Sabtu, 23 Oktober 2010

OBAT ANALGETIK

BAB I
PENDAHULUAN


A.    LATAR BELAKANG

Orang yang sakit mulanya enggan pergi ke dokter. Alasannya macam-macam: Sakit disuntik, tak punya uang, sakitnya tidak parah, dll. Tapi bila sakitnya sudah tak tertahankan lagi, akhirnya ia menyerah juga. Dari berbagai jenis obat yang diresepkan dokter, adakalanya obat penghilang rasa sakit alias analgesic
Darimana asal rasa sakit itu? Tubuh manusia terdiri dari ratusan ujung saraf yang sangat peka. Benang-benang saraf ini berjalinan membentuk sebuah jaringan. Bila jaringan ini terkoyak atau robek, ditempat itu akan muncul zat kimia yang disebut prostaglandin. Zat ini dapat merangsang ujung saraf untuk mengirimkan “rasa sakit” ke otak. Orang itupun merasa kesakitan. Adapun tugas analgesik adalah menyetop produksi prostaglandin ini.
            Analgesik opioid merupakan kelompok obat yang memiliki sifat seperti opium. Opium yang berasal dari getah papaver samniferum mengandung sekitar 20 jenis alkaloid, diantaranya morfin, kodein, tebain dan papaverin. Analgesik opioid terutama digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri, meskipun juga memperlihatkan berbagai efek farmakodinamik yang lain. Istilah analgesik narkotika dahulua seringkali digunakan untuk kelompok obat ini, akan tetapi karena golongan obat ini dapat menimbulkan analgesia tanpa menyebabkan tidur atau menurunnya kesadaran maka istilah analgesik narkotik menjadi kurang tepat, yang termask golongan opioid adalah alkaloid opium, derivat semisintetik alkaloid opium, senyawa sintetik dengan sifat farmakologi menyerupai morfin. Obat yang mengantagonis efek opioid disebut antagonis opioid.
            Nyeri merupakan respon langsung terhadp kejadian peristiwa yang tidak menyenangkan yang berhubungan dengan kerusakan jaringan seperti luka, inflamasi, atau kanker, nyeri juga dapat dikatakan sebagai perasaan sensoris dan emosional yang tidak enak dan yang berkaitan dengan (ancaman) kerusakan jaringan. Nyeri merupakan suatu perasaan pribadi dimana ambang toleransi nyeri berbeda-beda bagi setiap orang. Ambang nyeri didefinisikan sebagai tingkat (level), dimana nyeri dirasakan untuk pertama kali.
B.     RUMUSAN MASALAH
1. Pengertian analgesik opioid
2. Golongan obat analgesik opioid.
3. Bahan-bahan opioid yang disalahgunakan di masyarakat.
4. Efek yang ditimbulkan oleh opioid.
5. Gejala putus obat dari ketergantungan opioid.

C.    TUJUAN MAKALAH
1. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan pengertian analgesik opioid.
2. Untuk mengetahui golongan obat analgesik opioid.
3. Untuk mengetahui bahan-bahan opioid yang disalahgunakan di masyarakat.
4. Untuk mengetahui efek yang ditimbulkan oleh opioid.
5. Untuk mengetahui gejala putus obat dari ketergantungan opioid.

D.    KEGUNAAN MAKALAH
Penulis menyusun makalah yang berjudul Ana;gesik Opioid guna memberikan pembahasan yang lebih jelas tentang judul yang penulis angkat, sehingga diketahui pentingnya mengetahui pengetahuan farmakologi, khususnya analgesik opioid agar seorang tenaga kesehatan memiliki pengetahuan farmakologi yang baik.

E.   PROSEDUR MAKALAH
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menggunakan metode studi literatur, metode literatur merupakan teknik pengumpulan data melalui pengambilan dari buku-buku panduan yang telah diteliti.










BAB II
PEMBAHASAN



  1. PENGERTIAN OBAT ANALGETIK
Analgetik adalah obat yang mengurangi atau  melenyapkan rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Antipiretik adalah obat yang menurunkan suhu tubuh yang tinggi. Jadi analgetik-antipiretik adalah obat yang mengurangi rasa nyeri dan serentak menurunkan suhu tubuh yang tinggi.  Rasa nyeri hanya merupakan suatu gejala, fungsinya memberi tanda tentang adanya gangguan-gangguan di tubuh seperti peradangan, infeksi kuman atau kejang otot. Rasa nyeri disebabkan rangsang mekanis atau kimiawi, kalor atau listrik, yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan dan melepaskan zat yang disebut mediator nyeri (pengantara) (Anief, 1995).
Zat ini merangsang, reseptor nyeri yang letaknya pada ujung syaraf bebas di kulit, selaput  lendir dan jaringan lain. Dari tempat ini rangsang dialirkan melalui syaraf sensoris ke S.S.P (Susunan Syaraf Pusat), melalui sumsum tulang belakang ke talamus (optikus) kemudian ke pusat nyeri dalam otak besar, di mana rangsang terasa sebagai nyeri (Anief, 1995).
Obat analgetik atau obat penghilang atau mengurangi rasa nyeri pada tubuh.
ANALGETIKA
            Obat analgetik atau bahasa simpelnya adalah obat penghilang atau setidaknya mengurangi rasa nyeri yang hebat pada tubuh seperti patah tulang dan penyakit kanker kronis
            Analgetika merupakan suatu senyawa atau obat yang dipergunakan untuk mengurangi rasa sakit atau nyeri (diakibatkan oleh berbagai rangsangan pada tubuh misalnya rangsangan mekanis, kimiawi dan fisis sehingga menimbulkan kerusakan pada jaringan yang memicu pelepasan mediator nyeri seperti brodikinin dan prostaglandin yang akhirnya mengaktivasi reseptor nyeri di saraf perifer dan diteruskan ke otak) yang secara umum dapat dibagi dalam dua golongan, yaitu analgetika non narkotik (seperti: asetosat, parasetamol) dan analgetika narkotik (seperti : morfin).
Terkadang, nyeri dapat berarti perasaan emosional yang tidak nyaman dan berkaitan dengan ancaman seperti kerusakan pada jaringan karena pada dasarnya rasa nyeri merupakan suatu gejala, serta isyarat bahaya tentang adanya gangguan pada tubuh umumnya dan jaringan khususnya. Meskipun terbilang ampuh, jenis obat ini umumnya dapat menimbulkan ketergantungan pada pemakai
Untuk mengurangi atau meredakan rasa sakit atau nyeri tersebut maka banyak digunakan obat-obat analgetik (seperti parasetamol, asam mefenamat dan antalgin) yang bekerja dengan memblokir pelepasan mediator nyeri sehingga reseptor nyeri tidak menerima rangsang nyeri.
Terdapat perbedaan mencolok antara analgetika dengan anastetika umum yaitu meskipun sama-sama berfungsi sebagai zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri namun, analgetika bekerja tanpa menghilangkan kesadaraan. Nyeri sendiri terjadi akibat rangsangan mekanis, kimiawi, atau fisis yang memicu pelepasan mediator nyeri. Intensitas rangsangan terendah saat seseorang merasakan nyeri dinamakan ambang nyeri (Tjay, 2002).
Analgetika yang bekerja perifer atau kecil memiliki kerja antipiretik dan juga komponen kerja antiflogistika dengan pengecualian turunan asetilanilida (Anonim, 2005).
Nyeri ringan dapat ditangani dengan obat perifer (parasetamol, asetosal, mefenamat atau aminofenazon). Untuk nyeri sedang dapat ditambahkan kofein dan kodein. Nyeri yang disertai pembengkakan sebaiknya diobati dengan suatu analgetikum antiradang (aminofenazon, mefenaminat dan nifluminat). Nyeri yang hebat perlu ditanggulangi dengan morfin. Obat terakhir yang disebut dapat menimbulkan ketagihan dan menimbulkan efek samping sentral yang merugikan (Tjay, 2002).

B.     JENIS-JENIS OBAT ANALGETIK
Kombinasi dari 2 analgetik sangat sering digunakan karena terjadi efek potensial misalnya kofein dan kodein khususnya dalam sediaan parasetamol dan asetosal
Berdasarkan kerja farmakologisnya, analgetika dibagi dalam dua kelompok besar yaitu:
1.      Obat Analgetik Narkotik
Obat Analgetik Narkotik merupakan kelompok obat yang memiliki sifat opium atau morfin. Analgetika narkotik, khusus digunakan untuk mengahalau rasa nyeri hebat, seperti pada fractura dan kanker. Meskipun memperlihatkan berbagai efek farmakodinamik yang lain, golongan obat ini terutama digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri yang hebat. Meskipun terbilang ampuh, jenis obat ini umumnya dapat menimbulkan ketergantungan pada pemakai. Obat Analgetik Narkotik ini biasanya khusus digunakan untuk mengahalau rasa nyeri hebat, seperti pada kasus patah tulang dan penyakit kanker kronis.
Tetapi semua analgesik opioid menimbulkan adiksi/ketergantungan, maka usaha untuk mendapatkan suatu analgesik yang ideal masih tetap diteruskan dengan tujuan mendapatkan analgesik yang sama kuat dengan morfin tanpa bahaya adiksi.

Ada 3 golongan obat ini yaitu :
1.      Obat yang berasal dari opium-morfin,
2.      Senyawa semisintetik morfin, dan
3.      Senyawa sintetik yang berefek seperti morfin.

2. Obat Analgetik Non-Narkotik
Obat Analgesik Non-Nakotik dalam Ilmu Farmakologi juga sering dikenal dengan istilah Analgetik/Analgetika/Analgesik Perifer. Analgetika perifer (non-narkotik), yang terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral. Penggunaan Obat Analgetik Non-Narkotik atau Obat Analgesik Perifer ini cenderung mampu menghilangkan atau meringankan rasa sakit tanpa berpengaruh pada sistem susunan saraf pusat atau bahkan hingga efek menurunkan tingkat kesadaran. Obat Analgetik Non-Narkotik / Obat Analgesik Perifer ini juga tidak mengakibatkan efek ketagihan pada pengguna (berbeda halnya dengan penggunanaan Obat Analgetika jenis Analgetik Narkotik).
            Efek samping obat-pbat analgesik perifer: kerusakan lambung, kerusakan darah, kerusakan hati dan ginjal, kerusakan kulit
Penggunanan analgetik dalam dosis tinggi dan lama sangat tidak dianjurkan
Interaksi: kebanyakan analgetik memperkuat efek antiguakulansia kecuali parasetamol dan glafenin. Kedua obat ini pada dosis biasa dapat dikombinasi dengan aman untuk jangka waktu 2 minggu
Pada wanita hamil obat analgesik sangat tidak dianjurkan kecuali parasetamol karena dapat mengganggu perkembangan janin
Penggunaan analgetika perifer mampu meringankan atau menghilangkan rasa nyeri, tanpa mempengaruhi SSP atau menurunkan kesadaran, juga tidak menimbulkan ketagihan. Kombinasi dari dua atau lebih analgetika sering kali digunakan, karena terjadi efek potensiasi (Tjay, 2002).
Analgetika narkotik merupakan kelompok obat yang memiliki sifat-sifat seperti opium atau morfin. Meskipun memperlihatkan berbagai efek farmakodinamik yang lain, golongan obat ini terutama digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri yang hebat. Meskipun terbilang ampuh, jenis ini dapat menimbulkan ketergantungan pada si pemakai. Seiring berjalannya waktu, ditemukannya obat yang bersifat campuran agonis dan antagonis jenis ini yang mampu meniadakan ketergantungan fisik, maka penggunaan istilah analgesik narkotik untuk pengertian farmakologik tidak sesuai lagi (Anonim, 1995).
















BAB III
PENUTUP


A.    KESIMPULAN
Analgesik opioid merupakan kelompok obat yang memiliki obat seperti opium. Opium atau opiat berasal dari kata opium, papaver somniverum, yang mengandung kira-kira 20 alkaloid opium, termasuk morfin atau derivat dari opium dan narkotik, yaitu suatu preparat atau derivat dari ovium dan narkotik sintetik yang kerjanya menyerupai opiat tetapi tidak didapatkan adri opium. Opiat alami lain atau opiat yang disintetis dari opiat alami adalah heroin (diacethylmorphine), kodein (3-methoxy morphine) dan hydramorphone (dilandid).
Tetap semua analgesik opioid menimbulkan adiksi/ ketergantungan, maka usaha utuk mendapatkan suatu analgesik yang ideal masih tetap diteruskan dengan tujuan mendapatkan analgesik yang sama kuat dengan morfin tanpa bahaya adiksi.

B. SARAN
Dilihat dari pengertian dan efek yang ditimbulkan dalam pemakaian analgesik opioid yang disalahgunakan dapat menimbulkan adiksi/ ketergantungan, hal ini gilirannya justru bisa memicu timbulnya penyakit-penyakit lainnya.


0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:
Free Blog Templates