Sabtu, 23 Oktober 2010

KONSELING PADA REMAJA

BAB I
PENDAHULUAN


A.   Latar Belakang
Akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan tekonologi khususnya di bidang komunikasi dan informasi dalam segala aspek kehidupan secara drastis telah melanda dunia termasuk Indonesia. Batas-batas antar negara semakin menipis, segala bentuk informasi yang diproduksi di belahan bumi bagian barat dengan mudah masuk ke belahan bumi bagian timur yang jelas sangat berbeda sistem sosial budayanya.
Remaja adalah mereka yang berada dalam masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Dalam masa peralihan ini terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang cepat baik fisik maupun psikologis. Bila pertumbuhan dan perkembangan mereka lebih banyak terpengaruh oleh situasi sosial yang kurang sesuai dengan kapasitas jati dirinya sebagai bagian dari suatu bangsa, dikhawatirkan untuk jangka panjang akan merugikan kelompok masyarakat ini dan keluarga mereka sendiri.
Remaja menurut banyak orang merupakan masa yang paling indah. Namun dibalik keindahan masa remaja terdapat suatu kekhawatiran yang luar biasa. Karena masa remaja merupakan masa peralihan menuju masa kematangan, dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Banyak artikel remaja yang menggambarkan Secara psikologis masa remaja yang notabene adalah masa dimana mereka mulai berhubungan dengan masyarakat dewasa, masa dimana anak mulai merasa setingkat dengan orang dewasa, terutama masalah hak. Sedikit makalah konseling pada remaja yang akan kami sajikan.










B.   Tujuan Penulisan
Ø  Memberi informasi tentang perilaku secara benar dan proforsional pada remaja.
Ø  Membantu remaja memperoleh identitas dirinya dalam pilihan perilaku dan orientasi seks.
Ø  Meningkatkan pengetahuan
Ø  Menghasilkan perubahan dan kebiasaan perilaku yang bertanggung jawab.
Ø  Mengajarkan keterampilan membuat keputusan merujuk klien pada lembaga lain yang lebih berkompeten


































BAB II
PEMBAHASAN


A.   Pengertian Konseling dan Remaja

*    Konseling
Konseling adalah proses pemberian bantuan dari seseorang konselor kepada seorang klien atau sekelompok orang yang memiliki masalah. Bantuan diberikan untuk memecahkan masalah yang dialami klien dengan cara wawancara dan diskusi.                                                                          (Lentera Sahaja, 1999).
                        Untuk menjalankan konseling biasanya konseling dilakukan oleh konselor yang berprofesi sebagai psikolog; konseling dapat juga dilakukan oleh siapa saja yang disebut profesional. Para profesional di bidang konseling adalah konselor yang latar belakang pendidikannya formalnya bukan psikologi atau bimbingan konseling, tetapi mereka diberi bekal pelatihan, keterampilan, pengetahuan konseling. Para profesionalyang terpanggil jiwanya untuk membantu orang lain ini idealnya bekerja di bawah supervisi seorang konselor yang profesional. Konselor harus memenuhi beberapa syarat, seperti mengenal prinsip-prinsip konseling dan menerapkan etika konseling. Pengalaman Lentera Sahaja mendampingi remaja di Yogyakarta dan sekitarnya menunjukkan bahwa remaja lebih terbuka kepada sesama remaja dalam mencari pemecahan masalahyang dihadapinya.
                        Ada banyak teori konseling dalam psikologi, salah satunya adalah teori 'client centered'. Teori konseling ini menekankan peran klien sendiri dalam proses konseling sampai pengambilan keputusan. Teori konseling ini berpijak pada beberapa keyakinan dasar tentang martabat manusia bahwabila seseorang mengalami masalah, yang bisa menyelesaikan masalah adalah diri sendiri. Apapun keputusan yang diambil oleh klien adalah hak klien. Dalam berbagai konseling, seseorang konselor berperan sebagai pemberi alternatif solusi, sedangkan pengambilan keputusannya diserahkan kepada remaja. Peran konselor lebih banyak membantu remaja untuk mengambil keputusan bukan sebagai pengambil keputusan.
                       

*    Remaja
Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko, 1984 dalam Rice, 1990). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun (dalam Rice, 1990) mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence).
Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.
Menurut Adams & Gullota (dalam Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. Sedangkan Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa.
Papalia & Olds (2001) berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Sedangkan Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.
                        “Konseling pada remaja adalah proses pemberian bantuan dari konselor kepada seorang klien atau sekelompok orang yang memiliki masalah seksualitas dan kesehatan reproduksi sesuai dengan umur dan permasalahan, perkembangan fisik dan mental pada masa pubertas, misalnya masalah seputar pacaran, perilaku seks, kesehatan reproduksi secara umum, body image, masalah dalam kehidupan perkawinan, HIV/AIDS, penyakit menular seksual dan kehamilan tidak diinginkan.”
B.     Tujuan Dan Manfaat Konseling Seksualitas
                        Secara umum tujuan konseling seksualitas remaja adalah:
·         Memberi informasi tentang seksualitas secara benar dan proforsional
·         Membantu klien memperoleh identitas dirinya dalam pilihan perilaku dan orientasi seks
·         Meningkatkan pengetahuan seksualitas
·         Mengurangi kecemasan yang dialami oleh remaja berkaitan dengan perilaku dan orientasi seksnya.
·         Menghasilkan perubahan dan kebiasaan perilaku yang bertanggung jawab
·         Mengajarkan keterampilan membuat keputusan merujuk klien pada lembaga lain yang lebih berkompeten
                  Selain tujuan secara umum dari konseling seksualitas tersebut konseling seksualitas juga berfungsi sebagai sarana untuk mendapatkan informasi tentang seksualitas bagi siapapun khususnya remaja. Selama ini sarana-sarana yang dipakai oleh remaja untuk memenuhi keingintahuan mereka pada masalah seksualitas didapatkan dari buku populer tentang seksualitas, diskusi dengan teman sekolahnya, dan nonton film atau video. Informasi yang didapatkan dari berbagai media tersebut seringkali tidak benar, penuh mitos dan salah satu dari bias gender. Melalui konseling seksualitas, remaja akan memperoleh informasi yang benar dan bertanggung jawab dari konselor yang bersangkutan. Remaja juga dapat berdiskusi dengan konselor mengenai problem seksualitas sehingga pada akhirnya remaja bisa memahami nilai pribadinya, sikap dan perilaku seksualnya, serta belajar untuk mengambil keputusan lebih lanjut. Dengan demikian, ketika remaja mempunyai masalah, dia mendapat dukungan dari orang yang bisa memahami masalahnya.
C. Langkah – Langkah Konseling Seksualitas Remaja
                  
Di dalam konseling seksualitas remaja, diperlukan adanya sebuah Konselor yang memiliki pengetahuan, wawasan, dan ketrampilan komunikasi yang baik. Untuk dapat memberi informasi yang benar, konselor harus memiliki pengetahuan dan wawasan yang memadai dan dapat menyampaikannya dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti oleh remaja.
           
                        Adapun langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam melakukan konseling seksualitas remaja adalah sebagai berikut:
1. Saling memperkenalkan diri antara konselor dan klien
2. Konselor melakukan rapport (pendekatan) kepada klien untuk mengkondisikan                 klien supaya bisa mengungkapkan masalahnya dengan aman dan nyaman. Hal ini bisa dilakukan dengan menggali identitas klien tanpa klien merasa dirinya 'diselidiki'
3. Setelah suasana mencair, konselor mulai menggali masalah klien, mulai dari latar belakang sampai usaha yang sudah dilakukan untuk memecahkan masalah serta hasilnya
4. Diskusikan alternatif pemecahan masalah yang dihadapi, konselor memberikan informasi mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas sesuai dengan kebutuhan klien
5. Ajak klien menentukan alternatif yang terbaik untuk dia
6. Ajak klien untuk memecahkan tindak lanjut dan proses konseling yang sudah dilakukan
Sedangkan peran konselor di dalam proses konseling seksualitas remaja konselor adalah orang yang bisa melihat permasalahan dari sudut pandang remaja (empati) dan tidak menghakimi atas perilaku seks remaja. Konselor mengajak remaja untuk mengambil keputusan berdasarkan pilihan-pilihan yang ada beserta konsekuensinya, serta melatih keterampilan komunikasi dan bernegoisasi dengan pasangannya. Dalam konseling ini, remaja diharapkan mampu meningkatkan kewaspadaannya terhadap pengetahuan yang berhubungan dengan seksualitas (proses terjadinya kehamilan, fakta dan mitos seksualitas, bagaimana penularan HIV/AIDS dan cara menghindarinya, dan pemeliharaan organ reproduksi), meningkatkan penghargaan terhadap diri sendiri, dan meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan secara bertanggung jawab.
D.   Aspek-aspek perkembangan pada masa remaja
                        Yang dimaksud dengan perkembangan adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan (Papalia & Olds, 2001). Perubahan itu dapat terjadi secara kuantitatif, misalnya pertambahan tinggi atau berat tubuh; dan kualitatif, misalnya perubahan cara berpikir secara konkret menjadi abstrak (Papalia dan Olds, 2001). Perkembangan dalam kehidupan manusia terjadi pada aspek-aspek yang berbeda. Ada tiga aspek perkembangan yang dikemukakan Papalia dan Olds (2001), yaitu:
1.      Perkembangan Fisik
                        Yang dimaksud dengan perkembangan fisik adalah perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris dan ketrampilan motorik (Papalia & Olds, 2001). Perubahan pada tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi. Tubuh remaja mulai beralih dari tubuh kanak-kanak yang cirinya adalah pertumbuhan menjadi tubuh orang dewasa yang cirinya adalah kematangan. Perubahan fisik otak sehingga strukturnya semakin sempurna meningkatkan kemampuan kognitif (Piaget dalam Papalia dan Olds, 2001).

2.      Perkembangan Kognitif
               Menurut Piaget (dalam Santrock, 2001), seorang remaja termotivasi untuk memahami dunia karena perilaku adaptasi secara biologis mereka. Dalam pandangan Piaget, remaja secara aktif membangun dunia kognitif mereka, di mana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam skema kognitif mereka. Remaja sudah mampu membedakan antara hal-hal atau ide-ide yang lebih penting dibanding ide lainnya, lalu remaja juga menghubungkan ide-ide tersebut. Seorang remaja tidak saja mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu mengolah cara berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide baru.
                        Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Piaget (dalam Papalia & Olds, 2001) mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal (dalam Papalia & Olds, 2001).

3.      Perkembangan kepribadian dan social
                        Yang dimaksud dengan perkembangan kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan dengan dunia dan menyatakan emosi secara unik; sedangkan perkembangan sosial berarti perubahan dalam berhubungan dengan orang lain (Papalia & Olds, 2001). Perkembangan kepribadian yang penting pada masa remaja adalah pencarian identitas diri. Yang dimaksud dengan pencarian identitas diri adalah proses menjadi seorang yang unik dengan peran yang penting dalam hidup (Erikson dalam Papalia & Olds, 2001).
   Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler dan bermain dengan teman (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman sebaya adalah besar.
            Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya (Conger, 1991).
E.   Ciri-ciri Masa Remaja
                   Masa remaja adalah suatu masa perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik, maupun psikologis. Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja.
  1. Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal dengan sebagai masa storm & stress. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja. Dari segi kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa ini banyak tuntutan dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya mereka diharapkan untuk tidak lagi bertingkah seperti anak-anak, mereka harus lebih mandiri dan bertanggung jawab. Kemandirian dan tanggung jawab ini akan terbentuk seiring berjalannya waktu, dan akan nampak jelas pada remaja akhir yang duduk di awal-awal masa kuliah.
  2. Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai kematangan seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri. Perubahan fisik yang terjadi secara cepat, baik perubahan internal seperti sistem sirkulasi, pencernaan, dan sistem respirasi maupun perubahan eksternal seperti tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh terhadap konsep diri remaja.
  3. Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain. Selama masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi dirinya dibawa dari masa kanak-kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang. Hal ini juga dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada masa remaja, maka remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal-hal yang lebih penting. Perubahan juga terjadi dalam hubungan dengan orang lain. Remaja tidak lagi berhubungan hanya dengan individu dari jenis kelamin yang sama, tetapi juga dengan lawan jenis, dan dengan orang dewasa.
  4. Perubahan nilai, dimana apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-kanak menjadi kurang penting karena sudah mendekati dewasa.
  5. Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Di satu sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan tersebut, serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab tersebut.
F.      Tugas perkembangan remaja
     Tugas perkembangan remaja menurut Havighurst dalam Gunarsa (1991) antara lain :
  • memperluas hubungan antara pribadi dan berkomunikasi secara lebih dewasa dengan kawan sebaya, baik laki-laki maupun perempuan
  • memperoleh peranan sosial
  • menerima kebutuhannya dan menggunakannya dengan efektif
  • memperoleh kebebasan emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya
  • mencapai kepastian akan kebebasan dan kemampuan berdiri sendiri
  • memilih dan mempersiapkan lapangan pekerjaan
  • mempersiapkan diri dalam pembentukan keluarga
  • membentuk sistem nilai, moralitas dan falsafah hidup
                        Erikson (1968, dalam Papalia, Olds & Feldman, 2001) mengatakan bahwa tugas utama remaja adalah menghadapi identity versus identity confusion, yang merupakan krisis ke-5 dalam tahap perkembangan psikososial yang diutarakannya. Tugas perkembangan ini bertujuan untuk mencari identitas diri agar nantinya remaja dapat menjadi orang dewasa yang unik dengan sense of self yang koheren dan peran yang bernilai di masyarakat (Papalia, Olds & Feldman, 2001).
                        Untuk menyelesaikan krisis ini remaja harus berusaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa perannya dalam masyarakat, apakah nantinya ia akan berhasil atau gagal yang pada akhirnya menuntut seorang remaja untuk melakukan penyesuaian mental, dan menentukan peran, sikap, nilai, serta minat yang dimilikinya.



















BAB III
PENUTUP


A.   Kesimpulan
                        Konseling pada remaja adalah proses pemberian bantuan dari konselor kepada seorang klien atau sekelompok orang yang memiliki masalah seksualitas dan kesehatan reproduksi sesuai dengan umur dan permasalahan, perkembangan fisik dan mental pada masa pubertas, misalnya masalah seputar pacaran, perilaku seks, kesehatan reproduksi secara umum, body image, masalah dalam kehidupan perkawinan, HIV/AIDS, penyakit menular seksual dan kehamilan tidak diinginkan.

B.   Saran

Ø  Masa remaja adalah masa yang sangat penting karena masa remaja merupakan masa yang paling rawan. Karena apabila remaja salah dalam mengambil langkah maka akibatnya akan terasa seketika itu juga bahkan jangka panjang baik fisik maupun psikologisnya. Ini dikarenakan selain perkembangan fisik yang sangat pesat remaja juga harus mengimbanginya dengan perkembangan mentalnya.
Ø  Masa remaja merupakan masa yang tidak realistis. Didalam memandang diri sendiri dan orang lain, remaja cenderung melihatnya dari sisi yang dia inginkan bukan sebagaimana adanya. Tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga keluarga dan teman-temannya. Ini semua mengakibatkan tingginya emosi dan kecewa jika orang lain membuat kecewa remaja ataupun tidak tercapainya pa yang di inginkan.




0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:
Free Blog Templates