Sabtu, 08 Oktober 2011

Sosialisme Islam ala HOS Tjokroaminoto


Tahun 1924 di Mataram, HOS Tjokroaminoto yang kemudian kita kenal sebagai
salah seorang pendiri dan sekaligus ketua Sarekat Islam (SI) menulis
buku “Islam dan Sosialisme”. Buku tersebut ditulis oleh Tjokro, di
samping karena pada waktu itu tengah terjadi pemilihan-pemilihan
ideologi bangsa, juga lantaran pada waktu itu paham ideologi yang
digagas para tokoh dunia sedang digandrungi oleh kalangan pelajar
Indonesia, di antaranya sosialisme, Islamisme, kapitalisme dan
liberalisme.
HOS Tjokroaminoto sebagai intelektual dengan ghirah
ke-Islaman yang tinggi ingin menjawab salah satu ide dari paham-paham
tersebut terutama sosialisme yang lebih mendapat tempat di hati rakyat
Indonesia. Mereka menganggap sosialisme punya misi kuat untuk
kepentingan rakyat, terutama kaum buruh, petani dan kelas pekerja
lainnya.
Karena itu, ia menawarkan sebuah gagasan sosialisme
Islam. Tapi Tjokro sadar bahwa realisasi dari gagasan ini di tingkat
praksis akan menemui kesulitan, mengingat rakyat dihadapkan pada
pemilihan ideologi yang ideal. Apalagi pada saat itu sudah berkembang
ideologi sosialisme dan komunisme yang dianggap lebih cocern terhadap
kaum mustadh’afin.
“Islam dan Sosialisme” sendiri memuat
beberapa pembahasan. Pembahasan menyangkut kaitan sosialisme dengan
Islam, kehidupan bangsa Arab pra Islam (sebelum Nabi), misi Nabi
Muhammad yang bersifat sosialis, sikap sosialis sahabat-sahabat
Muhammad. Prototipe sosialisme ala Islam, imperialisme muslim, agama
dan sosialisme, pengelolaan pemerintahan secara sosialis juga menjadi
pembahasan dari buku tersebut.
Dalam buku tersebut HOS
Tjokroaminoto memulai tulisannya dengan sebuah pertanyaan apakah
sosialisme Islam itu. Menurutnya, sosialisme Islam adalah “sosialisme
yang wajib dituntut dan dilakukan oleh umat Islam, dan bukan sosialisme
yang lain, melainkan sosialisme yang berdasar kepada azas-azas Islam
belaka.” Lebih jauh dia menjelaskan, “Cita-cita sosialisme di dalam
Islam tidak kurang dari 13 abad umurnya dan tidak boleh dikatakan
terbit daripada pengaruhnya bangsa Eropah. ..azas-azas sosialisme itu
telah dikenal di dalam pergaulan hidup Islam pada zamannya Nabi kita,
Muhammad SAW.”
Menurut Tjokro, Islam secara tegas melarang
(mengharamkan) riba (woeker) dan dengan begitu Islam menentang keras
kapitalisme. “Menghisap keringatnya orang-orang yang bekerja, memakan
hasil pekerjaannya lain orang, tidak memberikan bahagian keuntungan
yang mestinya (dengan seharusnya) kebahagiannya lain orang yang turut
bekerja mengeluarkan keuntungan itu, –semua perbuatan yang serupa ini
(oleh Karl Marx disebut memakan keuntungan “meerwaarde” (nilai lebih)
adalah dilarang dengan sekeras-kerasnya oleh agama Islam, karena itulah
perbuatan memakan “riba” belaka,” tulisnya.
Penolakan Islam
terhadap kapitalisme jelas terlihat dalam konsep dasar muamalah Islam,
di mana Islam mengingatkan akan celaka orang yang mengumpulkan harta
untuk kesia-siaan. Jadi dalam sistem muamalah Islam, praktek yang
mengarah pada penimbunan atau penumpukan modal dan barang adalah
dilarang. Demikian juga Islam melarang praktek riba karena dianggap
benih kapitalisme atau meer warde dalam konsep Marx
Menurut HOS
Tjokroaminoto, dasar sosialisme yang diajarkan Nabi Muhammad adalah
kemajuan budi pekerti rakyat. Hal ini tampak dalam pernyataannya,
“Menurut pendapat saya dalam faham sosialisme ada 3 anasir, yaitu
“kemerdekaan (vrijheid-liberty), persamaan (gelijk-heid-equality), dan
persaudaraan (broederschap-fraternity).
Nilai sosialisme dalam
Islam, lanjutnya, terlihat dari misi yang disandang Muhammad bahwa ia
datang untuk rahmat bagi seluruh alam. Jadi sejatinya orang Islam
dimanapun berada selalu menebarkan cinta kasih dalam niat dan
perbuatan, menyebarkan rasa kemanusiaan yang tinggi, menjunjung
nilai-nilai luhur, bukan hanya pada ideologi atau agamanya saja tapi
pada kemanusiaannya juga, bukan hanya pada manusia saja tapi pada
makhluk lainnya juga. Dengan demikian tidak ada lagi perusakan baik di
daratan maupun lautan, tidak ada lagi eksploitasi terhadap binatang,
tumbuhan dan alam lainnya.
Dalam pandangan Tjokro, keunggulan
(sosialisme) Nabi bukan hanya karena ia selalu di bimbing wahyu dalam
kehidupannya, tetapi juga karena dalam setiap tindakannya ia selalu
menjadi orang pertama yang memperjuangkan liberalisasi dan menegakkan
keadilan. Dalam hal ini, ia bukan hanya seorang pemikir saja akan
tetapi ia ikut terjun di tengah umat.
Sikap inilah sebetulnya
yang harus dijadikan acuan. Umat Islam harus mengambil pelajaran dari
tindakan Nabi yang sangat menjunjung nilai kemanusiaan dan menentang
perbudakan. Nabi mengatakan, “Tentang budak-budakmu berilah makan
padanya saperti yang kamu makan sendiri, dan berilah pakaian padanya
seperti pakaian yang kamu pakai sendiri. Apabila kamu tidak dapat
memelihara mereka, atau mereka melakukan kesalahan, lepaskan mereka.
Mereka itu hamba Allah seperti kamu juga, dan kamu harus berlaku
baik-baik kepada mereka.”
Lalu azas apakah sebetulnya yang
menuntun Muhammad hingga gigih memperjuangkan nilai-nilai
sosialis-humanis? Dalam bukunya, Tjokro mengemukakan, azas itu tidak
lain adalah “sebesar-besarnya keselamatan hendaknya menjadi bahagiannya
sebanyak-banyaknya manusia, dan keperluannya seseorang hendaknya
bertakluk kepada keperluannya orang banyak”
Melalui buku “Islam
dan Sosialisme” itu pulalah, Ketua SI ini menuturkan sebuah tamsil
tentang sosialisme Islami. Ia kemudian mengisahkan bahwa Nabi Muhammad
SAW mempunyai satu kebun bernama Fidak. Setelah Nabi wafat, Fatimah,
puterinya, menuntut pengembalian kebun itu kepadanya atas dasar
hak-turunan.
Tetapi Khalifah Abu Bakar menolak tuntutan Fatimah,
dengan alasan bahwa Nabi Muhammad tidak mempunyai kekayaan dengan hak
bagi dirinya sendiri. Karena itu, segala sesuatu yang ditinggalkan Nabi
harus menjadi kepunyaan orang banyak. Akhirnya kebun itu menjadi milik
orang banyak.
Kritik atas Sosialisme Islam ala Tjokro
“Sosialisme
Islam” HOS Tjokroaminoto belum menyentuh essensi al-Quran tentang kaum
mustadhafin, hanya kulit luarnya saja, dan seringkali dianggap parsial
sehingga tidak tuntas. Lebih dari itu, beberapa fakta yang
diketengahkan dalam buku tersebut kurang bisa dipertanggungjawabkan
kebenarannya. Hal ini bisa jadi disebabakan oleh terlalu kerasnya
Tjokro dalam memperjuangkan gagasan sosialisme Islam. sementara
realitas sosial waktu itu mungkin tidak memberi tempat kepadanya untuk
lebih menelaah lebih jauh konsep Quran dan pengalaman sejarah Islam
tentang pemberdayan mustadlafin.
Kelemahan lain bisa dilacak
dari gagasan sosialisme Islam-nya yang tidak dihubungkan dengan surat
al-Humazah: (l) “Celakalah (azablah) untuk tiap-tiap pengumpat dan
pencela (2) Yang menumpuk harta benda dan menghitung-hitungnya”.
Demikian juga sosialisme Islam ala Tjokro tidak dihubungkan dengan
surat al-Qashash: 5: “Dan kami hendak memberi karunia kepada
orang-orang yang tertindas (mustadhafin atau dhu’afa) di bumi dan
hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang
yang mewarisi bumi”.
Intelektual Dawan Rahardjo bisa memaklumi
kelemahan-kelemahan gagasan Tjokro, mengingat tokoh utama SI yang
dikenal berperilaku shaleh ini belum mempelajari Islam secara mendalam.
Menurut Dawam, buku “Islam dan Sosialisme” hanyalah merupakan kajian
awal. Tujuan Tjokro sendiri ketika menggagas sosialisme Islam di
samping untuk menguak sosialisme Islam juga untuk menandingi ideologi
sosialisme yang terlanjur mendapat tempat di hati rakyat.
Secara
umum, Dawam menganggap gagasan sosialisme Islam memang sulit
dikembangkan termasuk gagasan Tjokroaminoto sendiri. “Kesulitan untuk
berbicara apalagi mengembangkan teori sosialis, sekalipun berdasarkan
Islam, adalah kenyataan bahwa gerakan politik, organisasi sosial dan
kegiatan dakwah Islam di Indonesia, dari segi finansial, didukung oleh
pengusaha dan pedagang yang beraspirasi ingin bisa meningkatkan skala
ekonomi mereka. Dalam proses peningkatan itu mereka mengharapkan
perangsang-perangsang moneter, fiskal dan institusional dalam kerangka
sistem kapitalis yang berlaku,” demikian tulis Dawam.
Upaya
merealisasikan gagasan sosialisme Islam ala Tjokro semakin sulit
mengingat kondisi politik yang berkembang pada dekade tahun 1930-an
mengalami perubahan. “Dalam dasawarsa 1930-an,” kata Dawam Rahardjo,
“pergerakan tidak berbicara lagi mengenai sosialisme. Buku Tjokro gagal
mengajak golongan terpelajar muslim, baik yang bergabung dalam Jong
Islamisten Bond, maupun Studenten Islam Studieclub yang berdiri pada
tahun 1936 untuk menggali ajaran sosial Islam dalam kerangka
sosialisme.”
Kalau di tingkat realisasi gagasan, Tjokro kurang
berhasil maka begitu pula dalam menjalankan kepemimpinan dalam tubuh
SI. Menurut Dawam, Tjokro terlalu menekankan persatuan dan ingin
menjadi pemimpin yang bisa berdiri di atas semua golongan. Tapi akibat
sikapnya ini, Tjokro tidak berani menyingkirkan kubu komunis dalam SI.
Baru
ketika Tjokro berada dalam tahanan, karena peristiwa Garut, duet
kepimpinan Agus Salim – Abdul Muis, yang menguasai persidangan Kongres
Nasional VI SI di Surabaya, berhasil melaksanakan tindakan disiplin
partai kepada golongan komunis. Kubu komunis (dikenal dengan sebutan
kubu merah) berhasil disingkirkan sekalipun mereka telah mendapat
dukungan kuat dari cabang-cabang Semarang, Solo, Salatiga, Sukabumi dan
Bandung. (Dawan Rahardjo: Intelektual Intelegensia dan Perilaku Politik
Bangsa, Mizan, Bandung, 1993).
Terlambatkah gagasan sosialisme
Islam ini? Pengamat sosial keagamaan, Kuntowijoyo, melalui tulisannya
“SI dan Pembaruan Pemikiran Islam” (Kompas, 7/6/95) mengatakan, kalau
SI telah mengadakan pembaruan pemikiran dengan menawarkan ideologi
sosialisme Islam, lalu dengan konsep apakah umat Islam di abad ke-21
ketika dihadapkan pada dunia industrialisasi?
Problem itu
dimunculkan oleh Kuntowijoyo, karena pada awal Abad XX, ketika
menghadapi kebangkitan kaum buruh, SI telah menghasilkan pembaruan
pemikiran dengan ideologi sosialisme Islam. Waktu itu Islam keluar dari
sejarah “alamiah” dan mencoba “merekayasa” sejarah, tetapi rupanya
kurang berhasil. Dengan misi sosialisme-nya, SI memang punya komitmen
kuat untuk memperjuangkan kepentingan “wong cilik” dan kaum buruh.
Tapi
peran SI dalam memperjuangkan misinya dianggap too late and too little.
SI kalah duluan dari marxisme dan kurang memuaskan kaum buruh yang
sudah kehilangan kepercayaan pada kebaikan hati perseorangan. Yang
mereka kehendaki adalah “kebaikan hati kolektif.”
Terlepas dari
keterlambatan SI dalam mengambil peran itu, yang jelas dalam pandangan
Kuntowijoyo, problem yang dihadapi umat Islam dewasa ini berbeda dengan
yang dihadapi SI. Karena itu, pembaharuan pemikiran tidak lagi berkutat
pada kerangka ideologis. Menghadapai abad XXI, pola berpikir ideologis
harus diganti dengan pola berpikir ilmu. Solusi ini masih mengundang
tanda tanya; benarkah akan demikian?
Kesimpulan
Berpijak
pada analisa Dawam Rahardjo bahwa kesulitan dalam mengembangkan teori
sosialis, karena yang mendukung gerakan politik, organisasi sosial dan
kegiatan dakwah adalah pengusaha dan pedagang yang kapitalis, maka bisa
dipahami jika hingga kini belum ada tokoh yang memunculkan partai
sosialis yang berdasarkan Islam.
Jadi, sekali lagi, belum adanya
tokoh Islam yang memunculkan partai sosialis berdasarkan Islam adalah
karena ideologi yang akan memberikan dukungan finansial padanya nanti,
bukan dari yang berideologi sosialis Islam, melainkan dari yang
berideologi kapitalis. Disinilah tidak tepatnya Kuntowijoyo yang
menyimpulkan perjuangan ideologi, dianggapnya sudah berakhir memasuki
abad ke-21. buktinya pertarungan atas nama ideologi masih kental dalam
kehidupan politik dan ekonomi.


0 komentar:

Poskan Komentar