Sabtu, 08 Oktober 2011

Jacques Lacan : Imaginer, Simbolik, Nyata


            Meskipun Lacan ( 1966/1977 ) menganggap dirinya seorang psikoanalisis structural, dalam banyak hal ide-idenya mengawali berakhirnya strukturalisme dan beberapa pendapat mengawali poststrukturalisme. Salah satu prinsip sentral strukturalisme adalah kematian subjek, namun bagi seorang psikoanalisis seperti Lacan, bukan hal mudah membuang subjek. Lacan menerima keyakinan strukturalis bahwa makna kata ditentukan oleh perbedaannya dari kata lain dan bukan oleh hubungannya dengan sesuatu menurut dugaan yang digambarkan. Bahkan lacan menerima bahwa subjek juga, dalam batas tertentu, merupakan sebuah produk struktur berbeda. Meskipun demikian, pasien psikoanalitis lebih daripada struktur yang terdiri dari kata-kata, meskipun mereka bukan tipe murni subjek Cartesian yang berpikir , maka dia ada (who think and therefore are ). Subjektivitas manusia tidak abadi dan natural, bahkan tidak dikontruksi secara social. Tepatnya, secara social, subjek sekaligus ditentukan juga membentuk diri sendiri. Merupakan masalah jika teori Lacan diterapkan, upaya semacam itu merupakan kepentingan besar bagi ilmu social yang mencurahkan minat sejarahnya pada hubungan individu dan struktur social. Ketika pendekatan teks Lacan yang pertama, seseorang diingatkan kembali pada kritik C. Wright Mills pada Talcott Parsons; jika seseorang hanya menerjemahkan tulisan-tulisan Parsons kedalam daratan Inggris, tulisan-tulisan itu akan sungguh luar biasa. Pada kasus Lacan, seseorang ragu apakah beberapa ide yang signifikan akan ditinggalkan setelah pemindahan semua permainan kata-kata, referensi kesusasteraan, etimologi yang sembrono, penyimpangan yang lebar dan sebagainya. Permainan kata seperti itu kelihatannya menjadi inti dan kebanyakan argumen Lacan. Setiap saat Lacan dengan brillian menciptakan penjelasannya dalam satu kalimat yang membingungkan, pada saat yang lain ekspresi penjelasannya menghabiskan halaman-halaman. Lacan membaurkan ilusi pada gerakan-gerakan huruf B dengan mengeksplorasi puisi klasik dengan mudah, seringkali Lacan sangat ironis, tajam, dan pedas bahkan ada juga saatnya benar-benar ekspresi manusia.
            Untuk menangkap sebuah pemahaman atas ide-ide Lacan, kita perlu memahami hubungan pemikirannya dengan si penemu psikoanalisis, Sigmund Freud. Ini penting karena pengaruh interpretasi tertentu Sigmund Freud terdapat dalam ilmu social. Lacan seringkali mengklaimbahwa ide-idenya adalah “ kembali pada Freud “ bahkan seperti yang disampaikan Malcolm Bowie, hubungannya sangat kompleks.
Dia menjadi murid yang sangat berterima kasih, yang melengkapi dan menguraikan teks Freud, bahkan tidak berusaha membangun pandangannya sendiri yang original; atau seorang pembela Freud terhadap keterangan yang tidak benar dan menyerang dari luar pernyataan psikoanalisis, atau seorang pembela pada awalnya menentang Freud kemudian; atau pendukung sebuah pesan  Freudian yang “ murni “ dalam menghadapi kolega-kolega yang telah menjinakkan dan melembagakan ajarannya, atau pelanjut Freud yang membaw asemua doktrin pada titik komunikasi. Lacan menggunakan masing-masing peran secara bergantian, dan jarang berhenti untuk memberitahukan atau menjelaskan posisi perubahannya. Dan kadang-kadang penguasa baru muncul, Freud mungkin hanya menjadi petanda kata Lacanian atau pemula sebuah teori yang dikaburkan dan tinggalkan oleh Lacan pribadi.
Ilmu social telah menginterpretasikan dan menggunakan ide-ide Freud dalam tiga cara, pertama, teori dorongan hasrat ( theori of drive ) yang dipahami sebagai representasi tingkat insting yang esensi agar masyarakat berusaha memuaskan atau sekurang-kurangnya, mengakuinya. Lacan menolak interpretasi Freud ini. Bagi Lacan, ia adalah sebuah fantasi untuk memahami dorongan hasrat seperti biologi. Ia adalah sebuah mimpi identitas pertama sebelum budaya dan bahasa. Cara kedua, dimana Freud telah digunakan dalam sosiologi menjelaskan perlunya tatanan social yang memperkuat ego, Lacan juga menolak interpretasi Freud ini, menurut Lacan; Freud keliru mempercayai penilaian yang terlalu berlebihan pada barat yang rasional, diri yang merdeka. Tetapi itu adalah untuk menghargai Freud dia memperkenalkan sebuah teori baru yang mampu memperbaikai kesalahan ini dengan menekankan pentingnya non rasional. Terakhir, para sosiolog mempercayai teori internalisasi Freud untuk menjelaskan bagaimana individu dipengaruhi oleh struktur budaya. Walaupun sosiolog memandang internalisasi sebagai penyatuan langsung nilai budaya kedalam individu, Freud menjelaskan sebuah proses yang sangat mendua. Baginya, internalisasi nampaknya adalah untuk menolak kekerasan nilai-nilai social karena penerimaan secara pasif. Lacan sepakat dengan gugatan ini dan kenyataannya dia memandang proses internalisasi budaya lebih rumit daripada yang dijelaskan oleh Freud.
            Tiga konsep tersebut terdapat dalam inti pemikiran Lacan : yang imaginer, yang simbolik, dan yang nyata. Adalah penting untuk menyadari bahwa Lacan tidak menggunakan kata-kata pada pemahaman biasa. Ketiga kata itu secara gamblang bukan tahap yang terbatas maupun, seperti yang disampaikan Bowie, kekuatan mental. Tepatnya ketiganya adalah “ tatanan masing-masing tatanan tang menempatkan posisi individu kedalam daerah kekuasaan yang melintasinya “. Bagi Lacan, Psikoanalisis sangat dikaitkan dengan ide-ide Saussure tentang bahasa ( Langue ). Psikonalisis begaimanapun berbicara tentang pengobatan. Simpton yang ditemukan pada mulanya adalah verbal atau sekurang-kurangnya simbolik. Lacan menjabarkan “ Simpton adalah diri yang terstruktur seperti bahasa, “ dan “ ia adalah bahasa tempat berbicara disampaikan.” Dalam arti kata jasmaniah simpton harus dipindahkan kedalam berbicara.

0 komentar:

Poskan Komentar