Minggu, 06 Februari 2011

ASUHAN KEBIDANAN PADA PERSALINAN DENGAN RUPTURA UTERI TERHADAP NY. H


LANDASAN TEORI



A.    Definisi
Ruptur uteri merupakan peristiwa yang paling gawat dalam bidang kebidanan karena angka kematiannya yang tinggi. Janin pada ruptur uteri yang terjadi di  luar rumah sakit sudah dapat dipastikan meninggal dalam kavum abdomen. Ruptura uteri masih sering dijumpai di Indonesia karena persalinan masih banyak ditolong oleh dukun. Dukun seagian besar belum mengetahui mekanisme persalinan yang benar, sehingga kemacetan proses persalinan dilakukan dengan dorongan pada fundus uteri dan dapat mempercepat terjadinya ruptura uteri.
Menurut Sarwono Prawirohardjo pengertian ruptura uteri adalah robekan atau diskontinuitas dinding rahim akiat dilampauinya daya regang mio metrium. Penyebab ruptura uteri adalah disproporsi janin dan panggul, partus macet atau traumatik. Ruptura uteri termasuk salahs at diagnosis banding apabila wanita dalam persalinan lama mengeluh nyeri hebat pada perut bawah, diikuti dengan syok dan perdarahan pervaginam. Robekan tersebut dapat mencapai kandung kemih dan organ vital di sekitarnya.
Resiko infeksi sangat tinggi dan angka kematian bayi sangat tinggi pada kasus ini. Ruptura uteri inkomplit yang menyebabkan hematoma pada para metrium, kadang-kadang sangat sulit untuk segera dikenali sehingga menimbulkan komplikasi serius atau bahkan kematian. Syok yang terjadi seringkali tidak sesuai dengan jumlah darah keluar karena perdarhan heat dapat terjadi ke dalam kavum abdomen. Keadaan-keadaan seperti ini, sangat perlu untuk diwaspadai pada partus lama atau kasep.


B.     Masalah
  1. Morbiditas dan mortalitas yang tinggi pada kasus ini
  2. konservasi fungsi reproduksi
  3. Resiko ruptura uteri ulangan

C.    Faktor Predisposisi
  1. Multiparitas / grandemultipara
  2. Pemakaian oksitosin untuk induksi/stimulasi persalinan yang tidak tepat
  3. Kelainan letak dan implantasi plasenta umpamanya pada plasenta akreta, plasenta inkreta/plasenta perkreta.
  4. Kelainan bentuk uterus umpamanya uterus bikornis
  5. Hidramnion

Cara terjadinya atau jenis rupture uteri adalah :
  1. Ruptura uteri spontan
a.       Terjadi spontan dan seagian besar pada persalinan
b.      Terjadi gangguan mekanisme persalinan sehingga menimbulkan ketegangan segmen bawah rahim yang berlebihan

  1. Ruptur uteri trumatik
a.       Terjadi pada persalinan
b.      Timbulnya ruptura uteri karena tindakan seperti ekstraksi farsep, ekstraksi vakum, dll

  1. Rupture uteri pada bekas luka uterus
Terjadinya spontan atau bekas seksio sesarea dan bekas operasi pada uterus.


Pembagian rupture uteri menurut robeknya dibagi menjadi :
1.      Ruptur uteri kompleta
a.       Jaringan peritoneum ikut robek
b.      Janin terlempar ke ruangan abdomen
c.       Terjadi perdarahan ke dalam ruangan abdomen
d.      Mudah terjadi infeksi
2.      Ruptura uteri inkompleta
a.       Jaringan peritoneum tidak ikut robek
b.      Janin tidak terlempar ke dalam ruangan abdomen
c.       Perdarahan ke dalam ruangan abdomen tidak terjadi
d.      Perdarahan dapat dalam bentuk hematoma

D.    Gejala
1.      Biasaya ruptura uteri didahului oleh gejala-gejala ruptura membakat, yaitu his yang kuat dan terus-menerus, rasa nyeri yang hebat di perut bagian bawah nyeri waktu ditekan, gelisah atau seperti ketakutan, nadi dan pernapasan cepat, cincin van bandl meninggi.
2.      Setelah terjadi ruptura uteri dijumpai gejala-gejala syok, perdarahan (bisa keluar melalui vagina ataupun kedalam rongga perut), pucat, nadi cepat dan halus, pernapasan cepat dan dangkal, tekanan darah turun. Pada palpasi sering bagian-bagian janin dapat diraba langsung di awah dinding perut, ada  nyeri tekan, dan di perut bagian bawah teraba uteus kira-kira seesar kepala bayi. Umumnya janin sudah meninggi.
3.      Jika kejadian ruptura uteri telah lama terjadi, akan timbul gejala-gejala meteorismus dan defence musculare sehingga sulit untuk dapat meraba bagian janin.


E.     Prognosis
Rupture uteri merupakan malapetaka untuk ibu maupun janin. Oleh karena itu tindakan pencegahan sangat penting dilakukan. Setiap ibu bersalin yang disangka akan mengalami distosia, kelainan letak janin, atau pernah mengalami tindakan operatif pada uterus seperti seksio sesarea, miomektomi dll, harus diawasi dengan cermat. Hal ini perlu dilakukan agar tindakan dapat segera dilakukan jika gejala-gejala ruptura uteri membakat, sehingga ruptura uteri dapat dicegah terjadinya pada waktu yang tepat.

F.     Penanganan / Penatalaksanaan
Penanganan ruptura uteri memerlukan tindakan spesialistis dan hanya mungkin dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas transfusi darah. Sikap bidan kalau menerima kiriman penderita dengan ruptura uteri di pedesaan adalah melakukan observasi saat menolong persalinan sehingga dapat melakukan rujukan bila terjadi ruptura uteri mengancam atau membakat. Oleh karena itu, kerja sama dengan dokter puskesmas atau dokter keluarga sangat penting.

Mengahdapi ruptura uteri yang dapat mencapai polindes/puskesmas segera harus dilakukan :
1.      Pemasangan infus untuk mengganti cairan dan perdarahan untuk mengatasi keadaan syok
2.      Memberikan profilaksis antibiotika atau antipiretik. Sehingga infeksi dapat dikurangi.
3.      Segera merujuk penderita dengan didampingi petugas agar dapat memberikan pertolongan
4.      Jangan melakukan manipulasi dengan pemeriksaan dalam untuk menghindari terjadinya perdarahan baru.


Menurut Sarwono Prawirohardjo
Penanganan ruptura uteri :
1.        Berikan seera cairan isotonik (ringer loktat atau garam fisiologis) 500 ml dalam 15-20 menit dan siapkan laparotomi
2.        Lakukan laparatomi untuk melahirkan anak dan plasenta, fasilitas pelayanan kesehatan dasar harus merujuk pasien ke rumah sakit rujukan
3.        Bila konservasi uterus masih diperlukan dan kondisi jaringan memungkinkan, lakukan reparasi uterus
4.        Bila luka menalami nekrosis yang luas dan kondisi pasien mengkhawatirkan lakukan histerektomi
5.        Antibiotika dan serum anti tetanus.
Bila terdapat tanda-tanda infeksi segera berikan antibiotika spektrum luas. Bila terdapat tanda-tanda trauma alat genetalia/luka yang kotor, tanyakan saat terakhir mendapat tetanus toksoid. Bila hasil anamnesis tidak dapat memastikan perlindungan terhadap tetanus, berikan serum anti tetanus 1500 IU/IM dan TT 0,5 ml IM

Demikian dalam menghadapi ruptura di daerah pedesaan, bidan harus segera melakukan rujukan untuk menyelamatkan jiwa pendeta. Ruptura uteri yang dapat mencapai polindes atau puskesmas adalah ruptura uteri yang tidak disertai robekan pembuluh darah besar sehingga diselamatkan dari bahaya kematian karena infeksi dan perdarahan.


Sikap bidan dalam puskesmas
-     Observasi persalinan
-     Merujuk penderita saat ruptura uteri membakat
-     Ruptura uteri segera dirujuk ke rumah sakit
-     Persiapan rujukan :
-     Infus-cairan
-     Antibiotika dan antipiretik
-     Diantar petugas


 
 

Penanganan ruptura uteri







Rupture uteri membakat/ mengancam :
-     Gelisah kesakitan
-     Nadi, pernapasan meningkat
-     Ligamentum rotun dan tegang
-     Lingkaran bandle meningkat
-     Dapat terjadi gawat janin
-     Bagian terendah terfiksir 

Rupture uteri
-     Tampak sakit, nadi, pernapasan cepat
-     Tekanan darah rendah, bagian ujung dingin
-     Janin di bawah kulit abdomen
-     Janin dalam kavum abdomen
-     Tanda cairan bebas dalam abdomen
 


Sikap rumah sakit
-     Perbaikan keadaan umum penderita
-     Ruptura uteri membakat
-     Selesaikan persalinan dengan tindakan yang adekuat
-     Ruptura uteri
-     Perbaikan keadaan umum
-     Histeronaphi dan histerektoi
 



Perawatan :
-     Perawatan post operasi
-     Infus dan tranfusi
-     Antibiotika dan antipretika
-     Mobilisasi bertahap
 


 















ASUHAN KEBIDANAN PADA PERSALINAN DENGAN
RUPTURA UTERI TERHADAP NY. H


Kala I
Pengumpulan data tanggal 12 Juni 2007 Pukul 10.00 Wib

I.             Data Subyektif
A.    Identitas
Nama Ibu     :  Ny. H                          Nama Suami :   Tn. D
Umur            :  46 Tahun                     Umur              :   48 Tahun
Agama          :  Islam                           Agama           :   Islam
Suku             :  Jawa                            Suku               :   Jawa
Pendidikan   :  SMU                           Pendidikan     :   SMU
Pekerjaan      :  IRT                              Pekerjaan       :   IRT
Alamat         :  Jl. Rajawali No.3         Alamat           :   Jl. Rajawali No. 3
                        Kec. Batanghari Lam-Tim                     Kec. Batanghari Lam-Tim

B.     Keluhan Utama
Ibu hamil anak ke enam, usia kehamilan 9 bulan, mengeluh perutnya teasa mules dan nyeri pinggang menjalar ke  perut bagian bawah sejak pukul 05.00 Wib serta mengeluarkan lendir bercampur darah dari kemaluannya sejak pukul 07.00 Wib.

C.     Keluhan Sejak Kunjungan Terakhir
Ibu berkunjung 1 minggu yang lalu. Ibu mengalami pegal-pegal dipinggang tetapi belum merasakan nyeri perut bagian bawah, selain itu ibu mengeluh sering kecing.

D.    Tanda-tanda Persalinan
Ibu datang tanggal 12 Juni 2007 pukul 10.00 Wib. His ada 3 x/menit lamanya 30 detik. Ibu mengatakan nyeri pinggang menjalar ke perut bagian bawah, pengeluaran pervaginam berupa cairan lendir bercampur darah + pukul 07.00 Wib

E.     Masalah Khusus
Ibu tidak mempunyai masalah untuk sementara ini, kondisi ibu baik

F.      Riwayat Kehamilan Sekarang
HPHT 07-09-2006, ANC dilakukan secara teratur setiap bulan di bidan, selama hamil ibu tidak mengalami keluhan yang berarti.

G.    Riwayat Imunisasi
TT1 :  usia kehamilan 16 minggu di BPS kasih ibu bidan Juwita
TT2 :  usia kehamilan 20 minggu di BPS kasih ibu bidan Juwita

H.    Riwayat Kehamilan atau Persalinan yang Lalu

Hamil ke
Tahun lahir
Lama dan Jenis Persalinan
Penyakit Komplikasi
Penolong dan Tepat
BBT
Keadaan Anak
1
1999
Spontan pervaginam
Tidak ada
Bidan
Normal
Sehat
2
2000
Spontan pervaginam
Tidak ada
Bidan
Normal
Sehat
3
2002
Spontan pervaginam
Tidak ada
Bidan
Normal
Sehat
4
2004
Spontan pervaginam
Tidak ada
Bidan
Normal
Sehat
5
2005
Indikasi pervaginam
Tidak ada
Bidan
Normal
Aspeksia ringan


I.       Pergerakan Janin dlam 24  Jam Terakhir
Ibu mengatakan sebelum mulas merasakan gerakan janin sangat kuat, pada saat his gerakan janin sedikit berkurang

J.       Makan dan Minum Terakhir
Ibu terakhir makan pukul 09.00 Wib dengan porsi sedang. Setelah his timbul, banyak minum air putih

K.    BAB dan BAK
Ibu telah BAB 1 kali pagi hari setelah bangun tidur pukul 06.00 Wib dan BAK terakhir pukul 10.00 Wib

L.     Tidur atau Istirahat
Setiap hari ibu tidur 7 – 8 jam perhari. Setelah mulas-mulas ibu tidak dapat beristirahat

M.   Psikologis
Ibu mengharapkan anak yang dilahirkan dalam kondisi sehat, ibu sedikit cemas dengan persalinannya kali ini.

II.          Data
  1. Pemeriksaan umum
Keadaan umum : baik
Kesadaran : composmetis
Tanda-tanda vital :
TD       : 110/80 mmHg
Pols     : 87x/mnt
RR       : 22 x mnt
Tempt : 37oC

  1. Pemeriksaan fisik
Infeksi
a.       Rambut               :   bersih, tidak ada ketombe, dan tidak mudah patah /dicabut
b.      Wajah                  :   simetis tidak ada oedema, ada cloasma gravidaum
c.       Mata                    :   simetis, konjungtiva merah mudah, sklera tidak ikterik, fungsi penglihatan biak, refel pupil baik.
d.      Hidung                :   siemtris, keadaan bersih, tidak ada polip, fungsi penciuman baik.
e.       Gigi dan mulut    :   Keadaan bersih, tidak ada caries gigi, tidak ada gigi berlubang, lidah berish tidak ada stomatitis
f.       Telinga                :   simetris kanan dan kiri, keadaan bersih, tidak ada serumen, fungsi pendengaran baik.
g.      Leher                   :   tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan vena jugularis
h.      Dada                   :   payudara simetis kanan dan kiri, pergerakan dinding dada simetris.
i.        Memae                :   areola mamae menonjol, terjadi hiperpigmentasi, adanya pembesaran payudara, kolostrum sudah keluar sedikit.
j.        Abdomen            :   tidak ada luka bekas operasi, tidak ada strie gravidarum, pembesaran sesuai usia kehamilan.
k.      Ekstremitas
Atas                     :   tidak ada oedema pada tangan, pergerakan sendi baik
Bawah                 :   tidak ada oedema pada tungkai kaki, tidak ada varises, kaki agak sedikit kram.
l.        Genetalia             :   tidak ada oedema, tidak ada varises pada vulva dan vagina, perineum elastis, tidak ada pengeluaran lendir saat kontraksi, ada bekas luka perineum dari persalinan yang lalau, ada pengeluaran lendir bercampur darah.
m.    Retum                 :   tidak ada hemaroid, tidak ada varises

Palpasi
Mc. donal          :   33 cm
TB I                   :   (33-11) x 155
                          :   22 x 155 : 3410 gram
Leopold I          :   TFU 3 jari dibawah px, pada fundus teraba bagian bulat, lunak tidak melenting yang berarti bokong
Leopold II         :   Perut sebelah kanan ibu teraba paparan panjang dan luas berarti punggung. Pada perut sebelah kiri ibu teraba bagian-bagian kecil yang berarti ekstremitas.
Leopold III       :   Bagian terendah janin teraba bagian bulat, keras dan melenting yang berarti kepala, kepala sudah masuk PAP.
His                     :   ada 3 x /10 menit lamanya 30 detik

Auskultasi
Dada                 :   paru-paru tidak terdengar ronchi dan wheezing, jantung tidak terdengar mur-mur
DJJ                    :   terdengar kuat dan teratur dengan frekuensi 146 x/mnt

Perkusi
Refleks patela positif (+)
  1. Pemeriksaan Dalam
Pemeriksaan dalam dilakukan pada pukul 10.30 wib dengan hasil :
a.       Pengeluaran pervaginam berupa lendir bercampur darah
b.      Perineum lentur, portio lunak dan tipis
c.       Dinding vagina normal, tidak ada benjolan atau kelainan
Pengawasan Kala I
Tgl
Waktu
Pembukaan serviks
Kondisi Ibu
Kondisi janin
TD
Pols
RR
Temp
Obat cair yang diberikan
Urine
Kontraksi Uterus/His
DJJ
Penurunan kepala
Ketuban/ penyusupan
12/06/07
10.30
3 cm
120/70
80
20
370C

100 cc
Kekuatan sedang, lama  20-30 x dalam 10 mnt
146 x/mnt (+)
4/5
+/0

11.00


80
22



Kekuatan sedang, lama  20-30 x dalam 10 mnt
147 x/mnt (+)



11.30


82
20



Kekuatan sedang, lama  20-30 x dalam 10 mnt
140 x/mnt (+)



12.00


80
20



Kekuatan sedang, lama  20-30 x dalam 10 mnt
146 x/mnt (+)



12.30


80
20



Kekuatan sedang, lama  20-40 x dalam 10 mnt
144 x/mnt (+)



13.00


84
22



Kekuatan sedang, lama  20-40 x dalam 10 mnt
140 x/mnt (+)



13.30


80
22



Kekuatan sedang, lama  20-40 x dalam 10 mnt
142  x/mnt (+)





14.00







Kekuatan sedang, lama  20-40 x dalam 10 mnt
150  x/mnt (+)


12-02-2007
14.30
7 cm
120/70
84
22
37,30C
Oksitosin/drip
100 cc
Kekuatan sedang, lama  40 x dalam 10 mnt
150  x/mnt (+)
3/5
+/0


III.       Analisa Data
1.      Diagosa
G6P5Ao hamil 40 minggu janin tunggal hidup, intrauterin, letak memanjang, posisi puka, presentasi kepala, inpartu kala I, fase aktif dilatasi maksimal.
Dasar :
a.       Ibu mengatakan hamil anak ke 6, usia kehamilan 6 bulan
b.      HPHT 07 – 09 – 2006
c.       TP : 14 – 06 – 2007
d.      Ibu mengatakan perutnya mulas, nyeri pinggang menjalar ke bagian bawah.
e.       Leopold I           : petengahan pusat Px, pada fundus teraba bokong
f.       Leopold II          : puka
g.      Leopold III        : presentasi kepala
h.      Leopold IV        : sebagian besar sudah masuk PAP
2.      Masalah
Ibu merasa sedikit cemas akan persalinananya yang keenam
3.      Kebutuhan
a.       Persalinan fisik dan mental untuk proses persalinan
b.      Dukungan psikologis
c.       Penyuluhan teknik relaksasi
d.      Informasi tentang kemajuan persalinan dan cara mengejan
e.       Penuhi kebutuhan nutrisi dan cairan
f.       Atur psoisi ibu senyaman mungkin
g.      Anjurkan ibu untuk BAK dan BAB
h.      Pemantauan kala I dengan partograf

IV.       Perencaan
1.      Pasang infus RL dengan oksitosin perdrip
2.      Siapkan tempat persalinan, alat-alat dan perlengkapan penolong persalinan serta fisik dan netal ibu.
3.      Beri ibu dukugnan seprti mengsap keringat, menemani ibu, mengusap penggung ibu, dan menghadirkan pendamping untuk persalinan.
4.      Beri ibu pnyuluhan tentang teknik relaksasi yiatu disaat ada his ibu disuruh tarik nafas panajng dan kemudan mengeluarkan dengan cara meniup.
5.      Anjurkan ibu untuk mengambil posisi senyaman mungkin, ibu dapat miring ke kiri.
6.      Jelaskan kepada ibu tentang kemajuan persalinan
7.      Anjurkan ibu untuk bekemih dan BAB
8.      Pantau kemajuan persalinan dengan pargograf

Kala II
Pengumpulan data tanggal 12 Juni 2007 pukul 16.00 wib
S :  a.   Ibu mengatakan merasa seperti ingin BAB
b.      Ibu  mengatakan rasa sakit semakin kuat pada pertu baigan bawah
c.       Ibu mengatakan seperti ada yang robek di dalam perutnya
d.      Ibu mengatakan bahwa ia merasa takut menghadapi persalinan ini.
e.       Megatakan pertunya bagian bawah terasa nyeri waktu ditekan


O : a.   Keadan umu : lemah, pucat
b.      Kesadaran : gelisah, composmetis
c.       Tanda-tanda vital :
TD       : 80 / 60 mmHg
RR       : 30 x /mnt, tidak teratur, dangkal
Pols     : 100 x / menit, tidak teratur, lemah
Temp   : 38oC
d.      His ada, frekuensinya 5 x /10 menit lamanya > 40 detik
e.       DJJ frekuensi 164x / menit, tidak teratur, lemah
f.       Pada pemeriksaan dalam didapatkan
1)      Vulva dan anus membuka, perineum menonjol
2)      Ada pembengkakan / hematoma vulva
3)      Pergeuaran pervaginam lendir bercampur banyak darah dengan tiba-tiba
4)      Portiio tidak teraba, ketuban jernih bercampur darah
5)      Pembukaan 10 cm
6)      Presentasi kepala
7)      Bagian terendah mudah didorong ke atas tidak teraba di PAP
8)      Terdapat perdarahan melalui vagina
g.      Ibu tampak pucat, gelisah, dan mengalami syok
h.      Ujung-ujung ekstremitas taraba dingin
i.        Pada palpasi, bagian-bagian janin dapat diraba langsung di bawah dinding

A :  1.  Diagnosa
G2A5Ao hamil 40 minggu, janin tunggal, hidup, intra uterin, letak memanjang, puka, presentasi kepala dengan ruptura uteri inkomplit.
Dasar :
a.       Ibu mengatakan seperti ingin BAB
b.      Ibu tampak pucat, gelisah seperti syok, ujung ekstremitas teraba dingin
c.       Ibu mengatakan rasa sakit semakin kuat pada perut bagian bawah dan terasa ada yang robek di dalam perutnya
d.      Pemeriksaan dalam di dapat ketuban sudah pecah dan terdapat perdarahan melalui vagina
e.       Hematoma vulva

2.      Masalah
Pada kala II persalinan terjadi ruptura uteri inkomplit
3.      Kebutuhan
a.       Atur posisi nyaman pada ibu dengan miring kiri
b.      Beri tahu ibu bahwa telah terjadi komplikasi pada persalinannya
c.       Beri dukungan psikologis
d.      Perbaiki keadaan umum
e.       Penuhi kebutuhan cairan, ganti cairan infus
f.       Pantau Djj secara ketat awasi terjadinya gawat janin
g.      Segera rujuk ibu dan dampingi saat merujuk dengan membawa Baksokudo (Bidan, Alat, Keluarga, Surat (dokumentasi), Obat, Kendaraan, Uang, Donor darah)

P :  1.  Jelaskan pada ibu ia memasuki proses persalinan kala II tetapi ada penyulit yang menyertai
       2.  Atur posisi nyaman pada ibu
       3.  Beri dukungan psikologis
4.      Segera rujuk ibu secepat mungkin
5.      Jangan lakukan pemeriksaan dalam karena akan memperparah keadaan
6.      Selalu pantau dengan ketat dan perbaiki keadaan umum ibu
7.      Observasi Djj dengan ketat
8.      Penuhi kebutuhan ciaran dengan IVFD 0,5 % dan ganti cairan infus
9.      Berikan profilaksis antibiotika dan antipiretik
Kala III
Pengumpulan data tanggal 12 Februari 2007 pukul 20.00 Wib
S :   1.  Ibu mengatakan bahwa ia takut kehilangan bayinya
       2.  Ibu masih merasa sangat lemah
       3.  Ibu mengatakan masih merasa mulas pada perutnya..

O : 1.  Tanda-tanda vital :
             TD      :  90/60 mmHg           
RR       :  20 x/menit, tidak teratur, dangkal
Pols     :  80 x/menit, tidak teratur, lemah
Temp   :  38 0C
       2.  Pengeluaran plasenta secarea dengan sectio sesarea

A : 1.  Diagnosa
             P6Ao partus sectio secarea dengan ruptur uteri
Dasar :
a.       Bayi lahir pukul 18.00 Wib
b.      Plasenta telah lahir

2.     Masalah
Terjadi ruptura uteri pada proses persalinan

3.     Kebutuhan
a.       Pantau dan perbaiki keadaan umum
b.      Pemenuhan kebutuhan cairan dan nutrisi


P :   1. Observasi kontraksi uterus dan perdarahan kala III
       2.  Lakukan pemeriksaan tanda vital dan keaan umum ibu
       3. Bagi bayi sectio secarae pukul 18.00 Wib jenis kelamin perempuan BB : 34.00 gram, PB : 50 cm, anus ada, tidak ada cacat, apgar score menit pertama 4/10
       4.  Plasenta lahir sectio secarea dan lengkap pukul 18.15 Wib, kotiledon dan selaput utuh, panjang tali pusat 45 cm, lebar plasenta 14 cm, berat plasenta 200 gram, insersi marginal.


Kala IV
Pengumpulan Data Tanggal 13 Februari 2007 Pukul 07.00 Wib

S :   1.  Ibu mengatakan perutnya masih terasa nyeri
       2.  Ibu mengatakan senang dan bahagia atas kelahiran bayinya

O : 1.  Keadaan umum :  lemah
       2.  Kesadaran           :  composmentis
       3.  Tanda-tanda vital
             TD      :  90/60 mmHg           
RR       :  24 x/menit, tidak teratur, dangkal
Pols     :  90 x/menit, tidak teratur, lemah
Temp   :  38 0C
4.    Uterus teraba lembek, kontraksi uterus baik
5.    Perdarahan + 400 cc
6.    Keadaan kandung kemih kosong
7.    Pada perut ibu terdapat luka jahitan bekas sectio

A : 1.  Diagnosa
G6Ao partus post section secarea
Dasar :
a.       bayi lahir sectio secarea pukul 18.00 Wib
b.      Plasenta lahir lengkap sectio pukul 18.15 Wib
c.       Uterus teraba lembek, kontraksi baik
d.      Perdarahan + 200 cc

2.    Masalah
Ibu masih merasa takut terjadi sesuatu setelah sectio tersebut.

3.    Kebutuhan
a.       Pantau keadaan umum dengan mengukur tanda-tanda vital
b.      Ganti cairan infus
c.       Pantau secara ketat kala IV
d.      Pantau keadaan ibu apakah sudah platus atau sudah bersendawa

P :   1.  Memantau tanda vital dan keadaan umum
       2.  Anjurkan posisi nyaman pada ibu
       3.  Pantau bekas operasi agar tidak terjadi infeksi
       4.  Beri ibu minum air hangat sedikit-sedikit dengan sendok bila ibu sudah platus/dibolehkan minum.

CATATAN PERKEMBANGAN
Kunjungan pertama, post sectio hari ke-1 tanggal 13 Februari 2007 pukul 07.00 WIB

S :   1.  Ibu mengatakan masih sangat lemah
       2.  Keluarga mengatakan sadar pukul 06.30 WIB
3.  Ibu mengatakan perutnya masih terasa sakit 

O : 1.  Keadaan umum :  lemah
       2.  Kesadaran           :  composmentis
       3.  Tanda-tanda vital
             TD      :  90/60 mmHg           
RR       :  24 x/menit, tidak teratur, dangkal
Pols     :  90 x/menit, tidak teratur, lemah
Temp   :  38 0C
8.    Uterus teraba lembek, kontraksi uterus baik
9.    Pada inspeksi terlihat ada luka jahitan bekas sectio
10.Keadaan kandung kemih kosong

A : 1.  Diagnosa
Post sectio hari ke-1 dengan rupture uteri
2.    Masalah
Ibu cemas akan keadaan bayinya, ibu takut akan terjadi sesuatu setelah sectio terutama pada perutnya
3.    Kebutuhan
a.       Pantau keadaan umum dengan mengukur tanda-tanda vital
b.      Ganti cairan infus
c.       Pantau secara ketat kala IV


P :   1.  Memantau tanda vital dan keadaan umum
       2.  Anjurkan posisi nyaman pada ibu
       3.  Ajarkan pada ibu perawatan luka post sectio

CATATAN PERKEMBANGAN
Kunjungan kedua, post sectio hari ke-3 tanggal 16 Februari 2007 pukul 07.00 WIB

S :   1.  Ibu mulai bisa menggerakkan badannya
       2.  Ibu mengatakan bahwa rasa nyeri sedikit berkurang

O : 1.  Keadaan umum :  baik
       2.  Kesadaran           :  composmentis
       3.  Tanda-tanda vital
             TD      :  110/70mmHg          
RR       :  20 x/menit, tidak teratur, dangkal
Pols     :  80 x/menit, tidak teratur, lemah
Temp   :  37 0C
4.    Jahitan sudah mulai mengering

A : 1.  Diagnosa
Post sectio hari ke-3 dengan rupture uteri
2.    Masalah
Gangguan melakukan aktifitas
3.    Kebutuhan
a.       Pantau keadaan umum dengan mengukur tanda-tanda vital
b.      Bantu pergerakan ibu

P :   1.  Memantau tanda vital dan keadaan umum
       2.  Anjurkan posisi nyaman pada ibu
       3.  Ajarkan mobilisasi yang benar
CATATAN PERKEMBANGAN
Kunjungan ketiga, post sectio hari ke-7 tanggal 20 Februari 2007 pukul 07.00 WIB

S :   1.  Ibu mengatakan sudah mulai leluasa bergerak
       2.  Ibu mengatakan takut menyusui bayinya
3.  Ibu mengatakan ingin berhenti mempunyai anak karena merasa anaknya sudah cukup

O : 1.  Keadaan umum :  baik
       2.  Kesadaran           :  composmentis
       3.  Tanda-tanda vital
             TD      :  110/70mmHg          
RR       :  20 x/menit, tidak teratur, dangkal
Pols     :  80 x/menit, tidak teratur, lemah
Temp   :  37 0C
4.    Jahitan sudah mulai mengering

A : 1.  Diagnosa
Post sectio hari ke-7 dengan rupture uteri
2.      Masalah
Konseling KB
3.      Kebutuhan
a.       Pantau keadaan umum dengan mengukur tanda-tanda vital
b.      Ajari ibu cara merawat bayi
c.       Konseling cara atau alat KB yang cocok

P :   1.  Memantau tanda vital dan keadaan umum
       2.  Anjurkan posisi nyaman pada ibu
       3.  Ajarkan personal hygiene yang benar
4. Berikan konseling KB

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:
Free Blog Templates