Sabtu, 15 Januari 2011

ASUHAN KEBIDANAN KEPADA IBU HAMIL DENGAN PRE-EKLAMPSI SEDANG

TINJAUAN PUSTAKA


A. Definisi
(Menurut Sarwono, 2005 “ILMU KEBIDANAN”)
Pre eklampsia ialah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema dan protein urine yang timbul karena kehamilan. Penyakit ini umumnya timbul dalam triwulan ke-3 kehamilan. Hipertensi biasanya timbul lebih dulu daripada tanda-tanda lain. Umumnya untuk menegakkan diagnostik pre-eklampsia, kenaikan tekanan siskolik harus 30 mmHg atau lebih di atas tekanan yang biasanya ditemukan, atau mencapai 140 mmHg atau lebih, Apabila tekanan diastolik naik hingga 15 mmHg / lebih / mencapai 90 mmHg atau lebih. Maka diagnosis hipertensi dapat dibuat. Penentuan TD dilakukan minimal 2x dengan jarak 6 jam pada keadaan istirahat.
Edema ialah penimbunan cairan secara umum dan berlebihan dalam jaringan tubuh dan biasanya dapat diketahui dari kenaikan BB serta pembengkakan kaki, jari tangan dan muka. Edema Pretibial yang ringan sering ditemukan pada kehamilan biasa sehingga tidak seberapa berarti untuk penentuan diagnosis pre-eklampsia. Kenaikan BB ½ kg setiap minggu dalam kehamilan masih dapat dianggap normal. Tetapi bila kenaikan 1 kg seminggu beberapa kali, hal ini perlu menimbulkan kewaspadaan terhadap timbulnya pre-eklampsia.
Protein Nuria berarti konsentrasi protein dalam air kencing melebihi 0,3 g/dl. Dalam air kencing 24 jam atau pemeriksaan kualitatif menujukkan ½+ atau 1 g/dl atau lebih dalam air kencing yang dikeluarkan dengan kateter atau midstream yang di ambil minimal 2x dengan jarak waktu 6 jam. Biasanya protein uria timbul lebih lambat daripada hipertensi dan kenaikan BB karena itu dianggap sebagai tanda yang cukup serius.



B. Pre-eklampsia digolongkan menjadi PE ringan, sedang dan berat.
(Menurut Sarwono, 2005 “ILMU KEBIDANAN”)
Diagnosis Tekanan Darah Tanda Lain
Pre-Eklamsi Ringan Kenaikan TD diastolic 15 mmHg/79 mmHg dengan 2x pengamatan berjarak 1 jam / tekanan diastolic mencapai 110 mmHg. Protein Urin +1
Pre-Eklamsi Sedang Kenaikan TD systolic 30 mmHg / lebih atau mencapai 140 mmHg Protein urin positif 2 oedem umum, kaki, jari tangan dan muka, kenaikan BB  1 kg tiap minggu.
Pre-Eklamsi Berat Tekanan diastolic >110 mmHg Protein urine positif ¾ oliguria (urine  5 gr/L) hiperefleksia, gangguan penglihatan, nyeri epigastrik, terdapat oedem paru dan sinosis.

Frekuensi
(Menurut Sarwono, 2005 “ILMU KEBIDANAN”)
Frekuensi pre-eklampsia untuk tiap Negara berbeda-beda karena banyak faktor yang mempengaruhinya, jumlah primigravida, keadaan social ekonomi, perbedaan kriterium dalam penentuan diagnosis, dll. Dalam kepustakaan frekuensi di laporkan berkisar antara 3 – 10 %.
Pada primigravida frekuensi pre-eklampsia lebih tinggi bila dibandingkan denga multigravida, terutama primigravida muda, DM, mola hidatidosa, kehamilan ganda, hidrops fetalis, umur lebih dari 35 tahun, dan obesitas merupakan faktor predisposisi untuk terjadinya pre-eklampsia.


Etiologi
(Menurut Sarwono, 2005 “ILMU KEBIDANAN”)
Penyebab pre-eklampsia bel;um diketahui dengan pasti. Banyak teori yang coba dikemukanan pada ahli untuk menerangkan penyebabnya, namun belum ada jawaban yang memuaskan. Teori yang sekarang dipakai adalah teori isthemik placenta. Namun teori ini juga belum mampu menerangkan semua hal yang berhubungan dengan penyakit ini.

Patofisiologi
(Menurut Sarwono, 2005 “ILMU KEBIDANAN”)
Pada pre-eklampsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Pada biopsy ginjal ditemukan spasme hebat arteriole glomerulus. Jika semua arteriole dalam tubuh mengalami spasme maka TD akan naik, sebagai usaha untuk mengatasi kenaikan tekanan perifer agar oksigen tercukupi.
Sedangkan kenaikan BB mungkin disebabkan karena penimbunan air yang belebihan dalam ruangan interstisial karena retensi air dan garam disebabkan oleh arteriole sehingga terjadi perubahan pada glomerolus.

Perubahan Pada Organ-organ
(Menurut Sarwono, 2005 “ILMU KEBIDANAN”)
1. Otak
Pada Pre eklamsi aliran darah dan pemakaian O2 tetap dalam batas-batas normal ditemukan oedem-oedem dan anemia pada kortex serebri.
2. Placenta dan Rahim
Aliran darah menurun ke plasenta dan menyebabkan gangguan plasenta sehingga terjadi gangguan pertumbuhan janin karena kekurangan O2 sehingga terjadi gawat janin. Sering terjadi peningkatan tonus rahim dan kepekaannya terhadap rangsangan, sehingga sering terjadi partus prematur.

3. Ginjal
Filtasri glomerolus berkurang karena aliran darah ke ginjal menurun. Hal ini menyebabkan filtrasi natrium melalui glomerolus menurun sehingga akibatnya terjadilah retensi air dan garam. Filtrasi glomerolus dapat terjadi penurunan hingga 50% dari normal sehingga pada keadaan lebih lanjut dapat terjadi oliguria/anuria.

4. Hati
Besarnya normal. Pada permukaan dan pembelahan tampak tempat-tempat perdarahan yang tidak teratur. Pada pemeriksaan miksroskopik dapat ditemukan perdarahan dan nekrosis pada tepi lobulus disertai trombosis pada pembuluh darah kecil, terutama di sekitar vena porta.
5. Retina
Sering ditemukan spasme pada anteride terutama yang dekat pada discus optikus vena tampak lekuk pada persimpanan arteriole. Dapat terlihat oedem pada discus optikus dan retina. Ablasia retina juga dapat terjadi tetapi komplikasi ini prognosisnya baik. Karena retina akan melekat lagi. Beberapa minggu PP (Post Partum) perdarahan dan eksudat jarang ditemukan pada pre-eklampsia biasanya hal ini menunjukkan hipertensi menahun.
6. Paru-paru
Paru-paru menunjukkan berbagai tingkat oedema dan perubahan-perubahan bronkopnemonia sebagai akibat aspirasi, kadang-kadang ditemukan abses paru-paru.
7. Jantung
Pada sebagian besar penderita yang mati karena eklampsia, jantung biasanya mengalami perubahan degeneratif pada mikardium. Sering ditemukan degerasi lemak dan cludy swelling serta nekrosis dan perdarahan.

8. Kelenjar Adrenalin
Kelenjar adrenal dapat menunjukkan kelainan berupa perdarahan-perdarahan bekrosis dalam berbagai tingkatan.

Gambaran klinisk
(Menurut Sarwono, 2005 “ILMU KEBIDANAN”)
Biasanya tanda-tanda pre-eklampsia timbul dalam urutan:
1. Penambahan BB yang berlebihan.
2. Diikuti dengan oedem.
3. Akhirnya protein nuria.
4. TD yang tinggi di atas 130 mmHg.

Pencegahan
(Menurut Sarwono, 2005 “ILMU KEBIDANAN”)
Pemeriksaan antenatal yang teratur dan teliti dapat menemukan tanda atau gejala dini pre-eklampsia dan dalam hal ini harus dilakukan penanganan sebagaimana mestinya. Harus waspada terhadap faktor-faktor predisposisi yang telah diuraikan diatas. Walaupun timbulnya pre-eklampsia tidak dapat dicegah sepenuhnya, namun frekuensinya dapat dikurangi dengan pemberian penerangan secukupnya dan pelaksanaan pengawasan antenatal yang baik pada wanita hamil. Penerangan tentang manfaat istirahat dan diet berguna dalam pencegahan istirahat tidak selalu berarti harus berbaring di tempat tidur. Namun pekerjaan sehari-hari perlu dikurangi dan dianjurkan lebih banyak duduk dan berbaring. Diet tinggi protein dan rendah lemak, karbohidrat, garam dan penambahan BB yang belebihan perlu dianjurkan, mengenal secara dini pre-eklampsia dan segera merawat penderita tanpa memberikan diuretik dan obat anti hipertensi merupakan kemajuan yang penting dari pemeriksaan antenatal yang baik



Komplikasi
(Menurut FKUI, 2001 “KAPITA SELEKTA KEDOTERAN”)
Tergantung derajat pre-eklampsianya, yang termasuk komplikasi antara lain atonia uteri (uterus couvelaire), sindrom HELLP (Haemolysis Elevated Liver Enzymes, Low Platelet Cown), ablasi retina, KID (Koagulasi Intra Vaskular Diseminata), gagal ginjal, perdarahan otal, oedem paru, gagal jantung, syok dan kematian.
Komplikasi pada janin berhubungan dengan akut kronisnya insufisiensi uteroplasental, misalnya pertumbuhan janin terhambat dan prematuritas.

Pemeriksaan Penunjang
(Menurut FKUI, 2001 “KAPITA SELEKTA KEDOTERAN”)
a. Urin : protein, reduksi, bilirubin, sediment urin.
b. Darah : trombosit, ureum, kreatinin, SGOT, LOH dan bilirubin.
c. USG,

Penanganan
(Menurut Sarwono, 2005“BUKU ACUAN NASIONAL PELAYANAN KESEHATAN MATERNAL DAN NEONATAL”)
Jika kehamilan < 37 minggu dan tidak ada tanda-tanda perbaikan, lakukan penilaian 2x seminggu secara rawat jalan. a. Pantau tekanan darah, proteinuri, refleks, dan kondisi janin. b. Lebih banyak istirahat. c. Diet biasa. d. Tidak perlu diberi obat-obatan. e. Jika rawat jalan tidak mungkin, rawat di rumah sakit. 1. Diet biasa. 2. Pantau TD 2x sehari, proteinuria 1x sehari. 3. Tidak perlu obat-obatan. 4. Tidak perlu diuretik, kecuali jika terdapat oedem paru, dekompensasi cordis atau gagal ginjal akut. 5. Jika tekanan diastolik belum turun sampai normal pasien dapat dipulangkan. a. Nasehatkan untuk istirahat dan perhatikan tanda-tanda PE. b. Kontrol 2 kali seminggu. c. Jika tekanan diastolic naik lagi rawat kembali. 6. Jika tidak ada tanda-tanda perbaikan tetap dirawat. 7. Jika terdapat tanda-tanda pertumbuhan janin terhambat, pertimbangkan terminasi kehamilan. 8. Jika proteinuria meningkat, tangani sebagai pre-eklampsi berat. Jika kehamilan > 37 minggu pertimbangkan terminasi.
a. Jka serviks matang, lakukan induksi dengan oksitosin 5 IU dalam 200 ml dekstrose IV 10 tetes/menit atau dengan prostaglandin.
b. Jika serviks belum matang, berikan prostaglansin, misoprostol atau kateter foly atau terminasi dengan seksia sesarea.


ASUHAN KEBIDANAN TERHADAP NY. “C”
DENGAN PRE-EKLAMPSIA SEDANG DI RB PERMATA


I. Pengumpulan Data Dasar
Tanggal 20 Desember 2007, pukul 08.00 WIB.
A. Pengkajian
1. Data Subjektif
Identitas/Biodata
Nama Pasien : Ny. “C” Nama Suami : Tn. “E”
Umur : 22 Tahun Umur : 27 Tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Suku : Jawa Suku : Jawa
Pendidikan : SMP Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Srimenanti Alamat : Srimenanti
No.23 Dusun I No.23 Dusun.I
Sribawono Sribawono

2. Anamnesa
1. Alasan kunjungan saat ini.
Ibu datang dengan nyeri perut, ibu mengatakan ada bengkak pada kaki dan wajah, pinggang kanan terasa panas, kadang-kadang sakit kepala.
2. Riwayat kehamilan saat ini.
Riwayat menstruasi.
a. HPHT : 21 April 2007
b. Haid sebelum : 20 Maret 2007
c. Lamanya : 7 hari
d. Siklus : 30 hari
e. Banyaknya : 4x ganti pembalut
f. Sifat darah : Encer dan kental
HPHT : 21 April 2007
Taksiran partus : 28 Januari 2008
Hasil test : Pemeriksaan kehamilan pada tanggal 5 Juli 2007 (+)
3. Pergerakan fetus yang dirasakan pertama kali pada kehamilan 24 minggu dan sampai sekarang masih dirasakan gerakan fetus 10 – 15 kali dalam 24 jam terakhir.
4. Keluhan yang dirasakan
a. Mules dan muntah yang lama : Tidak ada
b. Nyeri perut : Ya
c. Panas menggigil : Tidak ada
d. Sakit kepala berat / terus menerus : Kadang-kadang
e. Penglihatan kabur : Tidak ada
f. Rasa nyeri / panas waktu BAK : Tidak ada
g. Rasa gatal pada vulva dan vagina : Tidak ada
h. Pengeluaran cairan pervaginaan : Tidak ada
i. Nyeri, kemerahan, tegang pada tungkai : Tidak ada
j. Oedem : ada
5. Makan sehari-hari 2 – 3x/hari porsi sepiring nasi, lauk-pauk, sayur, buah dan susu.
a. Pola Eliminasi
BAB : Sebelum Hamil : 1 x/hari
Sesudah hamil : 1 x/hari
BAK : Sebelum hamil : 7 – 8 x/hari
Sesudah hamil : 9 – 10 x/hari

b. Aktivitas sehari-hari
Pola istirahat dan tidur.
Sebelum hamil : Ibu tidur 6 – 8 jam/hari
Sesudah hamil : Ibu tidur 4 – 5 jam/hari
c. Seksualitas : Berkurang dari biasanya yaitu 1 x/seminggu
d. Pekerjaan : Melakukan pekerjaan rumah tangga sehari-hari.
e. Imunisasi : TT1 pada kehamilan 20 minggu di RB Permata
TT2 pada kehamilan 24 minggu di RB Permata
f. Kontrasepsi yang pernah digunakan.
Klien menggunakan kontrasepsi : Pil.

6. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat penyakit yang pernah /sedang diderita.
Klien tidak pernah atau sedang menderita penyakit yang serius seperti jantung, hipertensi, hepar, DM, anemia, campak, malaria, TBC, gangguan mental dan operasi.
b. Perilaku kesehatan.
Klien tidak pernah minum-minuman yang mengandung alkohol atau obat-obatan sejenisnya. Serta klien tidak pernah merokok.
Pencucian vagina dilakukan dengan menggunakan sabun mandi setiap kali mandi, BAK tidak melakukan senam hamil dan breast care.
c. Riwayat Psikososial.
Apakah kehamilan ini direncanakan/diinginkan : Ya
Respon terhadap kehamilan : Suami dan keluarga mereka senang atas kehamilannya.
Status perkawinan : Menikah secara resmi sebagai isteri pertama.
Jumlah : 1x
Lama perkawinan : 1 tahun.
Susunan keluarga yang tinggal serumah : Klien tinggal bersama suami dan kedua orang tua.
Kepercayaan yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan dan nifas : tidak boleh menyiapkan perlengkapan bayinya sebelum lahir.
d. Riwayat Kesehatan Keluarga
Keluarga tidak ada yang menderita penyakit menular maupun penyakit keturunan.
3. Data Objektif.
a. Tanda-tanda vital
1. Tekanan darah : 140/80 mmHg
2. Suhu tubuh : 37 C
3. Pols : 84 x/menit
4. Respirasi : 16 x/menit
b. Pemeriksaan
Keadaan umum : Baik
Keadaan emosional : Klien terlihat senang dan tenang
c. Tinggi badan : 150 cm
Berat badan : Sebelum hamil : 39 kg
Sesudah hamil : 50 kg
4. Pemeriksaan fisik
a. Muka : Pada wajah terdapat oedem
Kelopak mata : Tidak terdapat kelainan, fungsi penglihatan baik.
Konjungtiva/sclera : Merah muda/putih tidak ikterik.
Cloasma gravidarum : Tidak ada.
b. Mulut dan gigi.
Lidah dan geraham : Tidak terdapat stomatitis pada lidah dan geraham berfungsi dengan baik
Gigi : Tidak terdapat caries dan jumlah lengkap.
c. Kelenjar tyroid
Tidak terdapat pembesaran kelenjar dan tanda-tanda kelainan.
d. Kelejar Getah bening
Tidak terdapat pembesaran kelenjar dan tanda-tanda kebiruan.
e. Vena jugularis
Tidak terdapat pembesaran vena jugularis.
f. Dada : Bentuk simetris, pergerakan dada teratur dan tidak ada kelainan
Jantung : Bunyi janting normal, tidak terdengar mur-mur.
Paru-paru : Bunyi paru-paru normal, tidak terdengar wheezing dan ronchi.
Payudara : Terjadi pembesaran, hiperpigmentasi pada aerola mamae, putting susu menonjol dan kotor, payudara simetris tidak terdapat benjolan dan rasa nyeri, colostrums belum keluar, terlihat agak kotor.
g. Punggung dan pinggang : Bentuk pinggang lordosis dan rasa pegal serta nyeri di pinggang.



h. Ekstrimitas
Ekstrimitas atas : Bentuknya simetris dan jari lengkap, berfungsi dengan baik serta tidak ada kelainan.
Ekstrimitas bawah : Bentuknya simetris,jari lengkap, tidak ada kemerahan dan ketegangan, ada varices, refleksi patella baik, terdapat oedem.
i. Abdomen
1. Terjadi pembesaran uterus sesuai umur kehamilan, tidak terdapat bekas luka operasi dan benjolan.
2. Leopold I : TFU ½ pusat –px tau 20 cm, pada fundus teraba lunak tidak bundar dan tidak melenting bila digoyang, yang berarti bokong,
Leopold II : Perut ibu sebelah kiri terasa lebar dan memberikan tahanan yang besar yang berarti punggung (puki).
Leopold III : Bagian terbawah janin terasa keras dan bundar serta melenting bila di goyangkan, yang berarti kepala.
3. Denyut jantung janin 142 x/menit, teratur.
4. Tidak ada strie
5. Tidak ada linea nigra
6. Tidak ada luka bekas operasi
5. Pemeriksaan laboratorium
Kadar haemoglobin : 10,6 gr%
Protein urine : Positif (+)

B. Interpretasi Data Dasar, Diagnosa, Masalah dan Kebutuhan
a. Diagnosa
Ibu G1P0A0 hamil 30 minggu, janin hidup tunggal, intrauterine, letak memanjang, prersentasi kepala dengan pre-eklampsi sedang.
Dasar : Terdapat oedem ekstrimitas dan wajah, TD 140/90 & Protein Urine (+2)
b. HPHT : 21 April 2007 , TP : 28 Januari 2008
c. Palpasi : 1. TFU ½ pusat –px sebelah kanan dan bagian kecil teraba sebelah kiri.
2. Punggung janin sebelah kanan dan bagian kecil teraba sebelah kiri
3. Bagian terbawah janin adalah kepala.
4. Djj 142 x/menit, teratur.
5. Mc Donald ; 28 cm
6. TBJ : (28 – 13) x 155 = 2.325 gram.
7. Terdapat oedem ekstrimitas.
8. Hasil pemeriksaan protein urine (+2)
d. Masalah
1. Kehamilan dengan pre-eklampsi sedang.
Dasar: TD 140/90 mmHg, protein urine (+2) , oedem ekstrimitas.
2. Gangguan pola istirahat.
e. Kebutuhan.
1. Informasi keadaan ibu dan kehamilannya.
2. Istirahat.
3. Diet.
4. Senam Hamil.
5. Dukungan psikologis.
6. Breast Care.

C. Identifikasi diagnosa dan masalah potensial.
Potensial terjadi pre-eklampsia berat dan eklampsia.

D. Identifikasi kebutuhan terhadap tindakan dan kolaborasi.
Pemantauan kehamilan dan kolaborasi jika dibutuhkan

E. Rencana Managemant
1. Beritahu Ibu tentang hasil pemeriksaan.
a. Jelaskan kondisi ibu saat ini.
b. Anjurkan ibu untuk memeriksakan kehamilannya setiap minggu.
c. Libatkan keluarga dalam memberikan dukungan pada ibu.
2. Pemberian informasi tentang pola istirahat.
a. Jelaskan pada ibu pentingnya istirahat bagi ibu hamil.
b. Anjurkan ibu untuk beristirahat pada siang hari minimal 1 jam.
c. Istirahat baring.
3. Pemberian informasi tentang senam hamil.
a. Jelaskan pada ibu tentang pentingnya senam hamil.
b. Jelaskan pada ibu manfaat senam hamil dalam persalinan.
c. Ajarkan teknik senam hamil.
d. Anjurkan untuk melakukannya di rumah.
e. Ajarkan teknik relaksasi.

4. Informasikan tentang perubahan fisiologis yang terjadi pada ibu.
5. Informasikan tanda-tanda bahaya terutama pada pre-eklampsia.
6. Anjurkan ibu untuk diet.
7. Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi Fe 1 tablet setiap hari.
8. Anjurkan ibu untuk kunjungan ulang 1 minggu yang akan datang.


F. Implementasi Langsung
a. Memberi tahu ibu tentang hasil pemeriksaan.
1. menjelaskan kondisi ibu saat ini bahwa ibu mengalami Pre-eklamsi sedang.
2. Menganjurkan ibu untuk memeriksakan kehamilannya 2x perminggu.
3. melibatkan keluarga dalam memberikan dukungan pada ibu.
b. Memberikan informasi tentang pola istirahat.
1. Menjelaskan pada ibu pentingnya istirahat bagi ibu hamil.
2. Menganjurkan ibu untuk beristirahat pada siang hari minimal 1 jam.
3. Melakukan istirahat baring walaupun tidak harus tidur, namun tidak boleh melakukan pekerjaan rumah tangga.
4. Menganjurkan ibu tidur posisi miring kekiri.
c. Memberikan informasi tentang senam hamil.
1. Menjelaskan pada ibu tentang pentingnya senam hamil.
2. Menjelaskan pada ibu manfaat senam hamil dalam persalinan karena dapat mempercepat proses persalinan juga dapat melenturkan otot-otot panggul dan perineum.
3. Menganjurkan teknik senam hamil.
4. Menganjurkan ibu hamil untuk melakukan senam hamil di rumah terutama pada pagi hari atau pada saat ibu ada waktu luang.
5. Mengajarkan teknik relaksasi sehingga dapat mengurangi keluhan ibu.
d. Memberi informasi tentang perubahan fisiologis yang terjadi pada ibu.
1. Menjelaskan pada ibu tentang perubahan yang terjadi pada dirinya.
2. Menjelaskan pada ibu bahwa rasa pegal pada pinggang yang ibu rasakan karena adanya penekanan pada punggung oleh pembesaran uterus.

e. Memberikan informasi tentang.
1. Tanda-tanda bahaya terutama pre-eklampsia.
2. Bila ada bahaya kemana harus dibawa atau minta pertolongan.
3. Menganjurkan ibu untuk diet rendah lemak, tinggi protein, banyak makan sayuran, buah-buahan dan banyak minum.
4. Menganjurkan pada ibu untuk mengkonsumsi Fe 1 tablet perhari.
5. Menganjurkan ibu mengurangi makan-makanan yang mengandung garam beriodium.
6. Memberikan obat anti hipertensi.
a. Berikan Vasodilator seperti.
Hidralazin dengan dosis : 4 x 25 mg / hari atau Parenteral 2,5 – 5 mg.

G. Evaluasi
1. Ibu mengerti tentang kondisi kehamilannya saat ini.
2. Ibu mengerti manfaat senam hamil dapat mempercepat proses persalinan.
3. Ibu dapat mengulang setiap gerakan dalam senam hamil dan teknik relaksasi secara benar sesuai yang diberitahu oleh bidan.
4. Ibu berjanji untuk memeriksakan kehamilannya 2x/minggu dan kapan saja bila ada keluhan.
5. Ibu mengerti tentang pentingnya diet dan berjanji akan melaksanakan anjuran yang diberikan.

DAFTAR PUSTAKA


1. Prawiroharjo, Sarwono. 2005. “Ilmu Kebidanan”. Yayasan Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Jakarta.
2. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2001. “Kapita Selekta Kedokteran”. Media Aesculapius. Jakarta.
3. Prawiroharjo, Sarwono. 2005. “Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal”. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Jakarta.

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:
Free Blog Templates