Kamis, 22 September 2011

Egosentrisme


Absurditas ini menjadi suatu gejala yang agak umum di zaman kita sekarang. Orang dapat dengan bebas memberikan makna kepada Aku untuk mengada, tetapi tidak bisa menimba makna daripadanya. Menurut saya terdapat berbagai pendapat yang irrasionalitas dalam hal paling rasional ketika membicarakan kebermaknaan Aku sebagai totalitas dan entitas kemanusian . Dasar untuk mempertahankan eksistensi Aku dalam ego individu tidak lagi rasional melainkan irrasional, tidak berbentuk kesadaran melainkan ketidaksadaran, dasar itu lebih bersifat usaha yang buta dan irrasional ketimbang suatu pengembangan rasional.
            Bagaimana saya sampai pada pandangan ini ? agaknya penyebab terdalam adalah disebabkan watak saya yang melankolik dan pesimistis terhadap segala hal. Bentuk dan gaya filsafat dipilih orang adalah sesuai dengan karakter individu tersebut dan sepadan dengan sifat-sifat pribadi, hal ini saya katakan sebelumnya, sebagai langkah awal dalam memahami pemikiran-pemikiran yang akan saya paparkan dalam narasi ini.
            Dalam pada itu seperti yang terjadi kepada semua para tokoh pemikir, yang memulai dirinya untuk ikut ambil bagian dalam ranah filsafat, hal itu pun terjadi kepada saya, dengan bertolak dari gejala-gejala, dari fenomena-fenomena, dari dunia serta manusia menurut pengekspresiannya masing-masing, hanya saja hal ini saya pandang melalui kacamata gelap dari sifat yang ada pada diriku. Dalam dunia serta hidup manusia ditemukan banyak sekali ketidakberesan, ditahap fisis terdapat banyak sekali musibah, di bidang biologis kita melihat banyak serangga pengganggu, penyakit, perkelahian dan nafsu membunuh. Di dunia manusia terdapat egoisme, kemiskinan dan pemiskinan, kesengsaraan dan disengsarakan, penyakit, dendam yang tak juga mereda, ketidakpercayaan, penipuan kasar, dan pembunuhan, hal-hal yang tidak baik lebih banyak daripada hal yang baik. Lantas hal apa yang akan kita sebut sebagai “kebahagiaan” ? dengan mengacu realitas, maka saya harus mengambil sikap terhadap keberadaan diriku, keniscayaan ini harus saya perbuat, entah bagaimana asumsi kalian. Totalitas egoisme dan individualitis adalah keutamaan, hal ini tidak bisa ditawar-tawar lagi. Karena suatu kemutlakan, yang mampu bertahan adalah yang terkuat.
            Saya bagi saya adalah individu, yang berarti kuasaku. Saya berhak melakukan segala sesuatu yang saya bisa, dan saya mampu. Bahkan jika saya bisa untuk menjatuhkan para penguasa, maka saya berhak untuk itu; atau mereka atau sayalah yang akan gugur dan jatuh. Hanya saya sendiri yang berhak menentukan apa yang menjadi hak saya dan bukan orang lain. Meski seluruh dunia menganggap sesuatu bukan hak saya, namun hal itu adalah hak saya, bila saya sendiri menganggap hal itu demikian dan saya bisa mewujudkan, entah dengan cara halal atau cara paling haram dan kasar sekalipun. Hak dan milik berkaitan erat satu sama lain, karena hak saya artinya kuasa saya, entah itu dari menciptakan atau merebut milik. Jangkauan hak milik saya sama luasnya dan berbanding lurus dengan kuasa saya  Segalanya yang bisa saya raih, saya rampas, saya rebut, entah dengan paksaan atau suka rela adalah hak milik saya. Milik saya hanya dibatasi oleh kuasa individu lain yang mampu mengalahkan, atau merebut itu dari saya, jadi segala sesuatu tergantung dari kuasa dan kekerasan saya.
            Yang ilahi adalah urusan Tuhan dan yang manusiawi adalah urusan manusia, perkaraku bukanlah yang ilahi dan bukanlah yang manusiawi. Perkaraku bukanlah yang benar, yang baik, yang lurus, yang bebas dan sebagainya, melainkan hanyalah Aku yang punya. Maka perkaraku tidak bersifat umum, melainkan unik sebagaimana Aku unik adanya. Bagiku tidak ada yang melebihi Aku. Apa yang anda, untuk itu anda sekalian berhak pula atasnya. Segala hak serta pembenarannya Aku asalkan dari Aku. Aku berhak untuk melakukan apa saja yang Aku bisa. Aku berhak untuk menjatuhkan para Dewa, bahkan Tuhan sekalipun dari singgasana mereka, jika aku bisa. Jika Aku tidak bisa, maka mereka tetap mempertahankan hak dan kuasanya terhadap diriku.
            Bahkan pembunuhan boleh saya lakukan semau-maunya, asal saya bisa dan suka: Aku diberi hak oleh Aku untuk membunuh, jika Aku tidak melarang atau menahan diri Aku sendiri, jika aku tidak takut terhadap suatu pembunuhan bagaikan terhadap suatu ketidakadilan. Aku hanya tidak berhak untuk apa yang Aku tidak lakukan dengan bebas, artinya untuk apa yang Aku tidak izinkan kepada diri Aku sendiri. Akulah yang memutuskan entah sesuatu merupakan hak bagi Aku, diluar Aku tidak terdapat hak. Jika sesuatu merupakan hak bagi Aku, maka hal itu sungguh-sungguh hak, mungkin menurut orang lain itu belum hak , tapi itu adalah urusan mereka, bukan urusanku; mereka boleh saja melawan. Andaikata sesuatu tidak dianggap hak oleh dunia, namun Aku menganggapnya hak, artinya aku menghendakinya, maka Aku tidak menghiraukan seluruh dunia, karena hal inilah satu-satunya keutamaan selama individu mempunyai harga diri.
            Baiklah, biarlah kekerasan yang menentukan tentang hak dan kepemilikan dan Aku hendak menantikan segalanya dari kekerasan ku. Kuasa asing yang Aku biarkan kepada orang lain, yang membuat Aku budak. Demikian juga  hendaklah kuasaku sendiri membuat Aku menjadi pemilik, biarlah Aku sendiri yang mengambil kekuasaan yang Aku perbolehkan kepada orang lain, karena Aku yang tidak mengetahui kekuatan kekuasaanku sendiri. Semboyanku adalah : Jangkauan kuasaku sama luas dengan milikku dan Aku menyuruh menyita segalanya menjadi milik, bilamana Aku merasa diriku cukup kuat  untuk memperolehnya; batas milikku yang sesungguhnya sama luasnya dengan hakku, artinya, dengan kuasaku untuk mengambilnya. Yang harus menentukan disini ialah egoisme, kepentingan diri, bukan prinsip cinta kasih, bukan motif-motif cinta seperti belas kasihan, kemurahan hati, kebaikan hati atau bahkan keadilan, karena cinta kasih hanya mengenal korban-korban dan menuntut pengorbanan. Bagi Aku hal ini seperti itu tidak masuk akal untuk mengorbankan sesuatu atau menghadiahkan sesuatu. Aku menentukan begitu saja; apa yang Aku butuhkan, Aku inginkan harus Aku miliki.
            Aku adalah pemilik kekuasaanku, hanya kalau Aku menyadari diriku sebagai satu-satunya pemilik, sebagai satu-satunya, si pemilik kembali lagi kepada ketiadaan yang mencipta, darimana ia berasal. Tiap hal yang mengatasi Aku, entah Tuhan, entah manusia hanya melemahkan perasaan keunikanku dan baru meluntur dihadapan mentari kesadaran akan keunikan ini. Terlalu lelah, terlalu letih, saya telah membuat segala sesuatu berputar mengelilingi diri saya sendiri, saya telah memusatkan seluruh kehidupan saya pada sesuatu yang fana, pada “ pencipta berhingga dari diri saya sendiri  yang menghabiskan dirinya sendiri “.

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:
Free Blog Templates