Kamis, 22 September 2011

ISLAM DAN SOSIALISME


A.Latar Belakang

"Die Religion ... ist das Opium des Volkes"
"Religion is the opium of the people"
"Agama merupakan candu buat masyarakat"( Karl Marx)

Perkembangan awal dari sebuah ideology yang bernama sosialisme yang muncul di akhir abad ke-18 berangkat melalui pemikiran radikal François Noël Babeuf selama masa revolusi prancis mengenai pemikiran-pemikiran tentang konsep pertarungan kelas yang selanjutnya doktrin pertarungan kelas tersebut diperjuangkan dan diteruskan oleh Karl Marx yang beraliran materialisme. Namun fase-fase perkembangan sosialisme setelah  François Noël Babeuf menjadi lebih moderat dimana konsep pertarungan kelas dan penggunaan kekerasan dalam mencapai tujuan tidak lagi digunakan akan tetapi lebih mengedepankan kerjasama daripada persaingan. Generasi pemikir moderat ini biasa disebut sebagai sosialisme utopis dengan tokoh-tokohnya seperti de Saint-Simon, Charles Fourier, dan Robert Owen. Setelah era kelompok pemikir sosialisme utopis, kemudian muncul tokoh-tokoh pemikir seperti Louis Blanc, Pierre Joseph Proudhon, Auhuste Blanqui yang lebih mengarah kepada ide-ide politik dan perjuangan yang lebih radikal. Selanjutnya perkembangan mutakhir sosialisme menjadi lebih progresif dan revolusioner di era Karl Marx dan Friedrich Engels dengan munculnya Das capital sebagai kitab suci dan manifesto komunisme sebagai pencetusan gerakan perlawanan terhadap tekanan system kapitalisme liberal.
Awal perkembangan sosialisme adalah sebagai faham ekonomi yang merupakan reaksi dari revolusi industri yang telah memunculkan sebuah keadaan baru dengan terbentuknya kelas buruh atau dalam istilah Karl Marx adalah sebagai kelompok proletar yang tertindas dan mengalami tindakan kesewenangan dari kelompok pemodal atau borjuis. Namun jauh sebelum munculnya ideology sosialisme atau ideology yang merupakan manifestasi dari bentuk-bentuk perlawanan pasti di dalam lubuk hati yang paling dalam tidaklah akan sepakat dengan adanya atau apapun bentuknya penindasan, penjajahan ataupun kesewenangan. Hal ini sejalan dengan keberadaan Islam sebagai agama samawi yang dibawa oleh sang nabi terakhir yakni Muhammad SAW. Berawal dari sebuah keadaan masyarakat Arab yang penuh dengan kebodohan, pertikaian antar klan dan kebiadaban serta pengingkaran nilai ketauhidan risalah Islam muncul sebagai sebuah jalan kebenaran dan keselamatan baik hidup maupun sesudah hidup itu sendiri. Meski kelahiran Islam adalah di tanah Arab akan tetapi keberadaan agama Islam bukan bersifat ekslusif untuk bangsa Arab itu sendiri tetapi keberadaan Islam adalah bersifat global bagi siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Hal ini sejalan dengan konsep Islam yang bersifat Rahmatan lil Alamin.
Sejarah perkembangan umat Islam juga mengalami berbagai kemajuan dan kemerosotan. Di dalam setiap fase sejarah yang dialami tentunya sangat berbeda dari masa ke masa. Tidaklah sama baik dari segi sosiologi, politik, ekonomi yang dihadapi pada zaman nabi Muhammad SAW dengan zaman kolonialisme atau pasca kemerdekaan. Akan tetapi ada suatu benang merah bahwa keberadaan Al-qur’an dan As-sunnah sebagai pegangan hidup bagi umat Islam adalah mutlak bersifat universal. Hal ini mensyaratkan sebuah perjuangan dalam membumikan agama Islam baik secara fisik atau spirit, dan untuk hal tersebut diperlukan sebuah upaya yang tidak sebentar bagi para tokoh pemikir Islam untuk mengerti dan memahami ajaran Islam untuk sendiri sehingga dapat dicapai solutif-solutif cerdas bagi pemecahan di dalam setiap permasalahan yang dihadapi oleh umat Islam itu sendiri. Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah keislaman secara sosiologis adalah peletak pondasi dasar bagi terciptanya sebuah masyarakat yang adil dan sejahtera serta berketuhanan. Namun setelah meninggalnya nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin besar revolusi dan tonggak pemerintahan di teruskan oleh para sahabat dan kemudian beralih kepada system kekhalifahan sesuai dengan konsep Islam bahwa manusia adalah sebagai Khalifah fil ardh, disinilah letak sebuah perkembangan agama Islam dalam berbagai bidang mulai penyebaran ajaran Islam hingga kebudayaan serta ilmu pengetahuan yang dihasilkan begitu menyeluruh di setiap pelosok negeri bukan hanya di tanah Arab tetapi bahkan hingga sampai ke Indonesia. Merupakan sebuah keniscayaan tidak ada gading yang tak retak maka kemajuan Islam pun juga mengalami fase kemunduran. Pasca kehancuran pusat-pusat kebudayaan Islam seperti kehancuran Bagdad, keruntuhan Islam di Andalusia, Turki serta di ikuti dengan perkembangan bangsa Eropa dengan renaissance nya pelan tapi pasti terlebih lagi pasca revolusi industri yang menghasilkan berbagai perkembangan teknologi aplikasi dan perlengkapan modern serta semakin berkembangnya ideology kolonialisme serta kapitalisme liberal yang semakin mendorong Eropa mencari daerah-daerah pemasaran dan jajahan dengan mengusung semangat God, Glory, Gold.

B. Islam & Sosialisme : Sebuah Gerakan Perlawanan
Beragam kondisi kontemporer saat ini menyiratkan satu hal kenyataan yakni bahwa perang ideology dan saling memanipulasi dan tindakan hegemoni semakin menemukan bentuknya dalam bentuk-bentuk yang paling memuakkan.
Benturan-benturan kepentingan dan saling menghancurkan adalah sebuah keniscayaan dalam bingkai yang di bungkus rapi dengan berbagai propaganda. Hantu-hantu kekuasaan berkeliaran dengan keyakinan akan satu hal bahwa kekuatan modal menjadi penopang utama dalam mempertahankan dan kudeta kekuasaan. Warga Negara berhadapan dengan tirani kekuasaan, kaum lemah vis a vis secara tidak seimbang dengan kaum kuat.
Kehadiran agama Islam sebagai manifestasi kebijaksanaan Tuhan mengejawantah melalui nabi Muhammad untuk membimbing dan membebaskan manusia bukan hanya masyarakat Arabia tetapi untuk keseluruhan manusia yang memang terbuka mata hatinya dari krisis social dan krisis moral. Betapa tidak, berbagai penumpukan kekayaan, persaingan antar klan dan suku malah semakin mempercepat dinamika masyarakat untuk menuju kebangkrutan moral.
Sementara itu di belantara Eropa, Sosialisme-Marxis menjadi ideology sosialisme paling dominant dalam gerakan perlawanan menuju masyarakat egalitarianisme dan sekaligus menjadi fundamental bagi setiap gerakan perlawanan dalam memperjuangkan kaum tertindas, penghancuran terhadap segala bentuk eksploitasi. Karl Marx dengan magnum opus nya yakni Das capital menjadikan konsep pertarungan kelas dan faham ekonomi sebagai dasar pokok bagi perkembangan sejarah di setiap periode kehidupan umat manusia.
Antara Islam dan Sosialisme terdapat beberapa persamaan, diantaranya Islam dan sosialisme sama berjuang dalam ranah untuk menghilangkan segala bentuk tekanan system kapitalisme liberal atau apapun bentuk ideology lainnya yang membawa segala penindasan, eksploitasi atas manusia.
Akan tetapi antara Islam dan sosialisme juga mempunyai sebuah jurang pemisah yang rasa-rasanya sangat sulit untuk dihilangkan yakni sebuah jurang pemisah dimana jurang pemisah ini adalah menjadi fundamen dasar bagi gerakan yang dilakukan dalam setiap gerakan perlawanan. Islam dengan fundamen dasarnya adalah Tauhid ( monotheisme) adanya kepercayaan bahwa hanya ada satu Tuhan sebagai pencipta dan penguasa alam semesta beserta isinya, sedangkan Sosialisme yang nota bene dengan patronase Karl Marx memandang bahwa agama adalah candu bagi masyarakat yang hanya membuat masyarakat terlena dengan janji-janji langitnya. Hal ini menjadi sebuah permasalahan ketika sosialisme dikembangkan di Negara atau wilayah-wilayah dengan pemeluk agama Islam, karena bagi agama samawi seperti Islam ketauhidan adalah pondasi dasar dan tidak bisa di ganggu gugat. Lantas apakah antara sosialisme dan Islam yang memang sama-sama hadir dan memperjuangkan persamaan, keadilan dan hilangnya eksploitasi atas manusia dapat di damaikan dan untuk saling melengkapi ?   
C. Islam dan Sosialisme : Gerakan Pembebasan
Hal yang sering di sampaikan oleh kelompok sosialis di Negara-negara dengan mayoritas Islam adalah bahwa sosialisme dan Islam memiliki banyak kesamaan yakni sama-sama memerangi kaum kapitalisme. Di Indonesia sendiri perjalanan sosialisme berawal dari SI Semarang dengan tokoh-tokohnya seperti Semaoen, Darsono, Mas Marco. Sosialisme di Indonesia di bawa oleh orang Belanda yang bernama Sneevliet.
Dalam beberapa hal tidak bisa dipungkiri, bahwa gerakan perlawanan terhadap tirani penguasa, sosialisme selalu menjadi pilihan platform gerakan perlawanan hal ini bisa kita fahami bahwa dengan sosialisme sebagai pisau analisis dalam membaca perubahan karena sosialisme mengusung semangat egalitarianisme masyarakat dan keadilan social. Akan tetapi dalam bidang tertentu seperti konsep “ sama rata-sama rasa “ adalah hal yang tidak bisa diterima karena bagaimanapun juga dalam konsep Islam hak akan setiap individu tetap memiliki tempatnya. Apalagi tentang Atheisme di dalam sosialisme-komunisme, tentu saja Islam menolak mentah-mentah akan hal ini, bahkan faham atheisme perlu dihilangkan karena tentu saja bertentangan dengan ajaran agama Islam itu sendiri yang senantiasa menyandarkan setiap perbuatan bahkan tarikan nafas kepada sang pemilik kehidupan. Menjadi fitrah manusia untuk mempunyai Tuhan atau setidaknya mengakui hal-hal yang superioritas di luar dirinya untuk menjadi sandaran manusia itu sendiri, sehingga faham atheisme adalah faham yang pantas mati karena bagaimanapun juga tidak berkesesuaian dengan fitrah manusia itu sendiri.
Tentang dilemma sosialisme dan Islam ini Mohammad Hatta pernah mengatakan “Sekarang, bagaimana duduknya sosialisme Indonesia? Cita-cita sosialisme lahir dalam pangkuan pergerakan kebangsaan Indonesia. Dalam pergerakan yang menuju kebebasan dari penghinaan diri dan penjajahan, dengan sendirinya orang terpikat oleh tuntutan sosial dan humanisme perikemanusiaan yang disebarkan oleh pergerakan sosialisme di benua Barat. Tuntutan sosial dan humanisme itu tertangkap pula oleh jiwa Islam, yang memang menghendaki pelaksanaan perintah Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang serta Adil, supaya manusia hidup dalam sayang menyayangi dan dalam suasana persaudaraan dengan tolong-menolong”[1].
Islam sangat menghargai baik peranan individu maupun peranan negara dan mengharmonikan keduanya sedemikian sehingga seorang individu mempunyai kebebasan yang sangat diperlukannya untuk mengembangkan potensinya, tetapi juga memberikan kekuasaan kepada masyarakat dan negara untuk mengatur dan melakukan control hubungan sosio-ekonomi untuk menjaga dan memelihara keharmonisan kehidupan manusia.
Dikalangan tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia, misalnya seperti HOS Cokroaminoto pernah mengatakan “ Menghisap keringatnya orang-orang yang bekerja, memakan hasil pekerjaan orang lain, tidak memberikan keuntungan yang semestinya (dengan seharusnya) menjadi bahagian lain orang yang turut bekerja mengeluarkan keuntungan itu,–semua perbuatan yang serupa ini (oleh Karl Marx disebut memakan keuntungan ‘meerwaarde’ (nilai lebih) adalah dilarang sekeras-kerasnya oleh agama Islam, karena itulah perbuatan memakan ‘riba’ belaka. Dengan begitu maka nyatalah, agama Islam memerangi kapitalisme sampai pada ‘akarnya’, membunuh kapitalisme mulai dari ‘benihnya’, oleh karena pertama-tama sekali yang menjadi dasarnya kapitalisme, yaitu memakan keuntungan ‘meerwaarde’ sepanjang fahamnya Karl Marx, dan ‘memakan riba’ sepanjang fahamnya Islam”.[2]
Begitu juga dengan H. Agus Salim dalam Kongres Nasional VI SI pernah mengemukakan “Nabi Muhammad Saw sudah mengajarkan sosialisme, sejak 1200 tahun sebelum Karl Marx”.[3]
Indonesia dengan mayoritas penduduknya beragama Islam dan mengingat betapa SI adalah salah satu partai perjuangan kemerdekaan Indonesia, hal ini menyiratkan sebuah hubungan khusus antara Islam dan sosialisme meski tetap dengan memperhatikan dan menghilangkan beberapa konsep dalam sosialisme yang tidak sejalan dengan Islam, sebuah pepatah pernah mengatakan “ ambil kacang dan buang kulitnya “ ini adalah sebuah jalan tengah bagi terciptanya format pergerakan melawan setiap bentuk kolonialisme dan kapitalisme liberal yang lebih sesuai dengan kondisi zaman itu sendiri.


[1] Di ambil dari artikel dengan judul Ada Apa Dengan Sosialisme religius ? yang disusun oleh Anjrah Lelono Broto, S.Pd
[2] Penerbit Bulan Bintang, Jkt, 1954, hal: 17
[3] Sekneg: G 30-S Pemberontakan PKI”, 1994, hal: 11

1 komentar:

ikhwan insancita mengatakan...

tks, sangat membantu

Poskan Komentar

Template by:
Free Blog Templates