Minggu, 06 Februari 2011

DOKUMENTASI KEBIDANAN “PARTUS PRESIPITATUS”


PARTUS PRESIPITATUS

1.      PENGERTIAN
Partus presipitatus adalah persalinan berlangsung sangat cepat. Kemajuan cepat dari persalinan, berakhir kurang dari 3 jam dari awitan kelahiran, dan melahirkan di luar rumah sakit adalah situasi kedaruratan yang membuat terjadi peningkatan resiko komplikasi dan/atau hasil yang tidak baik pada klien/janin (Doenges, 2001).
2.      ETIOLOGY / PENYEBAB
-          Abnormalitas tahanan yang rendah pada bagian jalan lahir
-          Abnormalitas kontraksi uterus dan rahim yang terlalu kuat
-          Pada keadaan yang sangat jarang dijumpai oleh tidak adanya rasa nyeri pada saat his sehingga ibu tidak menyadari adanya proses-proses persalinan yang sangat kuat itu (Doenges, 2001).
3.      TANDA DAN GEJALA
Dapat mengalami ambang nyeri yang tidak biasanya atau tidak menyadari kontraksi abdominal. Kemungkinan tidak ada kontraksi yang dapat diraba, bila terjadi pada ibu yang obesitas. Ketidaknyamanan punggung bagian bawah (tidak dikenali sebagai tanda kemajuan persalinan). Kontraksi uterus yang lama/hebat, ketidak-adekuatan relaksasi uterus diantara kontraksi. Dorongan invalunter lintula mengejan (Doenges, 2001).
4.      AKIBAT PADA IBU
Partus presipitatus jarang disertai dengan komplikasi maternal yagn serius jika serviks mengadakan penipisan serta dilatasi dengan mudah, vagina sebelumnya sudah teregang dan perineum dalam keadaan lemas (relaksasi). Namun demikian, kontraksi uterus yang kuat disertai serviks yang panjang serta kaku, dan vagina, vulva atau perineum yang tidak teregang dapat menimbulkan rupture uteri atau laserasi yang luas pada serviks, vagina, vulva atau perineum. Dalam keadaan yang terakhir, emboli cairan ketuban yang langka itu besar kemungkinannya untuk terjadi. Uterus yang mengadakan kontraksi dengan kekuatan yang tidak lazim sebelum proses persalinan bayi, kemungkinan akan menjadi hipotonik setelah proses persalinan tersebut dan sebagai konsekuensinya, akan disertai dengan perdarahan dari templat implantasi placenta (Sarwono, 2005).
5.      AKIBAT PADA FETUS DAN NEONATUS
Mortalitas dan morbiditas perinatal akibat partus presipatatus dapat meningkat cukup tajam karena beberapa hal. Pertama, kontraksi uterus yang amat kuat dan sering dengan interval relaksasi yang sangat singkat akan menghalangi aliran darah uterus dan oksigenasi darah janin. Kedua, tahanan yang diberikan oleh jalan lahir terhadap proses ekspulsi kepala janin dapat menimbulkan trauma intrakronial meskipun keadaan ini seharusnya jarang terjadi. Ketiga, pada proses kelahiran yang tidak didampingi, bayi bisa jatuh ke lantai dan mengalami cedera atau memerlukan resusitasi yang tidak segera tersedia (Sarwono, 2005).
6.      PENANGANAN
Kontraksi uterus spontan yang kuat dan tidak lazim, tidak mungkin dapat diubah menjadi derajat kontraksi yang bermakna oleh pemberian anastesi. Jika tindakan anastesi hendak dicoba, takarannya harus sedemikian rupa sehingga keadaan bayi yang akan dilahirkan itu tidak bertambah buruk dengan pemberian anastesi kepada ibunya. Penggangguan anastesi umum dengan preparat yang bisa mengganggu kemampuan kontraksi rahim, seperti haloton dan isofluran, seringkali merupakan tindakan yang terlalu berani. Tentu saja, setiap preparat oksitasik yang sudah diberikan harus dihentikan dengan segera. Preparat tokolitik, seperti ritodrin dan magnesium sulfat parenteral, terbukti efektif. Tindakan mengunci tungkai ibu atau menahan kepala bayi secara langsung dalam upaya untuk memperlambat persalinan tidak akan bisa dipertahankan. Perasat semacam ini dapat merusak otak bayi tersebut. (Sarwono, 2005).
ASUHAN KEBIDANAN PADA PERSALINAN PATOLOGIS
TERHADAP Ny. SM DENGAN PARTUS PRESIPITATUS / CEPAT
DI RB ASIH, SEKAMPUNG UDIK, LAMPUNG TIMUR

I.              PENGUMPULAN DATA DASAR (tanggal 24 November 2007)

A.     IDENTITAS

Nama Ibu     : Ny. SM                      Nama Suami    : Tn. SD
Umur            : 24 tahun                    Umur               : 27 tahun
Agama          : Islam                          Agama             : Islam
Pendidikan   : SMP                           Pendidikan       : SMA
Pekerjaan     : IRT                            Pekerjaan         : Wiraswasta
Alamat         : Sekampung Udik,      Alamat             : Sekampung Udik,
                       Lampung Timur                                   Lampung Timur

B.     KELUHAN UTAMA

Ibu G2P1A0 hamil 37 minggu, mengeluh mual/muntah, nyeri perut bagian bawah. Dari vagina mulai mengeluarkan lendir bercampur darah dan mengeluarkan air sedikit-sedikit.

C.     TANDA-TANDA PERSALINAN

Ibu datang pukul 10.00 WIB, dengan kontraksi uterus yang kuat dan lama, mengeluarkan lendir agak kecoklatan, ibu mengeluh nyeri yang amat sangat di punggung bagian bawah dan adanya dorongan untuk mengejan.

D.     PENGELUARAN PERVAGINAM

Lendir bercampur darah dan tidak ada pengeluaran air ketuban.

E.     RIWAYAT KEHAMILAN

Riwayat Haid
Menarche     = 13 tahun
Siklus           = 28 hari
Lamanya      = 5 – 7 hari
Keluhan       = tidak ada
Jumlahnya    = 2-3 × ganti pembalut
HPHT           = 17-02-2007
TP                = 24-11-2007

F.      PEMERIKSAAN KEHAMILAN

1.      Trimester I
ANC       : 2× di bidan
Keluhan : tidak ada
Anjuran  : banyak istirahat
Terapi     : berikan ibu vitamin C
2.      Trimester II
ANC       : 3× di puskesmas
Keluhan : ibu sering merasa pusing
Anjuran  : ANC secara teratur
Terapi     : berikan ibu tablet Fe 1×1 tab/hari
3.      Trimester III
ANC       : 2× di bidan
Keluhan : Ibu sering BAK
Anjuran  : ANC secara teratur
Terapi     : berikan ibu tablet Fe 1×1 tab/hari

G.    RIWAYAT HAMIL, BERSALIN DAN NIFAS YANG LALU

Hamil
Ke-
Tahun
Lahir
Lama dan Jenis
Persalinan
Penyulit
Komplikasi
Penolog
dan Tempat
BB/PB
Keadaan anak
1
2003
12 jam/ spontan pervaginam
Tidak ada
Bidan / RPS
3200 gr/ 50 cm
Sehat

H.    RIWAYAT IMUNISASI

1.      TT1 = Usia kehamilan 5 bulan di bidan
2.      TT2 = Usia kehamilan 6 bulan di bidan

I.       PERGERAKAN JANIN DALAM 24 JAM TERAKHIR

Ibu merasa gerakan janin sangat kuat dan aktif

J.      POLA KEBIASAAN SEHARI-HARI

1.      Nutrisi
a.       Sebelum hamil
Ibu makan 3× sehari dengan porsi 1 piring nasi, 1 potong lauk, 1 mangkok sayur, serta minum 7-8 gelas/hari.
b.      Saat hamil
Ibu makan dan minum seperti biasa hanya porsinya lebih banyak.
2.      Eliminasi
a.       Sebelum hamil         : BAB = 1-2× sehari
  BAK  = 2-6× sehari
b.      Saat hamil                : BAB = 1× sehari
  BAK = 8-10× sehari
3.      Istirahat dan tidur
a.       Sebelum hamil
Ibu tidur malam 7-8 jam/hari, tidur siang 2 jam
b.      Saat hamil
Istirahat dan tidur ibu kurang karena pegal pada pinggang, nyeri menjalar ke perut bagian bawah, dan sering BAK.

K.    PSIKOLOGIS

Ibu mengatakan takut dan cemas menghadapi persalinannya karena merasakan nyeri yang amat sangat.

L.     PEMERIKSAAN

1.      Keadaan Umum : Baik
Kesadaran          : Composmentis

2.      Tanda-tanda vital
TD          : 110/70 mmHg
Suhu       : 36,6 ºC
Nadi       : 80× /menit
RR          : 24× /menit
3.      a. Berat badan ibu          : sebelum hamil           = 46 kg
  setelah haim               = 57 kg
  kenaikan                    = 11 kg
b. Tinggi badan ibu        : 155 cm
c. LILA                                      : 26 cm
4.      Pemeriksaan Fisik
a.       Inspeksi
1.      Rambut           :  warna hitam, bersih, tidak rontok.
2.      Mata                : bentuk simetris, konjungtiva merah muda, sklera an ikterik, kelopak mata tidak oedeme.
3.      Muka              :  bentuk simetris, tidak pucat tidak ada cloasma gravidarum.
4.      Hidung            :  bentuk simetris, tidak ada pembesaran polip, fungsi penciuman normal, keadaan bersih.
5.      Mulut dan gigi :  bentuk simetris, tidak ada caries maupun stomatitis, keadaan mulut bersih, fungsi pengecapan baik, kebersihan cukup.
6.      Telinga            :  bentuk simetris, keadaan bersih, fungsi pendengaran baik.
7.      Leher              :  tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, tidak ada pembengkakan vena jugularis.
8.      Dada               :  bentuk simetris, putting susu menonjol, colostrum ada.
9.      Abdomen        :  terdapat strie livida, bentuk membesar, tidak ada luka bekas operasi.
10.  Payudara         :  membesar simetris kanan kiri, putting susu menonjol, hyperpigmentasi, tidak ada benjolan abnormal, colostrum belum keluar.
11.   Pinggang        :  keadaan lordosis.
12.  Genetalia         :  tidak ada haemoroid, vagina tidak ada varises maupun oedeme, pada perineum tidak ada bekas luka.
13.  Ekstrimitas
a.       Atas          :  Bentuk simetris, tidak ada cacat, tidak ada oedeme.
b.      Bawah       :  Bentuk simetris, tidak ada cacat, tidak ada oedeme, reflek patella (+).
14.  Rectum           :  Ibu mengatakan sudah BAB hari ini, keadaan rectum kosong, perineum melemas.
b.      Palpasi
1.      Leopold I         :              TFU     = 32 cm
TBJ      = (32-11) × 155 : 3255 gram
2.      Leopold II       :  Bagian kanan ibu teraba bulat, lebar dan keras yang berarti punggung dan bagian kanan teraba bagian-bagian kecil.
3.      Leopold III      :  Bagian bawah teraba bulat, keras, dan kepala sudah tidak bisa digoyang lagi.
4.      Leopold IV      :  Bagian bawah janin sudah masuk ke PAP/konvergen
c.       Auskultasi
DJJ terdengar jelas di bawah pusat sebelah kanan dengan frekuensi 138× /menit.
d.      Perkusi
Reflek patella (+) ada.
5.      Pemeriksaan dalam pukul 10.00 WIB
a.       Vulva/vagina       : slym ada
b.      Dinding vagina    : teraba rugae, tidak ada benjolan
c.       Promontorium     : tidak teraba
d.      Portio                   : tipis, pembukaan 3 cm
e.       Ketuban               : ada (+)
f.       Presentasi            : kepala
g.       Penurunan           : Hodge 1, 4/5
h.      His                       : ada         4 – 6 × setiap 10 menit
i.        Lama                   : 20-40 detik
j.        Perineum             : kaku

Pengawas Kala 1

Tanggal
Waktu
Pembukaan
Serviks
Kondisi Ibu
Kondisi Janin
Tekanan
Darah
Pols
RR
Temp.
Obat/ cairan yang diberikan
Urine
Kontraksi uterus/his
DJJ
Penurunan kepala
Ketuban/ penyusupan
24/11/07
10.00
3 cm
110/70
80
24
36,6 ºC
-
100 cc
Kekuatan sedang, lama 20-30× dalam 10 menit (4×/10 menit)
138 ×/menit (+)
4/5
4/0

10.30


80
22

-

Kekuatan sedang, lama 20-40× dalam 10 menit (4×/10 menit)
136 ×/menit (+)



11.00


82
22

-

Kekuatan sedang, lama 20-40× dalam 10 menit (4×/10 menit)
138 ×/menit


24/11/07
11.30


82
24

-

Kekuatan sedang, lama 20-40× dalam 10 menit (4×/10 menit)
140 ×/menit



12.00


80
20

-
150 cc
Kekuatan sedang, lama 20-40× dalam 10 menit (4×/10 menit)
138 ×/menit



12.30


82
22

-

Kekuatan sedang, lama 20-40× dalam 10 menit (4×/10 menit)
140 ×/menit



13.00


82
22

-

Kekuatan sedang, lama 20-40× dalam 10 menit (4×/10 menit)
142 ×/menit



13.30


80
24

-

Kekuatan sedang, lama 20-40× dalam 10 menit (4×/10 menit)
140 ×/menit



14.00
5 cm
120/80
80
22
37 ºC
-
150 cc
Kontraksi 4×/10 menit, lama 45 detik
142 ×/menit
3/5
4/0

II.           INTERPRETASI DATA DASAR

A.    Diagnosa

Ibu G2P1A0 hamil 37 minggu, janin hidup, tunggal, intrauterine, letak memanjang, presentasi kepala posisi puki, inpartu kala 1 fase laten.
Dasar :
1.      Ibu merasakan nyeri yang amat sangat
2.      Kontraksi uterus yang kuat
3.      Pembukaan 3 cm. Penurunan kepala pada Holdge 1 4/5, ketuban masih utuh.

B.     Masalah

1.      Gangguan rasa nyaman dikarenakan nyeri pinggang yang hebat
Dasar :   ibu mengatakan nyeri yang hebat di sekitar punggung bagian bawah, ibu selalu meringis kesakitan.
2.      Dikhawatirkan terjadi robekan jalan lahir karena perineum kaku.

C.    Kebutuhan

1.      Penyuluhan cara mengurangi rasa nyeri dan relaksasi
2.      Pemenuhan kebutuhan cairan dan nutrisi
3.      Persiapan heating jika terjadi robekan.


III.        IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL
A.    Potensial terjadinya partus cepat / presipitatus
Dasar :         Ibu G2P1A0, kontraksi uterus kuat, ketuban pecah pada pembukaan 8 cm, dan kepala telah seluruhnya masuk ke dalam PAP.
B.     Potensial terjadinya rupture uteri
Dasar : Kontraksi uterus yang hebat.
IV.        IDENTIFIKASI KEBUTUHAN TINDAKAN DAN KOLABORASI
A.    Persiapan heating set jika terjadi laserasi dan robekan jalan lahir
B.     Kolaborasi dengan dokter bila ada komplikasi pada kala 1 dan proses persalinan seperti rupture uteri.
V.           RENCANA MANAJEMEN
A.
1.
2.
3.
4.
Jelaskan pada ibu tentang kondisinya saat ini
Libatkan keluarga dalam memberikan dukungan psikologis
Observasi terus kemajuan persalinan
Segera siapkan ruangan bersalin, kebutuhan fisik dan psikologis ibu
B.
Penyuluhan cara mengedan efektif

1.
2.
3.
Jelaskan manfaat mengedan efektif
Ajarkan ibu cara mengedan efektif
Observasi cara mengejan ibu
C.
Penyuluhan mengatasi rasa nyeri

1.
2.
Jelaskan penyebab nyeri
Ajarkan cara mengatasi nyeri
D.
Pemenuhan kebutuhan cairan dan nutrisi


VI.        IMPLEMENTASI LANGSUNG
A.
1.
Menjelaskan pada ibu tentang kondisi ibu saat ini
Keadaan ibu baik, ibu tampak gelisah dan cemas menghadapi persalinan.

2.
Memberi ibu dukungan psikologis
Menjelaskan bahwa ibu bisa melewati persalinan ini dengan lancar, memberikan support pada ibu, dan mendampingi ibu dalam persalinan, serta menghadirkan keluarga yang paling dekat dengan ibu sebagai pendamping ibu dalam bersalin.

3.
Mempersiapkan ruang untuk bersalin, alat, kebutuhan fisik, dan psikologis ibu serta persiapan bidan/penolong


a)
Memastikan kelengkapan jenis dan jumlah bahan-bahan yang diperlukan serta dalam keadaan siap pakai pada setiap persalinan dan kelahiran bayi. Siapkan ruang bersaling yang hangat dan bersih. Memiliki sirkulasi udara yang baik dan terlindung dari tiupan angin.


b)
Periksa semua peralatan sebelum dan setelah memberikan asuhan. Segera ganti peralatan yang hilang atau rusak.


c)
Menganjurkan ibu untuk mendapat asupan (makanan ringan dan minuman air) selama persalinan dan proses kelahiran bayi.


d)
Memberi dukungan pada ibu, pada proses persalinan.

4.
Mengobservasi kala 1 dengan partograf.

B.
Mengajarkan pada ibu mengenai cara mengedan yang efektif

1.
Menganjurkan ibu untuk meneran mengikuti dorongan alamiahnya selama kontraksi

2.
Memberitahukan untuk tidak menahan nafas saat meneran.

3.
Meminta ibu untuk berhenti meneran dan beristirahat di antara kontraksi.

4.
Menjelaskan pada ibu bahwa berbaring miring atau setengah duduk ia akan lebih mudah untuk meneran jika lutut ditarik ke arah dada dan dagu ditempelkan ke dada.

5.
Meminta ibu untuk tidak mengangkat bokong saat meneran.

6.
Tidak diperbolehkan untuk mendorong fundus untuk membantu kelahiran bayi.

7.
Menanyakan pada ibu apakah sudah mengerti dengan penjelasan cara mengedan efektif.

C.
Mengajarkan ibu untuk mengatasi rasa nyeri

1.
Menganjurkan ibu untuk miring
Anjurkan ibu untuk mencoba posisi-posisi yang nyaman selama persalinan dan melahirkan bayi serta anjurkan suami dan pendamping lainnya untuk membantu ibu berganti posisi. Ibu boleh berjalan, berdiri, duduk, jongkok, berbaring miring dan merangkak.
Posisi tegak seperti berjalan, berdiri atau jongkok dapat membantu turunnya kepala bayi dan seringkali memperpendek waktu persalinan. Bantu ibu untuk sering berganti posisi selama persalinan.

2.
Mengajarkan teknik relaksasi
Menganjurkan ibu untuk duduk santai, menarik nafas, berendam, mendengarkan musik.
D.
Memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi

1.
Pemberian cairan infus RL dengan 20 tetes/menit
Pasang infus menggunakan jarum diameter besar (ukuran 16 atau 18) dan berikan RL dan NS. Infuskan 1 liter dalam 15 sampai 20 menit. Jika mungkin infuskan 2 L dalam waktu satu jam pertama, kemudian turunkan ke 125 cc/jam.

2.
Pemberian obat ampicilin 1 mg atau menurut advis dokter berikan ampisilin 2 gr atau amoksilin 2 gr per oral.
VII.     EVALUASI
1.      Ibu mengerti dengan kondisinya saat ini bahwa ia segera memasuki proses persalinan.
2.      Ibu mengerti tentang apa yang di jelaskan oleh bidan, seperti :
a.       Cara mengejan yang efektif
b.      Cara mengurangi rasa nyeri
3.      Alat-alat persalinan telah siap
4.      Ibu sudah ditempatkan dalam ruangan persalinan
5.      Kebutuhan nutrisi telah terpenuhi.

KALA II         pukul 18.00
S
:
Ibu mengatakan seperti ingin BAB dan keluar lendir bercampur darah dari kemaluannya.
O
:
a)
Keadaan umum           : Baik
Kesadaran                   : Composmentis


b)
Tanda-tanda vital :
TD       : 120/80 mmHg
Nadi    : 82 ×/menit
RR       : 26 ×/menit
Suhu    : 37 ºC


c)
DJJ      : 142 ×/menit


d)
HIS                 : ada 5×10 menit
Lamanya         : 50 detik


e)
Hasil pemeriksaan dalam
Portio tidak teraba, pembukaan 8 cm, presentasi kepala, penurunan kepala hodge IV pukul 18.00
A
:
1.
Diagnosa
G2P1A0 hamil aterm, dari vagina keluar lendir berwarna kecoklatan bercampur darah dan air, janin tunggal, hidup, intrauterin, inpartu kala II dengan fundus presipitutus.


2.
Masalah
Ibu cemas menghadapi persalinan karena pembukaan serviks belum lengkap.
P
:
1.
Jelaskan pada ibu bahwa ia memasuki kala II atau kala pengeluaran, jelaskan pada ibu bahwa ibu ……. bahwa dengan partus cepat ibu dapat memasuki kala II. Bila kepala telah sepenuhnya masuk ke dalam PAP, dan ketuban telah pecah. Walaupun pembukaan serviks belum lengkap, persalinan dapat berlangsung dengan adanya kontraksi yang kuat.


2.
Pantau persalinan kala II
Kondisi ibu, bayi dan kemajuan persalinan harus selalu dipantau secara berkala dan ketat selama berlangsungnya kala dua persalinan.
Pantau, periksa dan catat :
1)      Nadi ibu setiap 30 menit
2)      Frekuensi dan lama kontraksi setiap 30 menit
3)      DJJ setiap selesai meneran atau setiap 5-10 menit
4)      Penurunan kepala bayi setiap 30 menit melalui pemeriksaan abdomen (periksa luar) dan periksa dalam setiap 60 menit atau jika ada indikasi, hal ini dilakukan lebih cepat.
5)      Warna cairan ketuban jika selaputnya sudah pecah (jernih atau bercampur mekonium atau darah)
6)      Apakah ada presentasi majemuk atau tali pusat di samping atau terkemuka
7)      Putaran paksi luar segera setelah kepala bayi lahir
8)      Kehamilan kembar yang tidak diketahui sebelum bayi pertama lahir
9)      Catatkan semua pemeriksaan dan intervensi yang dilakukan pada catatan persalinan.


3.
Atur posisi ibu senyaman mungkin
Bantu ibu untuk memperoleh posisi yang paling nyaman. Ibu dapat mengubah-ubah posisi secara teratur selama kala dua, karena hal ini dapat membantu kemajuan persalinan. Mencari posisi meneran yang paling efektif dan menjaga sirkulasi utera. Plasenta tetap baik.
Posisi duduk atau setengah duduk dapat memberikan rasa nyaman bagi ibu dan memberi kemudahan baginya untuk beristirahat di antara kontraksi. Keuntungan dari kedua posisi ini adalah gaya grafitasi untuk membantu ibu melahirkan bayinya. Selain itu mengubah posisi juga dapat mengurangi nyeri.


4.
Penuhi kebutuhan cairan dan nutrisi
Anjurkan ibu untuk mendapat asupan (makanan ringan dan minum air) selama persalinan dan proses kelahiran bayi. Sebagian ibu masih ingin makan selama fase laten persalinan tetapi setelah memasuki fase aktif, mereka hanya ingin mengkonsumsi cairan saja. Anjurkan agar anggota keluarga sesering mungkin menawarkan minum dan makanan ringan selama proses persalinan. Pasang infus untuk menghindari ibu kehabisan tenaga saat meneran bila ibu tidak mau makan dan minum, atau makan dan minum tetapi dalam jumlah yang sangat sedikit.


5.
Anjurkan ibu untuk meneran setiap ada His
Jika ibu tetap ada dorongan untuk meneran setelah 60 menit setelah kepala bayi seluruhnya masuk ke dalam PAP dan ketuban telah pecah anjurkan ibu untuk meneran disetiap puncak kontraksi.


6.
Observasi tanda-tanda vital, DJJ dan pengeluaran pervaginam
a.       Nadi ibu setiap 30 menit
b.      Frekuensi dan lama kontraksi setiap 30 menit
c.       DJJ setiap selesai meneran atau setiap 5-10 menit
d.      Penurunan kepala bayi setiap 30 menit melalui pemeriksaan abdomen (periksa luar) dan periksa dalam setiap 60 menit atau jika ada indikasi, hal ini dilakukan lebih cepat.


7.
Lakukan pertolongan asuhan persalinan normal dengan teknik septik dan aseptik


8.
Berikan dukungan pada ibu baik mental dan spiritual, dan anjurkan suami untuk mendampingi ibu


9.
Menolong melahirkan kepala, bahu, badan.
a.       Bayi lahir dengan partus presipitatus pukul 18.30 WIB
b.      Jenis kelamin : laki-laki; BB : 3300 gr; PB = 52 cm.
c.       Apgar score : 8/9


10.
Palpasi, bayi tunggal

KALA III       pukul 18.30 WIB
S
:
a.
b.
Ibu merasa bahagia, karena bayi sudah lahir dengan selamat
Ibu mengatakan perutnya masih mulas.
O
:
a.
Keadaan umum           : Baik
Kesadaran                   : Composmentis


b.
Periksa tanda-tanda vital
TD       : 110/70 mmHg
Nadi    : 82 ×/menit
RR       : 20 ×/menit
Suhu    : 36,8 ºC


c.
Pada palpasi didapat uterus teraba bulat dan keras.
TFU 2 jari di bawah pusat, kontraksi uterus baik, tidak ada bayi ke-2


d.
Planceta belum lahir


e.
Tali pusat bertambah panjang.
A
:
a.
Diagnosa
P2A0 à Partu kala III
Dasar : ibu melahirkan anak ke-2, bayi lahir pukul 18.30 WIB, BB : 3300 gr, jenis kelamin laki-laki


b.
Masalah           : Potensial terjadi retensio placenta
Dasar               : Placenta belum lahir


c.
Kebutuhan      : Management aktif kala III
P
:
a.
Lakukan pengawasan kala III
Otot uterus (miometrium) berkontraksi mengikuti penyusutan volume rongga uterus setelah lahirnya bayi. Hal ini menyebabkan berkurangnya ukuran tempat placenta. Karena tempat perlekatan menjadi semakin kecil, sedangkan ukuran placenta tidak berubah maka placenta akan terlibat, menebal dan kemudian lepas dari dinding uterus.


b.
Lakukan vulva hygiene
Vulva hygiene ibu dari labia mayora dari atas ke bawah 1× usap, apabila belum bersih ulangi lagi. Bersihkan labia minora dari atas ke bawah 1× usap dan bersihkan dari bestibulum ke anus 1× usap.


c.
Lakukan managemen aktif kala III
1.      Pemberian suntikan oksitosin dalam 1 menit pertama setelah bayi lahir
2.      Penegangan tali pusat terkendali
3.      Masae fundus uteri, selama 15 detik setelah plasenta lahir
Placenta lahir pukul 18.45 WIB
Berat placenta : 500 gram
Panjang tali pusat : 15 cm.


d.
Awasi perdarahan dan tanda-tanda vital, kontraksi uterus
1.      Pantau nadi ibu setiap 30 menit
2.      Pantau frekuensi dan lama kontraksi setiap 30 menit
3.      Masase fundus selama 15’


e.
Periksa robekan jalan lahir dan perdarahan


f.
Terjadi robekan jalan lahir derajat 2
Lakukan tindakan heating.

I.              Mempersiapakan  Penjahitan
1.      Bantu ibu mengambil posisi litotomi sehingga bokongnya berada di tepi tempat tidur / meja. Topang kakinya dengan alat penopang atau minta anggota keluarga untuk memegang kaki ibu sehingga ibu tetap berada dalam posisi litotomi.
2.      Tempatkan handuk / kain bersih di bawah bokong ibu
3.      Jika mungkin, tempatkan lampu sedemikian rupa sehingga perinium bisa dilihat dengan jelas.
4.      Gunakan teknik aseptik pada memeriksa robekan / episiotomi.
5.      Cuci tangan menggunakan sabun dan air bersih yang mengalir.
6.      Pakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril.
7.      Dengan menggunakan teknik aseptik, persiapkan peralatan dan bahan-bahan disinfeksi tingkat tinggi untuk penjahitan.
8.      Duduk dengan posisi santai dan nyaman sehingga luka bisa dengan mudah dilihat dan penjahitan bisa dilakukan tanpa kesulitan.
9.      Gunakan kain / kasa disinfeksi tingkat tinggi atau bersih untuk menyeka vulva, vagina dan perineum ibu dengan lembut, bersihkan darah atau bekuan darah yang ada sambil menilai dalam dan luasnya luka.
10.  Periksa vagina, serviks dan perineum secara lengkap. Hanya merupakan derajat I atau II
11.  Ganti sarung tangan dengan sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril yang baru setelah melakukan pemeriksaan rektum.
II.           Memberikan Anastesi Lokal
1.      Jelaskan pada ibu bahwa akan dilakukan anastesi lokal dan bantu ibu merasa santai.
2.      Hisap 10 ml larutan lidokain 1% ke dalam alat suntik sekali pakai ukuran 10 ml. Jika lidokain 1% tidak tersedia, larutkan 1 bagian 2% dengan 1 bagian normal salin atau air steril yang sudah disuling.
3.      Tempelkan jarum ukuran 22 sepanjang 4 cm ke tabung suntik tersebut.
4.      Tusukkan jarum ke ujung atau pojok laserasi atau sayatan luka tarik jarum sepanjang tepi luka (ke arah bawah di antara mukosa dan kulit perineum).
5.      Aspirasi (tarik pendorong tabung suntik) untuk memastikan bahwa jarum tidak berada di dalam pembuluh darah. Jika darah masuk ke tabung suntik, jangan suntikkan lidokain dan tarik jarum seluruhnya. Pindahkan posisi jarum dan suntikkan kembali. Alasan: ibu bisa mengalami kejang dan kematian bisa terjadi jika lidokain disuntikkan ke pembuluh darah.
6.      Suntikan anastesi sejajar dengan permukaan luka pada saat jarum suntik ditarik perlahan-lahan.
7.      Tarik jarum hingga sampai ke bawah dimana jarum tersebut disuntikkan.
8.      Arahkan lagi jarum ke daerah di atas tengah luka dan ulangi langkah ke-4 sehingga tiga garis disatu sisi luka mendapatkan anastesi lokal. Ulangi proses ini disisi lain dari luka tersebut. Setiap sisi luka akan memerlukan kurang lebih 5 ml lidokain 1% untuk mendapatkan anasetesia yang cukup.
9.      Tunggu selama dua menit dan biarkan anastesia tersebut bekerja, kemudian uji daerah yang dianastesi dengan cara dicubit dengan forceps/disentuh dengan jarum yang tajam. Jika ibu merasakan jarum atau cubitan tersebut, tunggu dua menit lagi dan kemudian uji kembali sebelum mulai menjahit luka. 
III.        Penjahitan Laserasi pada Perineum
1.      Cuci tangan secara seksama dan gunakan sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril. Ganti sarung tangan jika sudah terkontaminasi atau jika tertusuk jarum maupun peralatan tajam lainnya.
2.      Pastikan peralatan dan bahan-bahan yang digunakan untuk melakukan penjahitan sudah didesenfeksi tingkat tinggi atau steril.
3.      Setelah memberikan anestesia lokal dan memastikan bahwa daerah tersebut sudah dianastesi, telusuri dengan hati-hati menggunakan satu jari untuk secara jelas menentukan batas-batas luka. Nilai kedalaman luka dan lapisan jaringan mana yang terluka. Dekatkan tepi laserasi untuk menentukan bagaimana cara menjahitnya menjadi satu dengan mudah.
4.      Buat jahitan pertama kurang lebih 1 cm di atas ujung laserasi di bagian dalam vagina. Setelah membuat tusukan pertama, buat ikatan dan potong pendek benang yang lebih pendek dari ikatan.
5.      Tutup mukosa vagina dengan jahitan jelujur, jahit ke bawah ke arah cincin himen.
6.      Tepat sebelum cincin himen, masukkan jarum ke dalam mukosa vagina lalu ke bawah cincin himen sampai jarum ada di bawah laserasi. Periksa bagian antara jarum diperineum di bagian atas laserasi. Perhatikan seberapa dekat jarum ke puncak luka.
7.      Teruskan ke arah bawah tapi tetap pada luka, menggunakan jahitan jelujur, hingga mencapai bagian bawah laserasi. Pastikan bahwa jarak setiap jahitan sama dan otot yang terluka telah dijahit. Jika laserasi meluas ke dalam otot, mungkin perlu untuk melakukan satu atau dua lapis jahitan terputus-putus untuk menghentikan perdarahan dan/atau mendekatan jaringan tubuh secara efektif.
8.      Setelah mencapai ujung laserasi, arahkan jarum ke atas dan teruskan penjahitan menggunakan jahitan jelujur untuk menutup lapisan subkuticuler. Jahitan ini akan menjadi jahitan lapis kedua. Periksa lubang bekas jarum tetap terbuka berukuran 0,5 cm atau kurang. Luka ini akan menutup dengan sendirinya pada saat penyembuhan luka.
9.      Tusukkan jarum dari robekan perineum ke dalam vagina.
Jarum harus keluar dari belakang cincin himen.
10.  Ikat benang dengan membuat simpul di dalam vagina. Potong ujung benang dan sisakan sekitar 1,5 cm. Jika ujung benang dipotong terlalu pendek, simpul akan longgar dan laserasi akan membuka.
11.  Ulangi pemeriksaan vagina dengan lembut untuk memastikan bahwa tidak ada kasa atau peralatan yang tertinggal di dalam.
12.  Dengan lembut masukkan jari paling kecil ke dalam anus. Raba apakah ada jahitan pada rektum. Jika ada jahitan yang teraba, ulangi pemeriksaan rektum enam minggu pasca persalinan. Jika penyembuhan belum sempurna ibu segera dirujuk ke fasilitas kesehatan rujukan.
13.  Cuci daerah genital dengan lembut dengan sabun dan air disinfeksi tingkat tinggi, kemudian keringkan. Bantu ibu mencari posisi yang lebih nyaman.
14.  Nasehati ibu untuk :
a.       Menjaga perineumnya selalu bersih dan kering
b.      Hindari penggunaan obat-obatan tradisional pada perineumnya
c.       Cuci perineumnya dengan sabun dan air bersih yang mengalir tiga sampai empat kali perhari.
d.      Kembali dalam seminggu untuk memeriksa penyembuhan lukanya, ibu harus kembali lebih awal jika ia mengalami demam atau mengeluarkan cairan yang berbau busuk dari daerah lukanya atau jika daerah tersebut menjadi lebih nyeri.

KALA IV       pukul 18.45
S
:
a.
b.
c.
Ibu bahagia karena bayinya sudah lahir dengan selamat
Ibu merasa lebih tenang, karena placenta sudah lahir
Ibu mengatakan perutnya masih mulas dan pedih pada jalan lahir.
O
:
a.
Keadaan umum           : Baik
Kesadaran                   : Composmentis



b.
Tanda-tanda vital
TD       : 110/70 mmHg
Nadi    : 84 ×/menit
RR       : 22 ×/menit
Suhu    : 36,7 ºC


c.
TFU 1 jari di bawah pusat, kontraksi uterus baik


d.
Pengeluaran pervaginam, lochea alba, dan ASI keluar lancar


e.
Eliminasi         BAB    = 1× sehari
                        BAK   = 3-4× sehari
A
:
a.
Diagnosa
P2A0 partu kala IV


b.
Masalah
Gangguan rasa nyaman dengan adanya nyeri pada jalan lahir


c.
Kebutuhan
Personal hygiene ibu dan pemenuhan nutrisi dan cairan
P
:
1.
Observasi keadaan umum ibu untuk mengetahui perkembangan kesehatan ibu dan bayi secara berkala minimal 3 kali pada masa nifas, 2 jam segera setelah partu kala III, 3 hari setelah partus, dan seminggu setelah partus.
a.       Observasi keadaan umum
b.      Periksa kontraksi pada fundus, perdarahan dan tanda-tanda vital
c.       ASI sudah keluar lancar
  1. Kontraksi uterus          : baik
  2. Perdarahan                  : normal
  3. TTV normal, tidak ada yang dikhawatirkan
d.      Lochea alba sampai dengan 1 minggu post partum


DAFTAR PUSTAKA

Sarwono, Prawiroharjo, 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBP
Cunningham, F. Gary, 1995. Obstetri Williams. Jakarta : EGC
Doenges, Marilynn E. 2001. Rencana Keperawatan. Jakarta : EGC
Azwar, Azrul, 2007. Asuhan Persalinan Normal. Jakarta : JNPK-KR/POGI

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:
Free Blog Templates