Kamis, 22 September 2011

ALBERT CAMUS : FILSUF PEMBERONTAK


Seluruh kehidupan Albert Camus ( 1913-1960) adalah perjuangan penuh gairah untuk merebut makna keberadaan kita. Barangkali sebaiknya kita tidak mengatakan  “ makna “, melainkan “ kemungkinan serta cara berada “ karena Albert Camus yakin betul kehidupan kita tidak bermakna. Seluruh keberadaan kita adalah absurd, sebagaimana bagi dia kentara sekali dari penderitaan orang yang tidak berdosa, khususnya anak-anak. Karena penderitaan absurd tersebut, Albert Camus menolak untuk mengakui adanya Tuhan. Kehidupan itu absurd, namun tidak ada jalan lain daripada menerima absurditas tersebut. Dengan cara bagaimana ? itulah masalah paling besar untuk Albert Camus. Pertama-tama Albert Camus menyingkirkan beberapa godaan dari absurditas ; bunuh diri dan pembunuhan. Bunuh diri bias menggiurkan, bila kehidupan itu absurd dan tidak akan pernah lain dari absurd. Tapi, dengan membunuh diri orang menyerah kepada absurditas dan dengan demikian menghapuskan segala bentuk kemungkinan untuk hidup manusiawi. Pembunuhan juga termasuk kemungkinan serta cara berada manusia, tapi pembunuhan justru akan menambah absurditas dan penderitaan orang yang tak berdosa. Bunuh diri dan membunuh orang lain langsung menuju kepada nihilisme dan justru memperburuk penyakit yang konon akan bisa disembuhkan.
            Terhadap absurditas sepatutnya diambil suatu sikap lain. Apa sebabnya kita menganggap sesuatu absurd, khususnya penderitaan ornag yang tak berdosa ? karena kita tidak mengerti dan tidak menyetujuinya ? tapi apa sebabnya kita tidak bisa menyetujuinya ? justru karena hal itu absurd ! dalam diri kita terdapat semacam insting, kodrat atau keinginan akan keadilan serta kebaikan. Disini Albert Camus yang pada waktu itu sudah tidak menyebut diri seorang eksistensialisme, seolah-olah menemukan suatu keadaan manusia yang khas, suatu kodrat manusiawi, suatu situasi dasar dan kondisi yang menentukan keberadaan manusiawi kita. Atas nama keinginan dasar itu kita mengatakan “ya” dan serentak juga “tidak” kepada kehidupan. “ Tidak” kita katakan kepada absurditas, ketidakadilan, penderitaan orang tak berdosa, dan lebih radikal lagi kepada maut. “ Ya” kita katakana kepada keinginan dasar akan keadilan serta kebaikan. Nah, “ya” dan “tidak” itu sendirinya membentuk suatu pemberontakan, satu-satunya sikap  yang masuk akal terhadap kehidupan yang absurd. Si pemberontak mengikuti suatu logika yang amat istimewa. “ Logika” manusia pemberontak adalah mengabdi kepada  keadilan, supaya ketidakadilan jangan bertambah lagi. Manusia memakai suatu cara berbicara yang jelas serta tegas supaya kebohongan umum atau public tidak diperbesar. Terhadap penderitaan dan kesengsaraan manusia ingin bertaruh atas kebahagiaan mereka.. Nafsu nihilisme memperbesar ketidakadilan serta kebohongan dan saking gilanya ia membunuh asal-usulnya sendiri yang mengakibatkan menghilangnya alasan-alasan paling jelas untuk melawan.
            Manusia pemberontak memerangi absurditas kini dan disini. Ia melawan ketidakadilan, penderitaan dan maut. Manusia pemberontak tidak mau pasrah serta sabar, dengan menantikan pengadilan Tuhan di akhir zaman dan suatu firdausdalam kehidupan kekal kelak. Setiap utopi termasuk utopi Marxistis di tolak oleh manusia pemberontak ini. Karena disinipun keadilan ditundasampai masa depan yang masih jauh, sedangkan ketidakadilan dan kekerasan diterima begitu saja sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang jauh tersebut, bukan hal tersebut untuk caranya menghadapi absurditas. Satu-satunya cara yang amsuk akal adalah pemberontakan dan itulah pula  menjadi kemungkinan terakhir manusia. Gagasan “ pemberontakan” tersebut sudah ditulis Albert Camus dalam eseinya  Le Mythe De Sisype  dan dalam novelnya La Peste  muncul tokoh pemberontak besar, Dokter Rieux, seorang suci tanpa Tuhan.
Dalam karyanya yang menjadi magnum corpusnya Albert Camus yang berjudul L’Homme revolte ( manusia pemberontak ) Albert Camus telah mengolah lebih lanjut ide pemberontakan tersebut. Manusia pemberontak tentu menyadari bahwa perlawanan yang sungguh-sungguh pada kenyataannya tidak mungkin melepaskan dari hal tentang kekerasan serta kebohongan. Albert Camus sendiri dengan terang-terangan menolak sikap nonviolence yang mutlak, karena hal tersebut secara tidak langsung akan mengantar kepada perbudakan dan kekejaman yang berkaitan dengannya. Namun Albert Camus sekaligus ingin menjaga ukuran, bila kekerasan dan kebohongan tidak dapat dihindarkan, karena hal tersebut Albert Camus menolak nihilisme yang tidak tahu batas.
Albert Camus juga meyakini, perlawanan tidak bisa menghasilkan segalanya yang diharapkan, namun hal tersebut juga tidak perlu dalam memulai bentuk perlawanan itu sendiri. Bahkan dapat dikatakan, perlawanan tersebut akan berakhir dengan tragis dan berlabuh di pelabuhan maut. Dengan memberontak, penderitaan setiap individu dipikul bersama-sama. Delam pemberontakan kita menjadi lebih solider ; Saya Melawan Maka Saya Ada “  

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:
Free Blog Templates