Kamis, 22 September 2011

ALIRAN SKEPTISISME DALAM ILMU PENGETAHUAN


Bahwa probabilitas dan kemungkinan pengetahuan merupakan poin yang tidak akan pernah diingkari dan diragukan oleh orang-orang yang berakal . Setiap individu dalam sehari senantiasa mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang perkara-perkara yang dibutuhkannya atau seseorang berupaya dengan sebaik dan sesempurna mungkin untuk menghadirkan satu atau beragam disiplin ilmu dan pengetahuan tertentu. Setiap manusia menjalani kehidupannya dengan berpijak pada ribuan gambaran-gambaran yang terdapat dalam pikirannya dan berkeyakinan bahwa di luar alam pikiran ini terdapat alam lain yang hakiki dan realitas-realitas yang mandiri dimana gambaran-gambaran pikiran tersebut merupakan pencerminan terhadap apa-apa yang terdapat di alam eksternal. Tak satupun manusia yang berakal sehat yang meragukan keberadaan alam eksternal tersebut, begitu pula tak satupun meragukan bahwa dia mengetahui sesuatu dan dapat memahami sesuatu. dalam sejarah filsafat telah ditunjukkan bahwa terdapat gelombang-gelombang Sofisme dan Skeptisisme yang menghanyutkan dan menjauhkan manusia dari pencapaian makrifat dan pengetahuan. Kedua paham ini hadir di Eropa dan Yunani kuno pada abad kelima sebelum Masehi. Pandangan-pandangan dari kedua paham tersebut sempat mempengaruhi sebagian ilmuan-ilmuan. Paham-paham tersebut secara mutlak mengingkari segala bentuk eksistensi, keberadaan, ilmu, pengetahuan, dan makrifat. Sofisme adalah suatu paham yang menafikan secara mutlak keberadaan alam eksternal yang kemudian berkonsekuensi pada penolakan segala jenis makrifat dan pengetahuan. Mereka ini beranggapan bahwa alam eksternal itu sama sekali tidak berwujud sehingga dapat dihasilkan darinya suatu ilmu, pengetahuan, dan makrifat;Sementara Skeptisisme merupakan suatu paham lain yang tidak mengingkari alam eksternal, namun, menafikan segala bentuk makrifat dan pengetahuan yang berasal dari alam tersebut.
Diagnosa
1.      Bagaimana skeptisisme dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan?
2.      Bagaimana pengaruh aliran skeptisisme dalam masalah probabilitas pengetahuan?
Ruang lingkup masalah yang akan dibahas dalam diskusi ini adalah sebatas pengertian dan teori-teori aliran filsafat hukum skeptisisme dalam kaitannya dengan masalah probabilitas pengetahuan. Selain itu juga membahas mengenai hubungan dan pengaruh aliran skeptisisme dalam kaitannya dengan masalah probabilitas pengetahuan. Dasar-dasar aliran skeptisisme dijabarkan dari mulai pengertian, sejarah, dan macam-macam keyakinan serta keragu-raguan yang bisa digunakan untuk menganalisa rumusan masalah dalam diskusi ini.
Aliran Skeptisisme muncul hampir sezaman dengan kehadiran Sofisme dimana mereka meragukan adanya kemungkinan pencapaian pengetahuan yang benar terhadap alam eksternal. Mereka mengungkap beberapa argumen dan dalil bahwa kita tidak bisa beranggapan mengetahui secara tepat hakikat-hakikat itu sebagaimana adanya, melainkan kita mesti menyatakan bahwa hakikat-hakikat itu kita pahami berdasarkan kondisi-kondisi dan batasan-batasan dari indra dan persepsi kita masing-masing. Namun, apakah hakikat itu? Kita sama sekali tidak mengetahuinya, dengan demikian, kita menahan diri untuk menilai dan mengungkap pendapat mengenai segala permasalahan, serta kita menempatkan seluruh persoalan filsafat, ilmu, dan matematika sebagai hal-hal yang tidak diyakini dan masih diragukan.
Apabila Skeptisisme itu telah sirna di zaman Yunani kuno pada abad kelima sebelum Masehi di tangan para filosof besar Yunani, maka mungkin kita tidak temukan lagi sejenis keraguan terhadap nilai dan validitas pengetahuan yang hadir dalam evolusi pengetahuan astronomi dan ilmu-ilmu alam di Barat. Kita bisa saksikan bagaimana pemikiran-pemikiran Sofisme Yunani Kuno seperti Corylas yang kemudian hidup kembali dalam bentuk Idealisme Berkeley. Penyebab munculnya aliran yang meragukan nilai dan validitas pengetahuan adalah perubahan yang mendasar dalam bidang astronomi dan ilmu-ilmu alam serta perubahan pada persoalan-persoalan yang sangat "diyakini" kebenarannya dimana sebelumnya tak dimungkinkan adanya kekeliruan padanya. Sehingga, validitas ilmu dan pengetahuan menjadi sirna dan terungkaplah ketidakberdayaan umat manusia untuk menggapai hakikat, pengetahuan, ilmu, makrifat dan kayakinan.
Padahal diketahui bahwa hanya satu bidang keilmuan yang kehilangan validitasnya, namun sangat disayangkan bahwa orang seperti Berkeley mempunyai pandangan ekstrim yang menggeneralisasikan keraguan-keraguan tersebut kepada semua ilmu dan pengetahuan. Evolusi pengetahuan di Barat, tidak hanya menghidupkan kembali aliran-aliran seperti Sofisme, melainkan juga menyebabkan filsafat kontemporer itu berubah menjadi suatu filsafat yang tidak lagi disandarkan dengan subjek-subjek keilmuan dan hanya semata berpijak pada asumsi-asumsi ilmiah. Dari hasil gabungan ilmu-ilmu empirik ditarik suatu kesimpulan hukum yang bersifat universal dan kemudian disebut sebagai "filsafat ilmu" yang diajarkan dalam ruang lingkup pembahasan filsafat. Oleh karena itu, filsafat yang mencakup ilmu-ilmu saat itu merupakan simpulan dari ilmu-ilmu alam dan matematika, yakni capaian-capaian ilmu itu yang dibentuk dalam kerangka universal lantas dinamakan dengan "filsafat" dan kemudian filsafat dengan makna pengenalan universal yang meliputi seluruh eksistensi menjadi tertolak.
JENIS-JENIS KERAGUAN DAN KEYAKINAN
Setiap manusia memiliki keyakinan dalam beberapa perkara dan pada sebagian persoalan mengalami keraguan dan bimbang, misalnya seseorang mempunyai kepercayaan kepada dirinya sendiri dan pada keberadaan alam sekitarnya serta perasaan-perasaannya, namun mengalami keraguan dan kebimbangan terhadap berbagai perkara-perkara. Setiap manusia mungkin mengalami perbedaan dalam kualitas keyakinan dan keraguan, walaupun terdapat perkara yang tak diragukan oleh satu individu pun, namun manusia akan mengalami keraguan yang nyata dalam bagian-bagian tertentu dari perkara tersebut. Faktor-faktor perbedaan pada manusia dalam derajat keraguan dan keyakinan terkadang bersumber dari masalah kejiwaan, aspek internal manusia, dan pemikiran. Maka dari itu, keyakinan dan keraguan dapat dibagi berdasarkan faktor-faktor yang melatar belakanginya dan perkara-perkara yang berhubungan dengannya serta kualitas kejiwaan setiap manusia.
Ø  Jenis-jenis keraguan
Keraguan-keraguan itu bisa dibagi berdasarkan objek, subjek, dan pengaruh-pengaruh yang ditimbulkannya. Di bawah ini akan disebutkan beberapa macam keraguan-keraguan yang terpenting:
1.      Keraguan mutlak dan relatif. Apabila manusia ragu terhadap semua persoalan bahkan pada dirinya sendiri, maka hal seperti ini disebut dengan keraguan mutlak. Selain dari hal ini dinamakan dengan keraguan relatif;
2.      Keraguan psikis, pertanyaan, dan kondisional. Keraguan bisa hadir karena kondisi kejiwaan seseorang dan juga sangat mungkin muncul karena pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan logika serta kondisi-kondisi zaman, seperti pada zaman Renaissance yang terjadi di Barat dimana telah menghadirkan berbagai keraguan-keraguan tertentu;
3.      Keraguan ilmiah, filosofis, dan umum. Keraguan global bisa menimpa banyak orang seperti keraguan terhadap kejadian-kejadian yang dikatakan hadir dalam sejarah manusia. Begitu pula pertanyaan-pertanyaan ilmiah dan filosofis sangat sarat memunculkan keraguan-keraguan, seperti keraguan sebagian filosof berkenaan dengan gerak dan yang semacamnya;
4.      Keraguan yang merusak dan membangun. Keraguan dapat dibagi menjadi demikian dengan berdasarkan pengaruh dan efeknya yang positif dan negatif. Keraguan yang berimbas pada rukun-rukun penting keagamaan dan asas-asas akhlak adalah jenis keraguan yang merusak, sementara keraguan yang menyentuh wilayah penelitian ilmiah dan pengetahuan manusia merupakan bentuk keraguan yang membangun;
5.      Keraguan fundamental dan struktural. Keraguan bisa menjadi dasar bagi hadirnya keraguan-keraguan yang lain. Keraguan dalam ranah aksioma-aksioma dan asas-asas global disebut dengan keraguan fundamental, sementara keraguan yang hadir dalam domain dan wilayah permasalahan-permasalahan ilmiah dan teoritis dinamakan dengan keraguan struktural;
6.      Keraguan ontologis dan epistemologis. Keraguan dalam ranah hakikat-hakikat eksistensi dan perkara-perkara wujud disebut dengan keraguan ontologis. Dan keraguan yang berhubungan dengan kemungkinan pencapaian sebuah keyakinan, ilmu, dan pengetahuan dinamakan keraguan epistemologis;
7.      Keraguan yang dikehendaki dan yang dipaksakan. Apabila seseorang secara sadar dan sengaja meragukan sesuatu supaya menggapai suatu keyakinan yang lebih tinggi atau ingin menjadi seorang peneliti, maka keraguannya tersebut dinamakan keraguan yang dikehendaki. Jika tidak demikian, yakni dia terpaksa dan diluar kehendaknya melakukan suatu penelitian atas suatu perkara yang meragukannya, maka hal seperti ini digolongkan sebagai keraguan yang dipaksakan.
Ø  Macam-macam keyakinan
Keyakinan juga dapat memiliki varian-varian yang didasarkan oleh faktor-faktor tertentu, kondisi-kondisi internal individu, dan perkara-perkara lainnya, antara lain:
1.      Keyakinan logikal dan non-logikal. Keyakinan yang sama sekali tidak terdapat keraguan di dalamnya atau keyakinan yang memuncak disebut dengan keyakinan logikal. Keyakinan yang masih menyisakan bentuk-bentuk keraguan merupakan suatu keyakinan yang non-logikal;
2.      Keyakinan hakiki dan non-hakiki (merasa mengetahui). Kalau keyakinan itu bersesuaian dengan realitas maka dinamakan keyakinan hakiki dan logikal. Apabila tidak demikian, maka dikategorikan ke dalam bentuk keyakinan yang non-hakiki;
3.      'Ilm al-yaqin, 'ain al-yaqin, haqq al-yaqin. Keyakinan pertama berhubungan dengan pengetahuan universal dan teoritis. Dan keyakinan kedua berkaitan dengan pengetahuan-pengetahuan intuitif dan penyaksian (musyahadah) hakikat-hakikat segala sesuatu. Serta keyakinan ketiga merupakan keyakinan yang tertinggi dimana tidak terdapat jarak lagi antara subjek yang mengetahui ('alim) dan objek yang diketahui (ma'lum dan hakikat-hakikat sesuatu), atau dengan ungkapan lain, terwujudnya kesatuan eksistensial antara 'alim dan ma'lum;
4.      Keyakinan orang awam, para filosof, dan urafa. Keyakinan-keyakinan ini bertingkat-tingkat dalam kualitas sesuai dengan landasan dan dasar pengetahuan-pengetahuan mereka;
5.      Keyakinan taklidi dan ijtihadi. Keyakinan yang dihasilkan dari mengikuti dan taklid pada seseorang yang dipercayai disebut dengan keyakinan taklidi. Sementara keyakinan yang digapai dari proses-proses usaha dan aktivitas observasi individual dinamakan dengan keyakinan ijtihadi;
6.      Keyakinan ontologis dan epistemologis. Keyakinan ontologis adalah suatu keyakinan yang berhubungan dengan eksistensi dan realitas alam wujud, sementara keyakinan epistemologis merupakan sejenis keyakinan yang berkaitan dengan proses pencapaian dan penggapain suatu pengetahuan dan makrifat yang sesuai dengan realitas dan hakikat sesuatu;
7.      Keyakinan indrawi, rasional, intuitif, dan tekstual. Tingkatan-tingkatan yang terdapat pada keyakinan-keyakinan seperti ini sangat ditentukan oleh media-media dan alat-alat yang menjadi sumber dan asal keyakinan dan pengetahuan itu.

II.2.a SKEPTISISME DALAM HUBUNGANNYA DENGAN ILMU PENGETAHUAN
Upaya dan usaha semua manusia dan khususnya para ilmuan dalam menyingkap hakikat-hakikat segala sesuatu merupakan ciri dan pertanda bahwa manusia yang berakal sehat (bukan para sofis dan skeptis) mempercayai dan meyakini bahwa terdapat sesuatu yang diketahui dan terdapat pula sesuatu bisa diketahui. Dan apa-apa yang mungkin untuk diketahui kemudian dijadikan subjek dan ranah pembahasan dan pengkajian . Domain penyingkapan hakikat dan sejauh mana serta pada wilayah mana saja manusia dapat menggapai pengetahuandan keyakinan. Begitu pula dalam wilayah mana manusia tidak memiliki kemungkinan untuk dapat memahami dan mengetahui, seperti kemustahilan dan ketidakmampuan manusia menyingkap dan mengungkap hakikat zat Sang Pencipta.
Baik dalam filsafat Barat maupun dalam filsafat Islam akan diperhadapkan dengan beberapa keraguan dan kritikan dimana salah satu yang terpenting adalah keraguan terhadap probabilitas dan kemungkinan pencapaian ilmu dan pengetahuan. Yang pasti dalam filsafat Barat keraguan semacam itu sangatlah kental dan bahkan telah melahirkan beberapa aliran yang secara terang-terangan mendukung pemikiran semacam itu. Realitas ini sedikit berbeda dalam filsafat Islam dimana hal tersebut hanyalah sebatas sebuah kritikan dimana para filosof Muslim telah mencarikan solusi yang tepat dan jawaban yang proporsional. Kritikan ini dapat dilihat dalam perjalanan pemikiran Al-Gazali dimana awalnya mengalami semacam keraguan dan melontarkan berbagai kritikan pada unsur-unsur pemikiran filsafat Islam, namun pada akhirnya dia mencapai suatu keyakinan baru dan berhasil keluar dari kemelut pemikiran.
Berikut ini kita berusaha akan membeberkan segala keraguan dan kritikan yang ada dan kemudian mencarikan jawaban dan solusinya. Keraguan yang dilontarkan oleh kaum sofis dalam ranah makrifat dan keyakinan memiliki dua bentuk:
1.      Kemampuan akal dalam menggapai hakikat sesuatu;
2.      Berkaitan dengan sebagian pengenalan-pengenalan manusia. Keraguan dalam bentuk pertama dapat dijabarkan secara universal sebagai berikut:
1.      Alat dan sumber pengetahuan, keyakinan, ilmu, dan makrifat manusia adalah indra dan akal;
2.      Indra dan akal manusia rentan dengan kesalahan, karena kesalahan penglihatan, pendengaran, dan rasa itu tidak dapat dipungkiri dan juga tidak tertutup bagi seseorang mengenai kontradiksi-kontradiksi akal serta beberapa kekeliruannya. Dalam banyak kasus di sepanjang sejarah, kita menyaksikan dalil-dalil rasional dan argumentasi-argumentasi akal telah dibangun, namun seiring berlalunya waktu secara bertahap dalil dan argumentasi tersebut satu persatu menjadi batal;
3.      Kesalahan dan kekeliruan kedua sumber pengetahuan dan makrifat tersebut dalam beberapa hal tidaklah nampak, akan tetapi tetap saja tidak dapat dijadikan landasan dan tertolak;
Dengan demikian, berdasarkan ketiga pendahuluan di atas yakni pengetahuan dan makrifat manusia yang dihasilkan lewat jalur indra dan akal adalah tidak dapat dijadikan pijakan dan karena manusia hanya mempunyai dua jalur dan sumber pengetahuan ini maka sangatlah logis apabila manusia meragukan apa-apa yang dipahami dan diyakininya tersebut serta sekaligus mengetahui bahwa mereka mustahil mencapai suatu keyakian dan pengetahuan yang hakiki. Atau keraguan itu bisa dipaparkan dalam bentuk ini bahwa senantiasa terdapat jarak antara manusia dan realitas atau gambaran-gambaran pikiran dan persepsi-persepsinya itu, dan pikiran manusia, sebagaimana kaca mata, merupakan hijab yang membatasinya dengan realitas eksternal, dengan demikian, tidak akan pernah manusia menyaksikan dan mengetahui realitas dan kenyataan eksternal itu sebagaimana adanya. Kesimpulannya, kita tidak bisa benar-benar yakin bahwa realitas dan objek eksternal itu diketahui dan dipahami sebagaimana mestinya, karena mungkin saja pikiran kita telah ikut campur dalam mewarnai pemahaman dan pengetahuan tersebut dimana hal ini sebagaimana kaca mata yang berwarna telah ikut berpengaruh dalam penampakan objek-objek yang kita saksikan. Oleh karena itu, mustahil menggapai suatu keyakinan dan pengetahuan yang sebagaimana hakikatnya.
Keraguan bentuk kedua berhubungan dengan keraguan dalam aksioma-aksioma dan dasar-dasar pengetahuan. Dalam hal ini para filosof berupaya mengajukan berbagai solusi dan jawaban.
Keraguan-keraguan yang terlontarkan dalam filsafat Islam adalah sebagai berikut:
1.      Indra melakukan kesalahan dan kekeliruan, sedangkan segala sesuatu yang salah dan keliru tidak dapat dijadikan pijakan, sementara mayoritas pengetahuan dan makrifat manusia bersumber dari indra dan empirisitas;
2.      Dalam banyak permasalahan manusia berargumentasi dan berdalil dengan akal dan rasionya, akan tetapi setelah berlalunya waktu nampaklah berbagai kesalahan-kesalahan argumentasi rasional itu. Oleh karena itu, kita tidak dapat bersandar pada argumentasi dan burhan akal, pada saat yang sama kita menyaksikan bahwa begitu banyak pengetahuan dan makrifat manusia bersumber dari akal.
3.      Keberadaan perkara-perkara yang saling kontradiksi dan bertolak belakang satu sama lain dalam pemikiran-pemikiran manusia telah menyebabkan hadirnya sejenis keraguan dan ketidakpercayaan pada salah sumber pengetahuan dan makrifat yakni akal dan rasio;
4.      Perbedaan yang nyata di antara para filosofdan pemikir dalam wilayah pemikiran dan keilmuan telah menunjukkan bahwa upaya pencapaian suatu pengetahuan dan makrifat hakiki adalah hal yang sangat sulit atau hampir-hampir mustahil;
5.      Keberadaan argumen-argumen yang sempurna dan dapat diterima pada dua persoalan yang saling kontradiksi dan berbenturan satu sama lain telah menampakkan kepada kita bahwa segala argumentasi akal tidaklah nyata dan hakiki;
6.      Apabila cukup dengan keyakinan akal bahwa sesuatu itu ialah aksioma, maka hal ini bisa diajukan suatu kritikan bahwa akal meyakini suatu perkara yang secara potensial mengandung kesalahan, oleh karena itu, tidak mesti mempercayai perkara itu karena sama sekali tidak berpijak pada tolok ukur. Dengan demikian, keyakinan akal dalam aksioma-aksioma tidak valid;
7.      Manusia dalam keadaan tidur menyaksikan seluruh perkara itu nampak secara nyata dan hakiki, akan tetapi setelah terbangun dia kemudian memahami bahwa semua yang disaksikan tersebut hanyalah suatu hayalan dan mimpi. Maka dari itu, bagaimana kita bisa meyakini bahwa kita sekarang ini tidak dalam keadan tidur dan berhayal serta apa-apa yang kita saksikan tersebut bukanlah suatu mimpi belaka;
8.      Manusia-manusia yang berpenyakit dan gila menyangka bahwa perkara-perkara yang tidak riil itu adalah perkara-perkara yang nyata dan hakiki. Dengan demikian, bagaimana kita dapat mempercayai bahwa kita tidak sementara terjangkit suatu penyakit tertentu atau sedang mengalami suatu kesalahan dalam sistem pemikiran dan kontemplasi;
9.      Akal mampu menampakkan kesalahan dan kekeliruan indra, namun apakah kita yakin bahwa tidak terdapat sesuatu atau perkara lain yang dapat menunjukkan secara jelas kesalahan dan kekeliruan akal itu?
10.  Jumlah aksioma-aksioma itu sangatlah terbatas dan semuanya berpijak pada satu proposisi yakni "kemustahilan bergabungnya dua perkara yang saling berlawanan". Proposisi ini bersandar pada konsepsi tentang ketiadaan dan kemustahilan yang terdapat dalam proposisi itu (kemustahilan bergabungnya …) dimana akal tidak mampu memahaminya, karena kemustahilan itu sendiri tidak mempunyai individu-individu dan objek-objek eksternal;
11.  Keragaman dan perbedaan dalam karakteristik dan potensi setiap individu, lingkungan dan ekosistemnya, dan budaya-budayanya telah menyebabkan munculnya berbagai persepsi-persepsi dan pandangan-pandangan yang juga beragam;
12.  Menyingkap sesuatu yang tidak diketahui adalah hal yang mustahil, mengungkap suatu hakikat merupakan hal yang tak mungkin, karena hakikat itu tak diketahui;
13.  Pengetahuan hudhuri dipandang sebagai pengetahuan yang paling tinggi dan sempurna. Pengetahuan kepada diri sendiri adalah bersifat hudhuri, sementara semua orang tidak bisa mengetahui "hakikat diri sendiri" dan tidak mampu menyelami esensi "pengetahuan kepada diri sendiri" itu. Dengan demikian, kita pun tidak mungkin mengetahui segala sesuatu selain "diri kita sendiri";
14.  Pencapaian konsepsi-konsepsi di luar dari batas iradah dan kehendak kita, karena hal ini menyebabkan kita mengetahui sesuatu yang telah kita ketahui sebelumnya atau mengetahui sesuatu yang mutlak tidak diketahui, kedua konsekuensi ini adalah batil. Dengan demikian, pembenaran sesuatu yang aksioma adalah mustahil, oleh karena itu, tertutup jalan untuk meraih keyakinan;
15.  Semakin kita menyelami realitas dan hakikat sesuatu maka yang dihasilkan tidak lain hanyalah persepsi itu sendiri. Oleh karena itu, yang bisa ditegaskan hanyalah "diri kita" dan "persepsi kita", inilah makna dari suatu pernyataan bahwa "satu-satunya realitas eksternal yang kita miliki" tidak lain adalah persepsi itu sendiri;
16.  Apabila pengetahuan dan makrifat manusia bersifat penyingkapan dan pencerminan terhadap objek-objek eksternal, maka tidak mungkin terdapat kesalahan;
17.  Manusia di awal kelahirannya sama sekali tidak memiliki pengetahuan dan jahil terhadap aksioma-aksioma. Oleh karena itu, aksioma-aksioma tersebut dihasilkan oleh manusia setelah berinteraksi secara luas dengan alam dan lingkungannya, aksioma bukanlah merupakan fitrah dan pembawaan alami manusia.
Sementara keraguan-keraguan yang muncul dalam tradisi filsafat Barat antara lain:
1.      Indra dan akal melakukan kesalahan dan kekeliruan, oleh karena itu tidak dapat dijadikan landansan;
2.      Terdapat kontradiksi-kontradiksi antara akal itu sendiri dan manusia yang berakal dalam wacana filsafat;
3.      Menegaskan setiap sesuatu niscaya membutuhkan serangkaian dasar-dasar, dan membuktikan dasar-dasar itu mesti memerlukan pendahuluan-pendahuluan, demikianlah seterusnya hingga tak terbatas. Konklusinya, perolehan makrifat dan pengetahuan ialah hal yang tak mungkin;
4.      Metode induksi tidak menghasilkan suatu keyakinan;
5.      Adanya perbedaan riil pada indra-indra manusia serta perbedaan persepsi di antara indra-indra itu, perbedaan di antara manusia-manusia dari dimensi tubuh dan jiwa, pertentangan indra-indra, perbedaan syarat-syarat yang menyebabkan pula lahirnya perbedaan pada persepsi-persepsi indrawi, perbedaan benda-benda dari dimensi jarak dan tempat, perbedaan benda-benda dari aspek horizontal yakni benda satu di atas dan benda yang lain di bawah, dan perbedaan hukum-hukum adab dan etika. Kesemua perbedaan tersebut berkonsekuensi bahwa tak satupun ilmu dan makrifat dapat dihasilkan;
6.      Fenomena-fenomena akibat (ma'lul) dan tanda-tanda sebab ('illah) tidaklah tersembunyi, karena semua manusia menyaksikan bahwa fenomena-fenomena itu adalah sama, akan tetapi, terdapat perbedaan dan keragaman dalam penentuan sebab-sebabnya;
7.      Apakah kita benar-benar yakin bahwa tidak dalam keadaan tidur dan bermimpi;
8.      Adanya kemungkinan kita ditipu oleh setan;
9.      Proposisi yang berbunyi, "A ada", yakni "Saya mengetahui keberadaan A itu", dengan demikian, selain "saya" dan persepsi-persepsi "saya" adalah sesuatu yang tidak dapat dibuktikan keberadaanya;
10.  Tidak terdapat perbedaan antara "kualitas pertama" dan "kualitas kedua", sebagaimana "kualitas pertama" seperti warna dan bau adalah tidak hakiki, begitu pula "kualitas kedua" seperti panjang dan bentuk adalah juga tidak hakiki;
11.  Prinsip kausalitas itu merupakan buatan pikiran semata, karena konsepsi-konsepsinya bersumber dari pikiran yang tidak diperoleh lewat indra-indra yang lima itu;
12.  Pikiran manusia sama seperti kaca mata, atau fungsinya menimal sama dengan kaca mata. Oleh karena itu, tak satupun dari persepsi-persepsi yang dapat dipercaya;
13.  Mungkin pikiran kita sama saja dengan suatu wadah yang menerima dan menyimpan apa saja yang diberikan padanya, maka dari itu, kesalahan persepsi-persepsi tidak semua dapat ditegaskan dan dibuktikan secara nyata.

II.2.b PENGARUH SKEPTISISME DALAM MASALAH PROBABILITAS PENGETAHUAN
Salah satu dalil penting kaum sofis adalah bahwa di antara para pemikir, ilmuan, dan filosof dunia tidak akan pernah disaksikan ada kesamaan secara utuh dalam pemikiran-pemikiran mereka. Kaum sofis dan skeptis yang karena memandang bahwa perolehan pengenalan dan pengetahuan benar adalah tidak mungkin maka salah satu buktinya hadirnya berbagai perbedaan dan kontradiksi di antara para pemikir tersebut, dan apa-apa yang menurut seseorang ialah suatu kenyataan dan hakikat, sangat mungkin bagi orang lain merupakan suatu hayalan kosong atau sebaliknya. Di samping itu mereka menambahkan bahwa konsepsi-konsepsi kita atas dunia luar mengikuti pengaruh-pengaruh indra kita, seperti seseorang yang terjangkit suatu penyakit yang tidak bisa membedakan antara warna hijau dan warna merah atau seseorang yang sama sekali tak dapat mempersepsi warna-warna. Dengan demikian, manusia yang dalam keadaan dan syarat yang berbeda adalah sangat mungkin mempunyai akidah dan pemikiran yang beragam, walhasil segala realitas ini merupakan bukti atas ketidakmungkinan pengetahuan.[16]
Jawaban:
Kesalahan terbesar mereka ialah bahwa mencampuradukkan antara batasan pengetahuan manusia dengan dasar-dasar makrifat. Argumentasi dan dalil mereka sama sekali tidak menafikan masalah kemungkinan pengetahuan dan bahkan mereka sendiri menegaskan keterbatasan makrifat manusia serta menyatakan bahwa terkadang pengetahuan manusia bercampurnya dengan kesalahan. Mereka ini tidak ingin mengingkari keberadaan batu meteor misalnya, tetapi menyatakan bahwa yang hanya ada adalah satu titik terang dimana karena pengaruh kesalahan penglihatan nampaklah sebagai satu garis panjang api. Begitu pula dalam keberadaan air dan derajat tertentu dari panas, menurut mereka, kita tidak keliru, melainkan kesalahan itu dalam menentukan kuantitas panas itu. Sebenarnya, kita pun tidak beranggapan bahwa semua hakikat alam diketahui atau apa-apa yang kita persepsi itu tidak lepas dari kesalahan dan kekeliruan. Tujuan dari penegasan kemungkinan pengetahuan dan makrifat tidaklah dimaksudkan bahwa kita pasti mengetahui semua hakikat, realitas, dan objek-obek eksternal itu secara benar. Dan di sinilah letak kesalahpahaman mereka tentang probabilitas makrifat.
Titik tekan pembahasan bukanlah pada penafian perbedaan pemikiran dan pandangan di antara para pemikir, melainkan bahwa apakah terdapat perkara-perkara di alam eksternal yang semua orang menerimanya dan tak seorang pun mempunyai perbedaan di dalamnya ataukah tidak? Yang jelas dan pasti, begitu banyak orang menerima pengetahuan-pengetahuan akisoma atau persoalan yang sudah lazim dimana tidak ada lagi keraguan dalam kebenarannya, dalam hal ini, manusia tidak boleh memandang secara negatif bahwa seluruh pemikiran dan pengetahuannya sendiri adalah tidak valid dan tidak benar.
Yang menarik di sini adalah beberapa argumentasi yang dilontarkan oleh para peragu atas ketiadaan kemungkinan pengetahuan justru dapat digunakan untuk menghantam balik perspektif mereka sendiri, yakni ketika mereka mengemukakan kesalahan indra-indra lahiriah itu, maka mereka tak sadar telah menegaskan keberadaan sumber pengetahuan lain yaitu akal, karena bagaimana mereka dapat mengetahui bahwa indra-indra lahiriah itu telah melakukan suatu kesalahan pencerapan, yang pasti bahwa sebelumnya kebenaran realitas-realitas itu telah disingkap namun tidak dengan menggunakan indra-indra lahiriah, melainkan dengan daya akal, dan dari akal inilah lantas diketahui kekeliruan yang dihasilkan oleh indra-indra itu.
Misalnya bagaimana kita memahami bahwa batu meteor yang nampak sebagai sebuah garis panjang api itu adalah salah, karena sebelumnya kita telah mengetahui hakikat keberadaan batu meteor itu dengan sumber dan alat pengetahuan lainnya. Dengan demikian, dibalik sebuah kesalahan itu terdapat beberapa pengetahuan dan makrifat yang benar yang kita miliki dan bahkan dengan perantaraan pengetahuan itulah kita kemudian meluruskan suatu kesalahan dan kekeliruan yang kita alami sendiri. Dengan dasar inilah kita bisa menyimpulkan bahwa dalam setiap hukum atas suatu kesalahan merupakan dalil dan bukti keberadaan pengenalan dan pengetahuan yang benar terhadap banyak realitas.
Begitu pula dalam contoh-contoh yang lain dikatakan bahwa pemikiran dan pandangan kita terhadap dunia luar dipengaruhi oleh indra-indra kita. Di sini nampak dengan jelas adanya pengakuan atas suatu pengetahuan dan makrifat yang benar yang dimiliki oleh manusia yang tidak dipengaruhi oleh indra-indra lahiriah itu. Maka dari itu, pada hakikatnya mereka justru menegaskan kemungkinan pengetahuan dan makrifat yang benar tanpa mereka sadari.
Dalil kaum sofis atas ketidakvalidan argumentasi akal
Kaum sofis dan skeptis menyatakan bahwa satu-satunya proposisi yang diterima adalah yang kebenarannya telah terbukti dengan burhan dan argumen, namun argumen seperti ini ialah batil dan mustahil serta argumen tersebut pada hakikatnya bukanlah bentuk hakiki dari suatu argumen dan burhan, karena pendahuluan-pendahuluan dari argumen itu akan membutuhkan argumen lain dan mukadimah argumen lain ini pun niscaya memerlukan argumen lain sedemikian sehingga akan membentuk silsilah-silsilah yang tak terbatas (kaidah tasalsul). Namun, apabila pendahuluan argumen itu tak butuh pada argumen yang lain, maka dalam hal ini kita tidak mempunyai suatu argumen apa pun. Kalau dikatakan bahwa terkadang satu argumen berpijak pada suatu mukadimah yang tidak lagi memerlukan suatu argumen lain, maka pernyataan ini hanyalah suatu asumsi yang mesti dibuktikan kebenarannya.
Jawaban:
Kaum ini ketika berargumentasi secara tidak sadar menerima keberadaan argumen-argumen rasional dimana dalil-dalil mereka itu berpijak padanya. Kaum sofis dan skeptis ini layaknya sebagai orang-orang yang memiliki keyakinan atas pemikiran-pemikirannya dan dengan menggunakan dalil-dalil akal dan indra berusaha untuk meruntuhkan kelemahan-kelemahan persepsi manusia dan dengan perantaraan akal mereka melarang manusia untuk bersandar pada akal serta dengan membangun argumen-argumen mereka berusaha untuk melemahkan segala bentuk argumentasi akal, sementara itu kaum ini sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi padanya.
Dasar-dasar argumentasi mereka berpijak pada kemustahilan tasalsul dan kaidah yang menyatakan bahwa "sesuatu yang tidak diketahui mustahil menjadi landasan bagi penyelesaian sesuatu lain yang tidak diketahui" serta juga bersandar pada hal-hal yang fitrah yakni tak menerima pandangan yang belum terbukti kebenarannya. Kita saksikan bahwa mereka yang mengkonstruksi suatu argumen dengan dasar-dasar akal dan fitrah itu bagaimana bisa beranggapan bahwa pengetahuan dan makrifat akal dan fitrah sangat tidak layak untuk dipercayai dan dijadikan landasan keyakinan yang benar.
Kritik atas argumentasi-argumentasi mereka adalah bahwa mereka tidak mengetahui batasan antara hal-hal yang "aksioma" dan "fitrawi". Kita memiliki perkara-perkara yang tidak seorangpun meragukannya (kecuali kaum sofis dan skeptis yang walaupun secara lahiriah diingkarinya, namum secara batiniah meyakininya) dan tak memerlukan usaha berpikir untuk menerima kebenarannya seperti dua ditambah dengan dua adalah empat atau dalam waktu dan tempat yang sama ialah mustahil terjadi siang dan juga malam. Dalam perkara-perkara yang aksioma dan badihi ini tidak terdapat kesalahan dan kekeliruan serta sangat diyakini kebenarannya oleh manusia sedemikian sehingga kalau pun didukung oleh beberapa argumentasi yang kokoh maka tidak akan menambah sedikit pun keyakinan manusia akan kebenarannya. Berhadapan dengan ilmu dan pengetahuan aksioma ini, terdapat pengetahuan-pengetahuan teoritis yang memiliki kemungkinan untuk salah dan keliru. Dalam hal ini memang benar apa yang dikatakan mereka bahwa hanyalah proposisi-proposisi teoritis yang akan dipercayai setelah terbukti dengan argumen-argumen, akan tetapi, tidaklah mesti pendahuluan argumen itu juga ditegaskan oleh argumen-argumen lain, bahkan cukuplah mukadimah argumen itu terbentuk dari perkara-perkara yang badihi dan aksioma dimana tidak seorang pun menafikannya. Walhasil, masalah-masalah teoritis dan pemikiran haruslah dianalisa dan diuji kebenarannya dengan argumen-argumen lain sedemikian sehingga berakhir pada suatu pendahuluan dan mukadimah argumen yang hanya memuat perkara-perkara aksioma, dengan demikian, silsilah argumen-argumen niscaya akan berujung dan tidak terjebak ke dalam kemustahilan tasalsul.

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:
Free Blog Templates