Kamis, 22 September 2011

DEKONSTRUKSI KEMUNAFIKAN


            Apa itu Baik ? Baik adalah hal apa saja yang meningkatkan perasaan kuasa, kehendak untuk berkuasa, kekuasaan sendiri dalam manusia. Apa itu Buruk ? Buruk adalah segala hal yang berasal dari kelemahan. Apa Itu kebahagiaan ? Kebahagiaan adalah perasaan bahwa kekuasaan bertambah, kemampuan dan keadaan ketika segala bentuk perlawanan dapat diatasi, maka segala sesuatu yang pasti tentang hal baik adalah bukan kepuasan, melainkan lebih banyak kekuasaan, sama sekali bukan perdamaian, melainkan perang, bukan pula keutamaan melainkan kehebatan.
            Ada dua macam golongan yang menyangkal moralitas, dan menyangkal moralitas, berarti, pertama, menyangkal bahwa motivasi-motivasi yang disebut sebagai legitimasi tindakan merupakan motivasi yang sebenarnya, hal ini sama saja dengan mengatakan bahwa moralitas terdiri atas kata-kata kosong dan merupakan bagian dari suatu penipuan kasar dan sekaligus halus ( terutama penipuan diri ) yang dilakukan manusia dan barang kali dilakukan oleh mereka yang justru terkenal karena keutamaan-keutamaan. Kedua, dapat juga berarti menyangkal bahwa penilaian moral berdasarkan kebenaran. Pandangan ini mengakui bahwa motivasi-motivasi itu betul-betul menggerakkan tindakan, akan tetapi menegaskan bahwa kekeliruan terletak di dasar penilaian moral yang menggerakkan manusia untuk mengambil tindakan moral.
            Penilaian dan pengecaman moral merupakan sebuah obsesi dari ketakutan, perasaan tak berdaya, kejengkelan, rasa iri hati, pendek kata merupakan bentuk sentiment, dengan kata lain sebagai ekspresi sentiment benci orang-orang yang terinjak, yang tidak berani mengajukan harapan, cita-cita dan tuntutan mereka terhadap keadaan, realitas yang dihadapi, dan juga terhadap golongan borjuis, dan secara singkat bahwa moralitas ada bukan karena orang betul-betul menjunjung tinggi nilai-nilai moral, melainkan karena rasa benci,cemburu, keinginan balas dendam tetapi tidak mampu dilakukan atau tak mampu untuk mewujudkan keinginan, moralitas merupakan tanda kerendahan kekerdilan semangat.
            Yang hakiki, bagi golongan borjuis yang baik dan sehat adalah bahwa mereka merasakan diri bukan sebagai fungsi, melainkan sebagai tujuan dan pembenaran yang tertinggi, sehingga karena itu mereka dengan tenang menerima pengorbanan sejumlah besar orang demi kaum borjuis, untuk selalu harus ditekan dan diremehkan sebagai budak, sebagi alat. Seharusnya mereka mempunyai kepercayaan dasar bahwa masyarakat bukan demi, untuk masyarakat melainkan hanya kerangka dan landasan yang dapat dipakai oleh mereka yang terpilih ( kaum borjuis ). Disini perlu berpikir secara mendasar sampai dasar  dan melepaskan segala kelemahan, bahwa hidup secara hakiki berarti merebut, melukai, menundukkan pihak asing dan lemah, menindas, meski dengan kekerasan, memaksakan pola-pola sendiri atas lawan, mencaplok, dan sekurang-kurangnya, sehalus-halusnya mengeksploitasi. Kehendak untuk berkuasa, kehendak untuk benar, merebut, merampas, dan menang atas yang lain merupakan hal yang sah, bukan karena tidak memiliki moralitas melainkan karena individu itu hidup dan karena hidup merupakan kehendak untuk berkuasa, meski hal ini dilakukan dibawah selubung ilmu, sering terdengar pembicaraan atau cita-cita naïf tentang keadaan masyarakat bebas eksploitasi, hal ini merupakan hal yang menggelikan seakan-akan mereka menemukan hidup yang mampu menahan diri dari segala fungsi organis. “ Eksploitasi “ bukanlah ciri masyarakat korup atau tidak sempurna dan primitif, “Eksploitasi “ adalah hakikat hidup, sebagai fungsi organis dasar, hal ini merupakan akibat kehendak untuk berkuasa yang sebenarnya, yang justru kehendak untuk hidup.
            Dua pola dasar yang membentuk tatanan kehidupan yakni Moralitas Tuan dan moralitas budak, bahwa dalam semua budaya perbedaan ini merupakan keniscayaan, bahkan perbedaan nilai moral ini juga terdapat diantara pihak-pihak yang berkuasa, yang dengan penuh nikmat menyadari perbedaan mereka dari jenis yang mereka kuasai. Dalam hal pertama yakni Moralitas tuan, apabila arti istilah “ baik “ ditentukan oleh mereka yang berkuasa, maka yang dianggap utama adalah keadaan jiwa yang merasa bangga dan luhur, manusia mulia menjauhkan ciri-ciri kebalikan dari keadaan luhur dan bangga, terlihatlah bahwa dalam jenis pertama moralitas itu tadi pasangan baik-buruk, memiliki arti sama dengan luhur-hina. Yang dianggap hina adalah si penakut, si cengeng, si picik, begitu pula si pencuriga yang tidak berani menatap mata lawan bicara, orang yang merendakan diri, si penjilat yang suka mengemis, terutama si pembohong. Jelaslah bahwa penilaian moral pertama-tama diarahkan pada manusia dan baru secara tidak langsungpada tindakan dan sangat keliru apabila moralitas bertolak dari pertanyaan” mengapa tindakan berbelaskasih dipuji ? jenis manusia luhur merasa bahwa dirinya menentukan apa yang bernilai, mereka tidak memerlukan pembenaran, mereka menilai bahwa apa yang merugikan itulah hal yang tidak baik, mereka mengetahui dan menyadari diri sebagai sumber segala kemuliaan, merekalah yang menciptakan nilai. Apa pun yang mereka lihat pada diri mereka sendiri menjadi alasan kemuliaan mereka . yang mencolok adalah perasaan keutuhan, kekuasaan yang meluap, kebahagian bertegangan tinggi, kesadaran kekayaan yang ingin memberikan dan melepaskan, manusia luhur membantu orang yang celaka , tetapi tidak atau hamper tidak karena perasaan belas kasih, melainkan karena kekuasaan yang melimpah menciptakan dorongan tersebut.
            Sedangkan pola yang kedua yakni moralitas budak, andaikata mereka diperkosa, ditindas, yang menderita, yang tidak bebas, yang ragu-ragu terhadap diri sendiri, hal apa yang menjadi kesamaan dalam penilaian moral mereka ? kemungkinan besar yang terungkap adalah rasa penuh curiga pesimis tehadap seluruh situasi manusia, barangkali mereka akan mengutuk manusia dengan seluruh situasinya, segala lirikan dan tatap mata menyiratkan kebencian keutamaan kaum berkuasa, mereka skeptis dan penuh rasa curiga, mereka peka dan curiga terhadap segala kebaikan. Sebaliknya sifat-sifat yang membantu untuk meringankan eksistensi orang yang menderita adalah berupa dihormatinya rasa belas kasihan, tangan yang cepat membantu, keramahan, kesabaran, kerajinan, kerendahan hati, karena dengan inilah adalah hal yang paling berguna dan yang merupakan alat yang hampir satu-satunya untuk bertahan terhadap tekanan eksistensi.










   

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:
Free Blog Templates