Selasa, 26 Maret 2013

Antropologi Agama Klasik dan Modern



AGAMA KLASIK DAN MODERN
(Pendekatan Kebudayaan Terhadap Agama)



BAB I
PENDAHULUAN

Fenomena agama adalah fenomena universal manusia. Selama ini belum ada laporan penelitian dan kajian yang menyatakan bahwa ada sebuah masyarakat yang tidak mempunyai konsep tentang agama. Walaupun peristiwa perubahan sosial telah mengubah orientasi dan makna agama, hal itu tidak berhasil meniadakan eksistensi agama dalam masyarakat. Sehingga kajian tentang agama selalu akan terus berkembang dan menjadi kajian yang penting. Karena sifat universalitas agama dalam masyarakat, maka kajian tentang masyarakat tidak akan lengkap tanpa melihat agama sebagai salah satu faktornya. Seringkali kajian tentang politik, ekonomi dan perubahan sosial dalam suatu masyarakat melupakan keberadaan agama sebagai salah satu faktor determinan. Tidak mengherankan jika hasil kajiannya tidak dapat menggambarkan realitas sosial yang lebih lengkap.[1][1]
Pernyataan bahwa agama adalah suatu fenomena abadi di dalam dan di sisi lain juga memberikan gambaran bahwa keberadaan agama tidak lepas dari pengaruh realitas di sekelilingnya. Seringkali praktik-praktik keagamaan pada suatu masyarakat dikembangkan dari doktrin ajaran agama dan kemudian disesuaikan dengan lingkungan budaya. Pertautan antara agama dan realitas budaya dimungkinkan terjadi karena agama tidak berada dalam realitas yang vakum-selalu original. Mengingkari keterpautan agama dengan realitas budaya berarti mengingkari realitas agama sendiri yang selalu berhubungan dengan manusia, yang pasti dilingkari oleh budayanya.
Kenyataan yang demikian itu juga memberikan arti bahwa perkembangan agama dalam sebuah masyarakat-baik dalam wacana dan praktis sosialnya-menunjukkan adanya unsur konstruksi manusia. Walaupun tentu pernyataan ini tidak berarti bahwa agama semata-mata ciptaan manusia, melainkan hubungan yang tidak bisa dielakkan antara konstruksi Tuhan-seperti yang tercermin dalam kitab-kitab suci-dan konstruksi manusia-terjemahan dan interpretasi dari nilai-nilai suci agama yang direpresentasikan pada praktek ritual keagamaan. Pada saat manusia melakukan interpretasi terhadap ajaran agama, maka mereka dipengaruhi oleh lingkungan budaya-primordial-yang telah melekat di dalam dirinya. Hal ini dapat menjelaskan kenapa interpretasi terhadap ajaran agama berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya. Kajian komparatif Islam di Indonesia dan Maroko yang dilakukan oleh Clifford Geertz misalnya membuktikan adanya pengaruh budaya dalam memahami Islam. Di Indonesia Islam menjelma menjadi suatu agama yang sinkretik, sementara di Maroko Islam mempunyai sifat yang agresif dan penuh gairah. Perbedaan manifestasi agama itu menunjukkan betapa realitas agama sangat dipengaruhi oleh lingkungan budaya.
Antropologi, sebagai sebuah ilmu yang mempelajari manusia, menjadi sangat penting untuk memahami agama. Antropologi mempelajari tentang manusia dan segala perilaku mereka untuk dapat memahami perbedaan kebudayaan manusia. Dibekali dengan pendekatan yang holistik dan komitmen antropology akan pemahaman tentang manusia, maka sesungguhnya antropologi merupakan ilmu yang penting untuk mempelajari agama dan interaksi sosialnya dengan berbagai budaya. Nurcholish Madjid mengungkapkan bahwa pendekatan antropologis sangat penting untuk memahami agama Islam, karena konsep manusia sebagai “khalifah” (wakil Tuhan) di bumi, misalnya, merupakan simbol akan pentingnya posisi manusia dalam Islam.
Di makalah ini saya mencoba menguraikan bagaimana Antropologi berperan penting dalam mengkaji Agama dan Budaya yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia berikut beberapa teori munculnya Agama dan perkembanganya.

BAB II
PENDEKATAN KEBUDAYAAN TERHADAP AGAMA

A.    Agama dan Kehidupan
Kehidupan beragama pada dasarnya merupakan kepercayaan terhadap  keyakinan adannya kekuatan gaib, luar biasa atau supernatural yang berpengaruh terhadap kehidupan individu dan masyarakat, bahkan terhadap segala gejala alam. Kepercayaan itu menimbulkan prilaku tertentu, seperti  berdoa, memuja dan lainnya, serta menimbulkan sikap tertentu, seperti rasa takut, rasa optimis, pasrah dan lainnya dari individu dan masyarakat yang mempercayainya.[2][2]  Karenanya, keinginan, petunjuk dan ketentuaan-ketentuan gaib harus dipatuhi kalau manusia dan masyarakat ingin kehidupan ini berjalan dengna baik dan selamat. Kepercayaan beragama yang bertolak dari kekuatan gaib ini tampak aneh, tidak alamiah dan tidak rasional dalam pandangan individu dan masyarakat modern yang terlalu dipengaruhi oleh pandangan bahwa sesuatu diyakini ada kalau konkret, rasional, alamiah atau terbukti secara empirik dan ilmiah.
Namun demikian, kehidupan beragama adalah kenyataan hidup manusia yang ditemukan sepanjang sejarah masyarakat dan kehidupan pribadinya. Ketergantungan masyarakat dan individu kepada kekuatan gaib ditemukan dari zaman purba sampai ke zaman modern ini. Kepercayaan itu diyakini kebenarannya sehingga ia menjadi kepercayaan keagamaan atau kepercayaan religius.
B.     Kajian Antropologi terhadap Agama
Kehidupan beragama ditelusuri dari zaman prasejarah sampai zaman modern. Banyak ahli antropologi melakukan penelitian dikalangan masyarakat primitif dengan tujuan untuk dapat memahami gejala kehidupan beragama yang masih murni karena kehidupan beragama masyarakat modern sudah campur aduk dengan kehidupan yang lain.
Antropologi klasik memahami gejala kehidupan beragama sebagai kebudayaan suatu masyarakat. Agama dipahami sebagai Human Creation, Human Made. Agama dilihat sebagai:[3][3]
1.             Ekspresi simbolis dari kehidupan manusia yang dengannya manusia menafsirkan dirinya dan universe disekelilingnya.
2.             Yang memberikan motif bagi perbuatan manusia.
3.             Sekumpulan tindakan yang berhubungan satu sama lain yang punya nilai-nilai yang melangsungkan kehidupan manusia.
Perhatian ahli antropologi dalam meneliti agama ditujukan untuk melihat keterkaitan faktor lingkungan alam, struktur sosial, struktur kekerabatan dan lain sebagainya terhadap timbulnya berbagai jenis agama, kepercayaan, upacara, organisasi keagamaan tertentu. Disamping itu juga ingin diketahui secara lebih detail tentang keterkaitan kepercayaan dan kehidupan beragama dengan institusi budaya yang lain seperti seni, ilmu pengetahuan, sistem ekonomi, hukum, politik dan lainnya.
C.    Objek Kajian Antropologi Agama
Agama yang dipelajari oleh antropologi adalah agama sebagai fenomena budaya, tidak ajaran agama yang datang dari Tuhan. Maka yang menjadi perhatian adalah beragamanya manusia dan masyarakat. Sebagai ilmu sosial, antropologi tidak membahas salah benarnya suatu agama dan segenap perangkatnya, seperti kepercayaan, ritual dan kepercayaan kepada yang sakral. Setiap unsur budaya terdiri dari tiga hal:[4][4]
1.         Norma, nilai, keyakinan yang ada dalam pikiran, hati dan perasaan manusia pemilik kebudayaan tersebut,
2.         Pola tingkah laku yang dapat diamati dalam kehidupan nyata,
3.         Dan hasil material dan kreasi, pikiran dan perasaan manusia.
Demikian juga agama sebagai fenomena budaya, ia ditemukan dalam bentuk keyakianan, prilaku dan benda-benda konkret yang dihasilkan oleh manusia dan masyarakat beragama.
Harsojo mengungkapkan bahwa kajian antropologi terhadap agama dari dahulu sampai sekarang meliputi empat masalah pokok, yaitu: dasar-dasar fundamental dari agama dan tempatnya dalam kehidupan manusia, bagaimana manusia yang hidup bermasyarakat memenuhi kebutuhan religius mereka? dari mana asal uasul agama? bagaimana manifestasi perasaan dan kebutuhan religius manusia?[5][5]
Penelusuran terhadap asal-usul agama secara universal tidak akan mungkindicapai karena karakteristik ajaran dan umat beragama sangat banyak dan sangat berbeda satu sama lain. Mendasarkan pendapat tentang asal-usul agama pada data keagamaan masyarakat primitif sungguh tidak representatif, bahkan salah kaprah karena agama-agama besar dunia sangat berbeda dengan agama masyarakat primitif. Kemudian penelusuran secara ilmiah terhadap kepercayaan beragama, menuntut bukti yang rasional empirik, dan berikutnya menuntut kesimpulan yang rasional empirik. Mengatakan agama dari tuhan tentu tidak empirik. Karena itu Durkheim mengatakan bahwa asal-usul agama adalah masyarakat itu sendiri. Beragama Human Made dan Human Creation. Selain itu, mengatakan demikian asal-usul agama tidaklah sesuai dengan apa yang ada dalam keyakinan dan pikiran umat beragama karena menurut mereka agama adalah ajaran Tuhan.[6][6] Walaupun kemudian disamaikan dan diolah atau diijtihadkan oleh pemuka agama, asal bahan yang diolah dan diijtihadkan itu tetap dari wahyu Tuhan. Kesimpulan agama dari Tuhan sesuai dengan metode verstehen, dengan pendekatan fenomenologis yang merupakan ciri pendekatan antropologi.

D.    Pendekatan Antropologi Agama 
Pendekatan antropologi tidak menjawab bagaimana seharusnya beragama menurut kitab suci, tetapi bagaimana menurut penganutnya. Yang dalam kitab suci adalah Das Sollen, bagaimana seharusnya, sedangkan bagaimana menurut umatnya adalah empirik, yang dialami oleh manusia, baik yang diyakininya, dikerjakannya, maupun yang dirasakannya. Dengan demikian, yang diyakini suatu masyarakat beragama dapat saja gaib, tidak dapat diteliti. Akan tetapi, keyakinan masyarakat dalam bentuk kepercayaan kepada yang gaib bersifat empirik, dialami oleh manusia, sehingga dapat dijadikan objek  kajian ilmiah. Tetapi manusia percaya kepada Tuhan, bagaimana sifat Tuhan yang dipercayainya, hubungan dengan Tuhan tersebut dan lainnya yang mereka alami adalah empirik, kenyataan hidup yang dapat diteliti secara ilmiah.
Antropologi memakai pendekatan dari dalam atau pendekata verstehen. Fenomena budaya yang dihasilkan oleh agama dipahami menurut interpertasi pemeluknya sendiri, tidak menurut kacamata peneliti. Untuk memahami makna suatu simbol keagamaan, ditanyakan kepada masyarakat penganutnya sendiri. Sebagai kajian antropologis, beragamanya manusia ingin dipelajari secara mendalam, sampai dasar-dasar fundamental dari kehidupan beragama dan asal-usul manusia beragama. Pendekatan ini bukan tidak objektif adalah kalau memahami masalah harus disesuaikan dengan kryakinan dan nilai-nilai yang  dianut peneliti dan dipaksakan tanpa didukung oleh bukti yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.[7][7]
E.     Pendekatan Kebudayaan
Apa yang dimaksud dengan pendekatan adalah sama dengan metodologi: sudut pandang atau cara melihat dan memperlakukan sesuatu masalah yang dikaji. Makna metodologi juga mencakup berbagai tehnik yang digunakan untuk melakukan penelitianatau pengumpulan data. Dengan demikian, pendekatan atau metodologi bukan hanya diartikan sebagai sudut pandang atau cara melihat sesuatu permasalahan, melainkan juga mencangkup pengertian metode-metode atau teknik-teknik penelitian yanng sesuai.[8][8] Dengan demikian, makna pendekatan kebudayaan dapat diartikan sebagai sudut pandang atau cara melihat dan memperlakukan sesuatu gejala yang menjadi perhatian dengan menggunakan kebudayaan sebagai acuan.
Menurut Prof. Parsudi Suparlan, kebudayaan adalah pedoman bagi kehidupan masyarakat yang diyakini kebenarannya. Sebagai pedoman, kebudayaan harus berupa pengetahuan dan keyakinan-keyakinan. Kebudayaan kerap digunakan sebagai instrumen untuk menginterpretasikan lingkungan hidup. Ia menghasilkan tindakan-tindakan bermanfaat bagi perkembangan sumber daya yang ada dalam sebuah lingkungan masyarakat.[9][9]
Kebudayaan sebagai pengetahuan mengenai dunia yang ada disekelilingnya dan pengalaman-pengalamannya dengan relatif mudah dapat berubah dan berkembang sesuai dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam lingkungan hidupnya, terutama dalam kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan bagi kehidupannya yang sumber-sumber dayanya berada dalam lingkungan hidupnya tersebut. Tetapi sebagai sebuah keyakinan, yaitu nilai-nilai budayanya, terutama keyakinan mengenai kebenaran dari pedoman hidupnya tersebut, maka kebudayaan cenderung untuk tidak mudah berubah.
F.       Pendekatan Kebudayaan dan Agama
Agama dapat dipandang sebagai kepercayaan dan pola perilaku, yang diusahakan oleh manusia untuk menangani masalah-masalah penting yang tidak dapat dipecahkan menggunakan teknologi dan teknik organisasi yang diketahui. Menurut Anthony F.C. Wallace agama sebagai seperangkat upacara, yang diberi rasionalisasi mitos, dan yang menggerakan kekuatan-kekuata supranatural dengan maksud untuk mencapai atau untuk menghindarkan sesuatu perubahan keadaan pada mausia atau alam.[10][10]
Bila agama telah menjadi bagian dari kebudayaan maka agama juga menjadi bagian dari nilai-nilai budaya dari kebudayaan tersebut. Dengan demikian, maka berbagai tindakan yang dilakukan oleh para warga masyarakat untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan kehidupan mereka dalam sehari-harinya juga akan berlandaskan pada etos agama yang diyakini. Dengan demikian, nilai-nilai etika dan moral agama akan terserap dan tercermin dalam berbagai pranata yang ada dalam masyrakat tersebut. Sebaliknya, bila yang menjadi inti dan yang hakiki dari kebudayaan tersebut adalah nilai-nilai budaya yang lain, maka nilai-nilai etika dan moral dari agama yang dipeluk oleh masyarakat tersebut hanya akan menjadi pemanis mulut saja atau hanya penting untuk upacara-upacara saja.[11][11]
Apakah gunanya menggunakan pendekatan kebudayaan terhadap agama. Yang terutama adalah kegunaannya sebagai alat metodologi untuk memahami corak keagamaan yang dipunyai oleh sebuah masyarakat dan para warganya. Kegunaan kedua, sebagai hasil lanjutan dari kegunaan utama tersebut, adalah untuk dapat mengarahkan dan menambah keyakinan agama yang dipunyai oleh para warga masyarakat tersebut sesuai dengan ajaran yang benar menurut agama tersebut, tanpa harus menimbulkan pertentangan dengan para warga masyarakat tersebut. Yang ketiga, seringkali sesuatu keyakinan agama yang sama dengan keyakinan yang kita punyai itu dapat berbeda dalam berbagai aspeknya yang lokal. Tetapi, dengan memahami kondisi lokal tersebut maka kita dapat menjadi lebih toleran terhadap aspek-aspek lokal tersebut, karena memahami bahwa bila aspek-aspek lokal dari keyakinan agama masyarakat tersebut dirubah maka akan terjadi perubahan-perubahan dalam berbagai pranata yang ada dalam masyarakat tersebut yang akhirnya akan menghasilkan perubahan kebudayaan yang hanya akan merugikan masyarakat tersebut karena tidak sesuai dengan kondisi-kondisi lokal lingkungan hidup masyarakat tersebut.
G.      Pendekatan Antropologi Terhadap Agama
Agama dapat dipandang sebagai kepercayaan dan pola perilaku, yang oleh manusia digunakan untuk menggedalikan aspek alam semesta yang tidak dapat dikendalikannya. Karena dalam semua kebudayaan yang dikenal tidak ada sesuatu yang sungguh-sungguh pasti dapat menggendalikan alam semesta, maka agama merupakan bagian dari semua kebudayaan yang kita ketahui.[12][12] Akan tetapi dari sini ada banyak ragamnya disudut yang satu dari cakrawala umat manusia terdapat suku pemburu dan peramu yang pengetahuan ilmiahnya tentang alam semesta terbatas dan cenderung melihat dirinya sendiri sebagai bagian, atau lebih tepat sebagian tuan dari alam semesta. Di antara pemburu dan peramu tindakan keagamaan dapat merupakan bagian yang integral dari perilaku sehari-hari.
Disudut cakrawala manusia yang lain terdapat peradaban barat dengan kekayaan pengetahuannya dan keterikatannya untuk mengatasi segala masalah dengan menggunakan pengetahuannya dan keterkaitannya untuk mengatasi segala masalah dengan menggunakan teknologi dan kemampuan organisasinya. Disini agama merupakan bagian yang tidak begitu besar dari kegiatan sehari-hari dan cenderung dibatasi untuk keadaan-keadaan tertentu. Meskipun demikian ada keanekaragaman kegiatan agama mungkin tidak terlalu penting bagi kalangan kaum elit sosial, yang menganggap dirinya sendiri lebih dapat menggendalikan nasib sendiri. Bagi mereka, agama memberi sedikit kompensasi dari ketergantungan kedudukannya dalam masyarakat. Agama mungkin juga memberi rasionalisasi begitu rupa kepada sistem kemasyarakatan, sehingga orang-orang tersebut tidak berusaha mengubah nasib mereka. Kalau akhirnya pada harapan akan kehidupan yang lebih baik sesudah meninggal maka orang akan lebih sanggup menerima penderitaan dalam kehidupan sekarang.
H.    Teori Asal Mula Agama
Ketika para sarjana mencoba merumuskan teori-teori tentang asal mula terjadinya agama, ilmu pengetahuan yang disebut antropologi belum ada, yang baru ada adalah etnografi, lukisan tentang suku-suku bangsa sederhana yang kemudian menjadi etnologi, yaitu ilmu tentang bangsa-bangsa (sederhana) para ahli yang berpendapat tentang asal mula agama adalah ahli sejarah C. De Brosses (1967) ahli filsafat August Comte (1850) ahli filologi F.Max Muller 1880) dan lainya dan kemudia n muncul teori-teori dari para ahli antropologi seperti E.B. Tylor (1889) R.R.Marett (1909), J.G.franzer (1890) E.Durkheim (1912) dan W.Schmidt (1921) dari teori–teori mereka ini orang berpendapat bahwa perkembangan agama itu mulai dari animism, dinemisme, politeisme dan baru kemudian menoteisme.
1.      Teori Taylor
Sarjana yang diangap paling pertama kali mengemukakan pendapat bahwa asal mula dari agama adalah “dinamisme” paham tentang jiwa atau roh dia adalah sejana antopologi inggris E.B. Taylor dalam bukunya Primitive Culture mengapa manusia sederhana menyadari tentang adanya jiwa atau roh, dikarenakan yang Nampak dan dialami sebagai berikut:[13][13]
Ø  Peristiwa hidup dan mati
Bahwa adanya hidup karena adanya gerak, dan gerak itu terjadi karena adanya jiwa. Dan apa bila jiwa itu lepas dari tubuh maka berakti mati dan tubuh tidak bergerak.
Ø  Peristiwa mimpi
Bahwa ketika manusia itu tidur atau pingsan ia mengalami mimpi dimana tubuh itu diam dan masih ada gerak (nafas), tetapi ia tidak sadar karena sebagian dari jiwanya terlepas dan gentanyangan ketempat lain.
Menurut Taylor kepercayaan manusia sederhana terhadap jiwa latin (Anima) didalam sekitarnya itulah yang disebut animism yang merupakan asal mula agama, yang kemudian dikembangakan menjadi Dynamisme. Polytheisme, dan akhirnya menotheisme. Dengan demikian animism itu adalah paham kepercayaan manusia tetang adanya jiwa.
2.      Teori Marett
Dikemukakan oleh R.R Marett seorang antropologi ingris di dalam bukunya The Threshold of Religion (1909), berarti setelah 36 tahun teori animism berkembang. Berpendapat bahwa bagi masyarakat yang budayanya masih sangat sederhana belum mungkin dapat berpikir dan menyadari tentang adanya “Jiwa” jadi katanya pokok pangkat dari perilaku keagamaan bukanlah kepercayaan terhadap roh-roh halus, melaikan timbul karena perasaan rendah diri manusia terhadap berbagai gejala dan peristiwa yang dialami manusia dalam hidupnya. Sehingga kekuatan itu bersifat supernatural. Menurut Marett kepercayaan terhadap adanya yang supernatural itu sudah ada sejak sebelum manusia menyadari adanya roh-roh halus (animesme). Oleh karenanya teori Marett ini sering dikatakan pula prae-animesme.[14][14]
3.      Toeri Frazer
Mengemukakan juga pendapat tentang asal mula agama adalah J.G.Frazer dalam bukunya The Golden Bough A Study In Magic And Religion (1890) ia berpendapat bahwa manusia itu dalam memecahkan masalah berbagai macam dalam kehidupannya dengan menggunakan akal dan system pengetahuan. Akal manusia itu terbatas semakin rendah budaya manusia semakin kecil dan terbatas kemampuan akal pikiran dan pengetahuannya.
Megic itu adalah tanggapan hidup berbagai masyarakat bangsa, sejak jaman purba maupun sekarang masih ada. Orang memperkirakan bahwa para ahli magic itu dengan mantera, jimat dan upacara yang dilakukan dapat menguasai atau mempengaruhi alam sekitarnya.
Menurut Frazer pada mulanya manusia itu hanya mengunakan magic untuk mengatasi masalah yang berada diluar batas kemampuan akalnya, kemudian dikarenakan ternyata usahanya dengan magic tidak berhasil maka mulailah ia percaya bahwa alam semesta ini didiami oleh para makhluk halus yang lebih berkuasa dari padanya. Seterusnya dengan makhluk-makhluk halus itu, sehingga dengan demikian timbullah agama (religi).[15][15]
4.      Teori Schimidt
Serjana Austria W.Schmidt juga mengemukakan teori tentang asal mula agama, atara lain dalambukunya Die Uroffenbarung als Antang der Offenbarungen Gonttles (1921) yang berbeda dengan Taylor. Schmindt mengemukakan bahwa “Monotheisme” kepercayaan terhadap adanya satu tuhan. Kepercayaan terhadap adanya satu Tuhan bukan penemuan baru tetapi juga sudah tua. Pendapatnya ini sebenarnya berasal dari pendapat ahli sastra inggris A. Lang, yang meramunya dari berbagai kesusasteraan rakyat dari berbagai bangasa di dunian dalam bentuk-bentuk dongeng yang melukiskan adanya tokoh dewa tunggal.[16][16]
5.      Teori Duhkheim
Seorang sarjana filsafat dan sosiologi bangsa prancis, yang juga mengemukakan teorinya tentang asal mula agama dalam bukunya Les Forms Elementaires De La Vie Religieuse (1912).
Seperti halnya dengan Marett yang mengemukakan kritiknya terhadap teori Tylor, demikian pula Durkheim yang berpendapat bahwa pada masyarakat yang masih sederhana tingkat budayanya belum mungkin dapaat menyadari dan memahami tentang jiwa yang berada dalam tubuh manusian yang hidup dan jiwa yang sudah lepas dari tubuh menjadi roh-roh halus dari orang yang sudah mati.
Menurut Durkheim pengertian tentang emosi keangamaan dan sentimen-kemasyarakatan sebagaimana dikemukakan di atas adalah pengertian dasar yang merupakan inti dari setiap agama sedangkan kegiatan berhimpunnya masyarakat.[17][17]
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang hidup di kepulauan Nusantara di garis khatulistiwa. Lingkungannya dipenuhi dengan hutan rimba, pegunungan, sungai, danau, rawa-rawa dengan lautan yang luas. Dan binatang-binatang yang ada bermacam-macam dari yang ganas sampai yang jinak. Musim di nusantara hanya dua yaitu kemarau dan hujan tidak selamanya membahagiakan kehidupan manusia tetapi ada kalanya menimbulkan musibah seperti gunung meletus, banjir, kelaparan dan penyakit. Indonesia yang dipenuhi oleh flora dan faunanya menjadikan daya tariknya bukan hanya bagi manusia tetapi makhluk halus yang baik atau jahat. Karena itu bangsa Indonesia sudah senjak zaman purba, sebelum adanya agama-agama besar (Hindu-Budha, Kristen dan Islam) telah mengenal kepercayaan kepada kekuatan–kekuatan ghaib dan nenek moyang bangsa Indonesia di zaman purba sudah mengenal alam roh. Hal tersebut diperlihatkan dari suku bangsa di Indonesia yang masiih menggunakan kepercayaan lama.
I.         Kepercayaan di Indonesia
Perkembangan agama-agama besar rupanya tidak menghilangkan berbagai kepercayaan tradisional yang telah ada di Indonesia. Keberadaan kepercayaan tradisional masih sangat terasa dibeberapa suku bangsa Indonesia. Beberapa masyarakat yang masih memegang kepercayaan tradisonal adalah sebagai berikut:[18][18]
1.      Suku Bangsa Batak
Masyarakat suku Bangsa mempunyai agama, sebagai cara yang digunakan untuk melindungi desa dari penyakit serta melindungi desa dari serangan kekatan gaib. Hal tersebut diwujudkan dengan melakukan kurban hewan secara berkala, maksudnya sebagai persembahan kepada roh leluhur mereka untuk membantu melindungi desa dan masyarakatnya.
2.      Suku Bangsa Nias
Kepercayaan suku bangsa Nias adalah bentuk kepercayaan nenek moyang. Mereka mempercayai bahwa nenek moyang suku bangsa Nias berasal dari empat orang anak Sirao Uwu Zihono. Sirao Uwu Zihono adalah penguasa langit yang memiliki sembilan orang anak. Sirao Uwu Zihono dilahirkan dari sepasang dewa-dewi yang diciptakan oleh lowalangit. Empat anak lainnya menjaga tanah, laut, hutan dan gunung sedangkan yang bungsu menjadi penguasa langit.
3.      Suku Bangsa Jawa
Masyarakat suku Jawa mengenal kepercayaan yang disebut Kebatinan dan Kejawen. Kebatinan merupakan bentuk kerohanian yang menggabungkan kegiatan keagamaan kuno Jawa dengan tradisi mistik Hindu, Buddha, dan Suffisme Islam. Sedangkan tradisi Kejawen meliputi hal yang lebih luas, yaitu mencakup pengetahuan mistik dan upacara tradisional yang dikaitkan dengan dunia gaib.
4.      Suku Badui
Masyarakat Badui tinggal di desa Kanekes, kebupaten Lebak, provinsi Banten. Mereka mengaku sebagai orang Sunda Wiwitan atau orang Sunda asli. Seluruh segi kehidupan dan kebiasaan orang Badui diuraikan dalam pkukuh, yaitu seperangkat aturan yang diturukan oleh leluhur. Dasar kepercayaan orang Badui ialah percaya pada Tuhan yang mereka sebut Batara Tunggal, yang memiliki kekuasaan dan kekuatan tanpa batas. Pikukuh menjelaskan bahwa orang Badui diberi kepercayaan untuk membuat bumi sejahtera. Untuk itu, banyak peraturan yang dibebankan kepada Puun (pemimpin) Badui, seperti larangan merusak alam. Peraturan tersebut harus dipatuhi oleh masyarakat Badui dengan taat, jika tidak maka akan timbul kemarahan dari Batara Tunggal. Masyarakat Badui dituntut untuk hidup sederhana dan tidak boleh membebani orang lain.
5.      Suku Bangsa Bali
Masyarakat Bali yang hidup terpencil di daerah pedalaman, masih lekat dengan kepercayaan dan tradisi masyarakat dari masa pra Majapahit. Mereka mendiami daerah gunung-gunung di Bali, seperti Gunung Agung, Gunung Seraya, Gunung Batur, dan Gunung Batukau. Biasanya mereka disebut dengan disebut dengan masyarakat Bali Aga. Ciri khas masyarakat Bali Aga yang terpusat pada leluhur, menjadikan mereka tidak menerima apapun yang ada diluar lingkungan adat.
6.      Suku Bangsa Toraja
Suku bangsa Toraja menganut kepercayaan asli yang disebut Aluk To Dolo (Aluk artinya kepercayaan/ajaran, To artinya orang, Dolo artinya dulu). Kepercayaan asli suku bangsa Toraja ini merupakan salah satu dari sedikit tradisi asli yang memperoleh pengakuan dari pemerintah. Kepercayaan Toraja berpusat pada dewa penghuni alam semesta dengan leluhur yang menjadi dewa melalui upacara yang dilakukan oleh keturunannya. Leluhur dipercaya dapat kembali ke bumi dalam wujud hujan yang akan menumbuhkan tanaman. Para dewa menempati puncak gunung dan dasar bumi.
7.      Suku Bangsa Sumba
Suku bangsa Sumba merupakan suku terakhir di nusantara yang menyembah berhala atau marapuh. Marapuh berkaitan dengan roh orang mati, benda pusaka, dan tempat keramat. Dalam upacara besar, gong, dan tambur disembunyikan sebagai tanda utusan roh. Ketika leluhur  atau dewa marah maka akan ada wakil roh yang akan menuntut hak akibat terjadinya pelanggaran kecil pada aturan atau urutan upacara. Setiap kematian atau bencana selalu dianggap sebagai akibat bentuk pengingkaran. Oleh karena itu, orang yang hidup harus melakukan penebusan sebagai langkah berdamai dengan orang mati.
8.      Suku Bangsa Dayak
Kepercayaan tradisional masyarakat Dayak dikenal dengan nama Kaharingan, yang berasal dari kata haringyang berarti hidup. Suku Dayak mempercayai bahwa dunia diciptakan atas kesepakatan antara Ranjing Mahatala melemparkan ikatan kepalanya, maka jadilah pohon kehidupan yang disebut pohon garing.
9.      Suku Bangsa Asmat
Suku bangsa Asmat mendiami daerah hutan dan rawa pantai selat Papua. Bernagi kepercayaan dan tradisi suku bangsa Asmat menunjukan kekuatannya pengaruh kepercayaan Austronesia. Dalam pemahaman orang Asmat, penciptaan mereka diawali oleh dewa Fumeriptis yang membangun Jeu pertama dan memahat patung kayu manusia telah memberikan kehidupan. Berdasarkan mitos tersebut, suku bangsa Asmat mempercayai bahwa cabang pohon, batang, akar dan buah pohon adalah lengan, tubuh, kaki, dan kepala manusia.
J.        Agama dan Kepercayaan yang Berkembang di Indonesia
Sebagai negara yang memilliki keragaman budaya yang luar biasa, Indonesia memiliki berbagai agama dan kepercayaan yang berkembang di wilayahnya. Agama besar dunia, seperti Hindu, Budha, Islam, dan Kristen masuk dan berkembang diberbagai wilayah Indonesia. Di beberapa wilayah, agama-agama tersebut menyesuaikan diri dengan kebudayaan yang telah ada, sehingga memiliki karakteristik yang sedikit berbeda dengan agama asalnya.[19][19]
1.      Hindu
Agama Hindu berasal dari India, diduga berasal dari nama sebuah sungai di Pakistan, Sindhu. Agama ini merupakan campuran kebudayaan bangsa Arya dan Dravinda di India, yang telah berkembang sejak beberapa abad sebelum masehi. Hindu merupakan agama pertama yang masuk dan berkembang di Indonesia. Para ahli sejarah memperkirakan agama ini telah masuk ke Nusantara sejak abad pertama masehi. Namun, kehidupan ke agamaannya baru nampak sekitar abad ke-5M berbagai teori mempermasalahkan siapa yang menyebarkan agama ini, mulai dari pendeta, pedagang atau golongan lainnya.
Ajaran dasar agama Hindu meliputi 5 kepercayaan atau disebut Panca Krada, yakni Braman, kepercayaan kepada dewa dan berbagai bentuk perwujudannya. Adman, kepercayaan tentang jiwa yang abdi. Karma pala, kepercayaan bahwa setiap tindakan akan berakibat pada pelakunya. Punar bhawa, kepercayaan tentang reikarnasi. Moksa, kepercayaan tentang kebahagian tertinggi (bersatu dengan dewa).
2.      Buddha
Agama Buddha muncul pada abad ke-6SM di India sebagai reaksi terhadap sistem upacara keagamaan Hindu Brahmana yang terlampau kaku. Pendiri agama Buddha adalah Sidharta, seorang pangeran dari kerajaan Cakya, Kapilawastu. Ia adalah orang pertama yang mencapai puncak Buddha, yang kemudian mengajarkannya kepada para muridnya. Buddha merupakan agama kedua yang masuk dan berkembang di wilayah Nusantara. Diperkirakan agama ini dibawa langsung oleh para Biksu (pendeta Buddha) dari India sekitar abad ke-5M. Pada abad ke-7M, di wilayah Sumatera telah dikenal kerajaan besar yang beragama Buddha, yakni Sriwijaya.
Para penganut agama Buddha mempunyai ikrar yang disebut Tricarana (tiga tempat berlindung) yng berbunyi:
1)      “Saya berlindung kepada Buddha”
2)      “Saya berlindung kepada Dharma”
3)      “Saya berlindung kepada Sanggah”
“Buddha” pada ikrar yang pertama adalah sebutan untuk tokoh pendiri agama Buddha. “Dharma” adalah ajaran agama Buddha, dan “Sanggha adalah masyarakat pemeluk agama Buddha.  Ajaran pokok Buddha umumnya berlandaskan pada Aryasatyani dan Pratiyasamutpada, dua hal yng diperoleh sang Sidharta Gautama (Buddha) sewaktu menjalani pertapaan di bawah pohon Boddhi dan menjadi keyakinannya, sebagai pembuka jalan menuju nirwana.
3.      Islam
Islam adalah agama yang lahir di Arab (Timur Tenggah), tempatnya di kota Makkah pada awal abad ke 7 M pembawa agama ini adalah Muhammad SAW yang merupakan utusan Allah (Rasulullah). Perkembangan awal Islam terjadi di kota Madinah dan berlangsung sangat cepat hingga meliputi seluruh wilayah Arab. Agama Islam telah berkembang di Nusantara sekitar abad ke-13M asal-usulnya sendiri tidak diketahui dengan pasti.
Ajaran pokok Islma terutama berdasarkan pada dua rukun, yakni rukun Iman dan rukun Islam. Rukun Iman terdiri dari 6 tingkatan dan rukun Islam terdiri dari 5 kewajiban dasar agama Islam.
4.      Katolik
Istilah Katolik berasal dari kata Katolikos yang berarti “menyeluruh” atau “umum” dalam bahasa Yunani. Pengertian luas Katolik adalah “apa yang dipercaya secara umum”, sedangkan pengertian yang lebih khusus diperuntukan bagi gereja Katolik Roma atau para penganut Kristen yang bernaungan dibawah gereja Katolik. Penyebaran agama kristen di Indonesia, baik Katolik maupun Protestan, merupakan karya misionaris Eropa yang erat kaitannya dengan kegiatan perdagangan dan kolonialisme sejak abad ke-16.
Ciri utama Katolik terdapat pada pandangannya terhadap gereja. Uamat Katolik percaya bahwa gereja Katolik adalah gereja yang didirikan  oleh Yesus Kristus untuk menyampaikan “Kabar Gembira” dan sarana keselamatan Ilahi kepada semua bangsa sampai akhir zaman. Oleh karena itu, umat Kristen harus dinaungi dalam naungan gereja yang tidak terbatas pada kebudayaan, bahasa, bangsa, atau pandangan duniawi tertentu.
5.      Protestan
Kelahiran Kristen Protestan diawali oleh adanya upaya reformasi yang dilakukan beberapa agamawan Kristen, terutama terhadap kekuasaan Paus dan gereja, berikut segala aktivitasnya yang dianggap menyalahi aturan. Tokoh-tokoh awal Protestan adalah Martin Luther dari Jerman dan Jean Calvindari Perancis.
Ciri utama ajaran Protestan adalah penekanan bahwa kekuasaan Tuhan tak terbatas memerlukan perantara seperti Paus atau penghubung lain antara manusia dengan tuhan. Sekali pun demikian, kesatuan umat Protestan dalam gereja tetaplah ada. Namun, gereja Protestan terlepas dari hubungan hirarki dengan gereja Katolik.
6.      Kong Hu Cu
Agama Kong Hu Cu muncul pada abad ke-5SM di negeri China (Tiongkok), sebagai hasil rumusan dari Kong Hu Cu atau Konfusius dan para muridnya. Konfisius adalah seorang ahli filsafat Cina yang pernah menjadi pejabat tinggi di Kota Chung Tu. Setelah ia jatuh dari jabatan tersebut karena fitnah, ia diusir dan merantau keberbagai wilayah sebagai guru keliling. Dalam perjalanannya tersebut, ia memiliki banyak murid dan kemudian dikenal sebagai pembawa ajaran agama. Agama Kong Hu Cu masuk ke Indonesia sejak awal abad Masehi, seiring dengan semakin terbukanya hubungan dengan budaya Cina.
Ajaran Kong Hu Cu pada dasarnya adalah filsafat yang memadukan alam pikiran dan kepercayaan orang Cina yang mendasar. Ajarannya menyangkut kesusilaan perorangan dan gagasan bagi pemerintah yang baik. Namun, dikarenakan ajaran moral semacam itu sangat dekat dengan ajaran keagamaan, Kong Hu Cu dianggap sebagai ajaran agama dan tokohnya sebagai pembawa agama. Ajaran Kong Hu Cu dalam bidang kesusilaan menekankan pada hubungan yang harmonis antar manusia. Menurut Kong Hu Cu, kekacauan tidak akan terjadi jika kita menjaga keharmonisan tersebut.

BAB III
KESIMPULAN

Dari uraian yang telah dipaparkan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa agama dan budaya dapat kita arahkan dalam berbagai kerangka. Pertama, dapat kita terapkan dalam upaya mencari konsep-konsep lokal tentang bagaimana agama dan budaya berinteraksi. Kedua, kajian tersebut dapat dipusatkan untuk mempetakan agama lokal dalam sebuah peta besar agama universal. Ketiga, local discourse atau local konwledge yang tumbuh dari pergumulan agama dan budaya dapat dijadikan sebagai tambahan wacana baru globalisasi. Kajian tentang agama local dapat dijadikan sebagai pengkayaan wacana manusia.
Uraian di atas memperlihatkan bahwa sesungguhnya pemahaman agama tidak akan lengkap tanpa memahami realitas manusia yang tercermin dalam budayanya. Posisi penting manusia dalam agama seperti digambarkan dalam proses penciptaannya yang ruhnya merupakan tiupan dari ruh Tuhan memberikan indikasi bahwa manusia menempati posisi penting dalam mengetahui tentang Tuhan. Dengan demikian pemahaman agama secara keseluruhan tidak akan tercapai tanpa memahami separuh dari agama yaitu manusia.
Barangkali tidak berlebihan untuk menyebut bahwa realitas manusia sesungguhnya adalah realitas ketuhanan yang empiris. Di sinilah letak pentingnya kajian antropologi dalam mengkaji agama. Sebagai ilmu yang mengkhususkan diri mempelajari manusia yang merupakan realitas empiris agama maka antropologi juga merupakan separuh dari ilmu agama itu sendiri.


DAFTAR PUSTAKA
Ø  Poespowardoyo Soerjanto, 1986, Pengertian Local Genius dan Relevansinya Dalam Modernisasi, “Kepribadian Budaya Bangsa (local genius)”, Pustaka Jaya: Jakarta.
Ø  Prof. Dr. H. Jalaluddin, 2010, Psikologi Agama, Rajawali Pers: Jakarta.
Ø  Harsojo, 1992, Pengantar Antropologi, Banacipta: Jogyakarta.
Ø  Drs. Hady Aslam, 1986, Penantar Filsafat Agama, Rajawali: Jakarta.
Ø  A. Haviland William, 1988, Antropologi, Erlangga: Jakarta.
Ø  Ali Sayuthi, 2002, Metodelogi Penelitian Agama, PT Raja Grafindo Persada: Jakarta.
Ø  Suparlan Parsudi, 2009, Pendekatan Budaya Terhadap Agama, LkiS: Jogyakarta.
Ø  Hermanto Idan, 2010, Pintar Antropologi, Tunas Publishing: Jogjakarta.





[1][1] Soerjanto Poespowardoyo, Pengertian Local Genius dan Relevansinya Dalam Modernisasi, “Kepribadian Budaya Bangsa (local genius)”, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1986), Hlm. 28
[2][2] Prof. Dr. H. Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), Hlm. 155
[3][3] Harsojo, Pengantar Antropologi, (Jogyakarta: Banacipta, 1992), Hlm. 47
[4][4] Ibid. 25
[5][5] Ibid. 10
[6][6] Drs. Aslam Hady, Penantar Filsafat Agama, (Jakarta: Rajawali, 1986), Hlm. 44
[7][7] William A. Haviland, Antropologi, (Jakarta: Erlangga, 1988), Hlm. 59
[8][8] Sayuthi Ali, Metodelogi Penelitian Agama, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002) Hlm. 74
[9][9] Ibid. 75
[10][10] Ibid. 195
[11][11] Parsudi Suparlan, Pendekatan Budaya Terhadap Agama, (Jogyakarta: LkiS, 2009), Hlm 78
[12][12] William A. Haviland, Antropologi, Hlm. 196-197
[13][13] Drs. Aslam Hady, Penantar Filsafat Agama, Hlm. 31
[14][14] Ibid. 35
[15][15] Ibid. 37-38
[16][16] Ibid. 43-44
[17][17] Ibid. 53-54
[18][18] William A. Haviland, Antropologi, Hlm. 87
[19][19] Idan Hermanto, Pintar Antropologi, (Jogjakarta: Tunas Publishing, 2010) Hlm. 71

0 komentar:

Poskan Komentar