsa (atau antara berbagai golongan di dalam batas satu negara). Standar hidup merupakan semacam pedoman tentang apa yang dipandang sebagai taraf hidup (rata-rata) yang layak, wajar atau pantas, oleh karena itu dikejar oleh perorangan/keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Salah satu hasil yang diharapkan dalam usaha pembangunan ekonomi nasional adalah meningkatnya taraf hi dup masyarakat: kehutuhan dasar terpenuhi secara merata bagi seluruh rakyat (GBHN). Taraf hidup yang kenyataannya tercapai mungkin masih jauh di bawah standar yang digariskan. Taraf hidup menunjukkan pada barang dan jasa yang secara nyata di konsumsi oleh masyarakat. Biaya hidup menunjuk pada jumlah pengeluaran uang untuk membeli kebutuhan hidup sehari-hari. Salah satu contoh standar hidup minimal adalah Kebutuhan Fisik Minim (KFM) seperti yang disusun oleh Departemen Tenaga Kerja. KFM mencakup biaya hidup minimal yang diperlukan (otch bujang, keluarga dengan 2 atau 3 anak) agar dapat dj sebut hidup layak. Kenyataannya masih banyak tenaga buruh mendapat upah kurang dan KFM-nya

H.          POLA PENGELUARAN KONSUMSI
Agar pembahasan tentang perilaku konsumen cukup realistik baiklah kita per hatikan hagaimana ke masyarakat kita mengeluarkan uangnya untuk kon sumsi. Di atas sudah disinggung hahwa ada hanyak faktor yang ikut meinpengaruhi hagai maria dan untuk apa para konsurnen membelanjakan pendapatan mereka: hesar iva kehi illulir angeota keluarga. setera dan kehiasaan, lingkungan sosial, kebijaksanaan dalam mengatur keuangan keluarga, dli. Tetapi dalam masyarakat kita faktor yang mungkin terpenting adalah: berapa penghasilan yang tersediabagi keluarga itu, dan bagaimana pembagian pendapatan nasional di antara para warga masyarakat. Ukuran yang paling umum dipakai untuk menunj ukkan tingkat kemakmuran suatu bangsa adaiah pendapatan per kapita, yaitu pendapatan nasional dibagi jumlah pen duduk. Pendapatan per kapita Indonesia pada tahun 1985 tclah mencapai sekitar $ 530. Angka mi adaiah angka rata-rata, yang belum mengatakari apa-apa mengenai pembagian pendapatan di antara para warga masyarakat. Kenyataannya ada perbedaan yang menyolok dalam hal besarnya pendapatan yang dinikmati oleh berbagai orang dan golongan dalam masyarakat. Juga terdapat perbedaan hesar antara daerah kota dengan daerah pedesaan, serta antara daerah yang satu dengan daerah yang lain.



0 komentar:

Poskan Komentar